Di dalam kamarnya, Vena tengah sibuk menyiapkan barang – barang yang akan ia bawa ke sekolah. Berbagai barang telah berjajar rapi di atas karpet kamarnya. Ia terlihat bingung dengan beberapa clue yang diberikan oleh kakak osisnya.
Dengan langkah gusar ia berdiri dan keluar kamarnya. Menghampiri Mia yang tengah bermain ponsel di ruang keluarga.
“Ma,” rengeknya pada Mia.
“Hem?” jawab Mia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Bantuin.”
“Kenapa sih?” tanya Mia.
“Ini barang apa sih? Aku nggak tahu,” ucapnya dengan menunjukkan buku catatannya.
Mia membaca catatan itu yang berisi barang bawaan yang harus dibawa putrinya besok.
“Yang udah aku centang itu udah aku siapin.”
“Rumput Jepang itu yang kayak gimana sih, Ma rumputnya? Kita punya tanemannya gak? Mana udah malem lagi mau cari di mana? Besok kalo gak pakai gelang rumput Jepang aku pasti di hukum. Mana ada juga warnanya pink.”
“Ya beli di toko depan sana, Ven.”
“Di toko depan jual rumput Jepang, Ma? Wih diimport langsung dari Jepang?” tanya Vena tak percaya. Krena toko yang dimaksud sang mama hanyalah sebuah toko kelontong kecil yang menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Hahahaha, ya enggak, Ven. Rumput Jepang itu setahu Mama ya tali rafia. Coba aja sana beli. Bilang ke penjualnya beli rumput Jepang, nanti pasti kamu bakal di kasih tali rafia.”
“Awas ya kalau Mama bohong.” Vena menudingkan bulpoin yang digenggamnya tepat ke arah Mia, mencoba mengintimidasi.
“Ya udah, terserah kamu kalau gak percaya sama Mama.” Mia mengabaikan anak gadisnya. Kembali menekuni ponselnya.
“Terus kerupuk hitam itu gimana, Ma? Mama pernah lihat kerupuk yang warnanya hitam?”
“Gak pernah sih.”
“Kalau misal kerupuknya di warna hitam pasti nanti melempem ya, Ma. Kan kena air.”
“Iya sih. Coba aja tanya di toko juga nanti. Apa lagi yang belum? Permen Cium? Apa itu?
“Ya ampun Mama! Permen kiss ituloh, kan kiss bahasa Indonesianya cium.”
“Oh. Nasi matahari?”
“Kata temen – temen itu mereknya beras, Ma. Kita janjian bawa nasi putih biasa aja. Kan kakak osisnya gak tahu itu beras matahari atau bukan kalau udah mateng.”
“Oke. Lalu? Telor mata sapi gak boleh pecah? Tempe goreng ukuran dua cm? Tahu bentuk jajar genjang? Ini mah nyusahin Mama. Mana mungkin kamu nyiapin bekal ginian sendiri.”
“Mama kan terbaik di dunia, Mama aku yang paling cantik, paling baik, paling spesial lah pokoknya.”
“Halah. Kalau ada maunya aja muji – muji Mama.”
“Sama satu lagi, Ma. Teh botol dalam kotak kotak itu gimana?”
“Ya minuman teh di botol dikantongin gitu kali, Ven. Gak tau ini Mama.”
“Apa yang mereknya itu tapi kemasan kotak gitu kali ya, Ma?”
“Ya kalau memang ada yang kayak gitu ya cari aja.”
“Minta uang buat ke toko depan.” Vena menodongkan tangannya meminta uang pada Mia.
Setelah menerima selembar uang dua puluh ribuan, Vena beranjak dari duduknya dan pergi ke toko di dekat rumahnya.
******
Pagi ini Vena telah siap dengan atribut yang akan menemaninya menjalani PLS. Sebuah papan nama yang dihias cantik siap ia kenakan. Ditatanya semua perlengkapan di meja ruang tamu, sambil menunggu Mia yang sedang menyiapkan bekal untuknya.
“Ini bekalnya, kalo kakak osismu gak percaya itu tempenya ukuran dua centi nanti suruh ukur pake penggaris,” ucap Mia mengulurkan tepak bekal pada Vena.
“Iya, Ma. Nyusahin aja. Ini berangkatnya Mama yang anter aku?” tanya Vena.
“Iya, tapi nanti pulangnya Mama gak bisa jemput. Kamu pakai ojek online aja, atau minta anterin temenmu yang kemarin.”
