Hari pertama berlalu seperti yang dijanjikan Dirga: tidak terjadi apa-apa.
Begitu pula hari kedua, ketiga, dan seterusnya. Arga belajar ritme pos itu dengan cepat. Bangun saat fajar masih kelabu, ikut Wira atau Bayu patroli mengelilingi pagar kawat, memeriksa apakah ada lubang yang dibuat babi hutan, lalu kembali sarapan. Sarapan selalu sama: nasi, ikan asin, dan kopi pahit yang dibuat Tomas terlalu kental.
Siang hari dihabiskan dengan tugas-tugas kecil. Memperbaiki pagar, mengganti papan menara yang lapuk, membersihkan senapan yang sebenarnya tidak pernah dipakai. Bayu mengajari Arga cara membidik dengan teropong, menunjuk titik-titik di lereng gunung tempat dulu, katanya, pernah ada baku tembak.
"Aku tidak pernah ikut perang yang sebenarnya," aku Bayu suatu sore, sambil mengunyah rumput. "Aku masuk dinas setelah perjanjian damai. Wira yang pernah. Tanya dia kalau kau mau cerita seram."
Tapi Wira jarang bicara soal masa lalunya. Kopral tua itu lebih suka diam, merawat tanaman cabai kecil yang ditanamnya dalam kaleng bekas di teras