Vena memutar bola matanya jengah. Mana mungkin ia akan meminta antar pulang Naren lagi. Memikirkan hari ini ia harus bersikap bagaimana kepada laki –laki itu saja ia masih bingung. Mungkin ia akan memilih opsi kedua dari pada meminta Naren mengantarkannya pulang.
“Ya udah ayo berangkat, udah kesiangan. Nanti aku telat.”
Ibu dan anak itu berjalan beriringan keluar rumah. Vena membantu membuka pintu gerbangnya sementara Mia sudah berada di dalam mobilnya dan siap mengantarkan anak semata wayangnya berangkat ke sekolah.
Vena menutup kembali pagar rumahnya dan tak lupa mengunci gemboknya karena di rumah besar itu tak ada orang. Ia masuk ke kursi penumpang di samping Mia dang meletakkan kunci genmbok di dashboard. Selama perjalanan obrolan dan candaan mereka hampir tak pernah terputus. Ada saja obrolan yang memperlihatan kedekatan dan keakraban ibu dan anak itu.
*****
“Mas Naren, ini bekalnya sesuai dengan yang Mas bilang semalam.” Bi Munah mengulurkan kotak bekal pada Naren yang hendak berangkat.
“Makasih,” ucap Naren dengan menerima kotak bekal itu.
“Maaf Mas, Bibi cuma bisa menyiapkan itu, sama rumput Jepangnya juga sudah saya masukkan di kantong itu. Sama ada kerupuk blek Bibi masukkan plastik biar gak melempem. Yang lainnya Bibi ndak tahu,” kata Bi Munah menyesal karena tidak bisa memenuhi kebutuhan tuannya.
“Iya.”
“Hati-hati, Mas.”
Setelah memasukkan bekalnya ke dalam tas, ia segera berangkat dengan mengendari motor sport yang telah menjadi tungganggannya semenjak kelas tiga SMP.
Sampai di sekolah ia memarkirkan motornya di parkiran paling ujung. Ia berjalan sendirian tanpa mempedulikan beberapa anak yang diam – diam memperhatikannya. Lebih tepatnya para siswi perempuan yang berada di sana.
“Sendirian aja?” sapa Al yang juga baru memarkirkan motornya menyapa Naren.
Mereka beruda berjalan beriringan menuju kelasnya di lantai dua. Di dalam kelas sudah ada beberapa siswa yang datang. Mereka terlihat tengah mencocokkan barang – barang yang dibawanya dengan teman yang lain. Memastikan barang bawaannya sudah betul atau belum.
“Udah bawa atributnya?” tanya Al yang melihat Naren biasa – biasa saja.
“Udah.”
“Dapat semua?”
“Hem.” Al menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Naren yang sangat minim itu.
“Asti! Ara! Barang kalian lengkap?” teriak Vena begitu memasuki ruang kelas.
“Entahlah aku gak yakin,” jawab Ara.
“Aku lengkap dong. Kerupuk hitam aja aku dapat. Nih lihat!” Asti mengangkat plastik bening yang berisikan kerupuk yang berwarna hitam.
“Gimana caranya bisa hitam gitu?” tanya Vena penasaran.
“Asti gitu. Aku kan pinter, jadi aku suruh pembantu aku ngasih pwarna makanan di minyak yang buat goreng. Terus kerupuk yang warnanya putih itu digoreng lagi jadi item deh,” jawabnya jumawa.
“Kok gak kepikiran gitu ya. Aku cuma bawa kerupuk biasa yang ada di warung – warung aja ini,” tutur Vena lesu.
“Gak papa. Aku juga. Aku kira kerupuk hitam itu kerupuk yang dijual di warung yang diwadahi toples besar itu,” kata Ara.
“Kalau rumput Jepang?” tanya Ara.
“Tali rafia kan?” Vena memastikan yang diangguki Ara.
“Syukurlah, Semalam aku ke toko bilang beli rumput Jepang dikasih tali rafia,” cerita Vena pada keduanya.
“Pagi gaes!” seru Putra saat memasuki kelas. Ia berjalan dengan gaya tengilnya melewati bangku Vena dan kedua temannya. Dengan pedenya Putra memberikan kecupan jauh kea rah mereka bertiga. Vena dan Ara saling berpandangan melihat tingkah putra. Sedangkan Asti bergidik ngeri sambil mengibas-kibaskan tangannya mengusir Putra.
TEEEETTTTT!
“Perhatian! Semua siswa kelas X harap segera berbaris di lapangan sesuai kelasnya! Jangan lupa mengenakan atribut papan nama kalian masing – masing dan gelang rumput Jepang sesuai warna yang telah di tentukan untuk masing – asming jurusan!” Suara bel dan pengumuman yang menggema di ruang kelas.
Anak – anak yang berada di dalam kelas berhamburan kembali ke bangku masing – masing untuk mengambil papan nama dan gelang rumput Jepang. Satu persatu anak – anak meninggalkan kelas Vena, Asti dan Ara juga ikut bersama yang lainnya meninggalkan kelas menuju ke lapangan.
Kegiatan hari ini dimulai dengan apel pagi. Dari pukul 07.30 WIB apel dimulai hingga pukul 09.00 WIB apel selesai dilaksanakan. Banyak anak – anak yang mengeluh lelah berdiri hampir dua jam lamanya. Keringat bercucuran di dahi mereka. Vena sesekali mengipas – kipas wajahnya dengan tangan. Wajahnya yang putih berubah kemerahan karena terik sinar matahari yang menyengat kulit.
Di samping kananya, Asti juga melakukan hal yang sama. Berkali – kali ia juga mengeluh lelah dan menggerutu mengumpati Pembina upacara yang tengah menyampaikan amanatnya.
“Itu mulut kok gak berbusa sih dari tadi ngomong gak selesai – selesai,” gerutu Asti yang masih terdengar oleh Vena dan Ara.
“Sttt. Nanti kedengeran kakak osis kita kamu di hokum,” bisik Ara yang berdiri di belakang Asti.
“Pembina upacara meninggalkan lapangan.” Suara pembawa acara membacakan susunan acara.
“Pasukan dibubarkan.” Helaan napas lega terdengar dari siswa kelas X. Beberapa siswa mendudukkan dirinya dan meluruskan kakinya di tengah lapangan setelah pemimpin upacara memberi aba – aba untuk bubar. Banyak juga dari mereka yang menghambur ke kantin untuk membeli minuman dingin. Termasuk juga di antaranya Vena dan kedua temannya. Juga Naren, Al, serta Putra yang berjalan di belakang Vena menunju ke kantin.
“Pengumuman untuk semua siswa kelas X, silahkan memasuki kelas untuk mendapatkan instruksi dari anggota osis yang mendampingi di kelas masing-masing.” Terdengar pengumuman dari pengeras suara yang menggema di lapangan.
“Belum juga dapat minuman udah disuruh masuk,” gerutu Vena.
“Gak papa kita beli aja nanti diminum sambil jalan. Itu banyak juga kok yang masih pada beli. Nah itu ketua kelas kita juga masih ngantre,” tunjuk Asti pada gerombolan laki – laki yang berada di dekat mereka mengantre.
“Aku nitip aja deh, aku kok tiba – tiba pusing ini,” ucap Vena merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Mungkin efek terlalu lama berdiri dan kepanasan.
“Ya udah kamu munduran aja tunggu di deket pintu sana aja,” kata Ara yang berada di belakang Vena.
Vena menyetujuinya. Ia mengulurkan uang sepuluh ribu pada Ara untuk membayar minumannya. Ia berjalan menuju pintu penghubung antara bangunan kantin dan gedung kelas.
“Naren?” sapanya pada teman sekelasnya yang tengah bersandar di tembok dengan memainkan ponselnya. Satu kakinya bertumpu pada tembok serta satu tangannya masuk ke dalam saku celana abu – abunya. Paenampilannya sungguh keren di mata Vena.
Sekilas Naren melihat orang yang memanggil namanya. Lalu ia kembali menundukkan kepalanya memandang ponselnya. Tak mempedulikan Vena yang notabene adalah teman sekelasnya.
“Buat kemarin... maaf, dan makasih ya,” ucap vena ragu – ragu. Remaja laki – laki itu kembali mengangkat wajahnya dan memandang Vena dengan alis terangkat sebelah.
“Maaf buat kejadian yang aku gak sengaja nabrak kamu terus bibir kamu berdarah, dan makasih udah nganterin aku pulang.” Vena memperjelas ucapannya.
“Ya.” Hanya satu kata itu yang lolos dari mulut laki – laki dingin sedingin kulkas dua pintu itu.
Vena mencebik kesal mendengar jawaban Naren. “Dasar kulkas dua pintu, pantesan dingin terus,” desisi Vena. Naren yang tepat berada disampingnya masih mendengar jelas gerutuan Vena, tetapi ia diam tak mempermasalahkannya.
“Naren! Kamu ngapain berdua – duan sama Vena di sini?” pekik Asti yang baru saja datang.
“Vena! Kamu gak lagi pedekate sama Naren kan! Kamu jangan sampai ya nikung aku! Kamu kan tahu aku udah suka sama Naren sejak kemarin di pandangan pertama aku ke dia!” kata Asti dengan nada yang cukup tinggi.
“Asti, malu tahu. Ada Narennya tuh,” bisik Ara.
“Naren, kamu jangan deket – deket sama cewek lain ya. Kamu Cuma boleh deket sama aku yang akan jadi pacar kamu Nanti,” ucapnya pada Naren dengan nada genit.
Venda dan Ara hanya terbengong-bengong melihat keagresifan temannya itu. Buru – buru Ara menarik lengan Asti dan membawanya ke kelas.
“Ara ngapain sih tarik-tarik tangan aku!” seru Asti kesal dengan melepaskan genggaman tangannya dari Ara.
“Asti jangan ganjen gitu deh, yang ada ntar Naren ilfeel sama kamu,” nasihat Ara yang sebenarnya memang benar. Sayangnya yang diberi nasihat justru tidak mau mendengarkan.
“Sekarang tuh jamannya emansipasi wanita, jadi gak masalah dong cewek nyatain perasaannya ke cowok duluan,” bantahnya.
Ara hanya menghela napas kasar tak mau menanggapi ucapan Asti. Sementara Vena hanya diam melihat tingkah Asti. Pikirannya berkelana kemana – mana. Dalam benaknya bertanya – tanya bagaimana nanti kalau Asti tahu Naren mengantarkannya pulang kemarin? Pasti temannya itu akan sangat marah padanya. Berdiri berdampingan dengan Naren saja Asti sudah seperti itu sikapnya. Memikirkan itu membuat kepalanya semakin terasa sakit. Biarlah, biar yang kemarin menjadi rahasianya saja.
“Ven! Vena!” tegur Ara.
“Eh – apa, Ra?” tanya Vena terkejut.
“Kamu kenapa? Ini minummu. Apa kamu masih pusing?” tanya Ara dengan mengulurkan botol minumna untuk Vena.
“Makasih. Iya, ini kepala aku malah pusing banget rasanya,” keluh Vena sambil memijit pelipisnya.
“Ya udah. Buruan duduk, apa perlu istirahat di UKS?”
“Nggak deh. Aku buat duduk aja. Muhkin kecapekan berdiri lama tadi sama kepanasan juga.”
Asti masih kesal dengan Vena hanya karena Vena berdiri bersebelahan dengan Naren. Ia tak mau menegur atau menanyakan keadaan Vena meski ia tahu temannya itu mengeluh pusing.
“Asti, sorry kalau kamu marah karena aku tadi sebelahan sama Naren,” ucap Vena akhirnya karena merasa tak nyaman dengan sikap Asti.
“Aku nggak sengaja, beneran. Tadi kamu tahu sendiri kan aku pusing, ya udah aku cari tempat yang agak sepian kayak yang di suruh Ara tadi. Dan aku nggak tahu kalau cowok yang di sebelah aku itu Naren. Dan juga, aku nggak mungkin ngobrol sama dia. Dia buka mulut aja susah gitu, apalagi mau ngobrol sama aku. Aku minta maaf ya. Aku nggak akan suka Naren karena aku nggak mau kita bertengkar hanya karena cowok.”
“Beneran kamu nggak suka Naren?”
Entahlah. Aku gak bisa janji, sekarang mungkin enggak, tapi gak tahu nanti seperti apa, batin Vena.
Dengan senyum manis di bibirnya ia mengangguk yakin dengan kata – katanya. Meski di dalam hatinya ia tidak yakin sepenuhya dengan apa yang baru saja ia ucapkan pada Asti.
“Jangan marah lagi ya. Aku udah anggap kamu sama Ara itu sahabat aku. Jadi jangan sampai ya kita bertengkar hanya karena masalah cowok,” ucap Vena masih dengan senyuman di bibirnya.
“Oke. Aku pegang kata – kata kamu. Kalau sampai kamu atau Ara suka juga sama Naren fix kita bakal jadi musuh,” kata Asti. Pancaran matanya terlihat sungguh – sungguh saat mengucapkannya. Membuat Vena merasa takut dengan perkatan itu.
Ia merasa semua yang diucapkan Asti seperti sebuah ancaman untuknya. Bukan hanya sekedar marah sesaat melainkan sebuah kesungguhan. Ia ngeri sendiri membayangkan jika sampai benar – benar hal itu kejadian.
Semoga aku tidak menyukai cowok yang sama denganu, batinnya.
Bersambung….
--------
MAAF AKU HARUS TEMPEL INI, KARENA BUAT AKU INI PENTING BANGET
Hai...
Sebelumnya aku mau bilang makasih buat kalian yang sudah dukung cerita aku dan kasih love buat cerita ini.
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Salam
kiki rizki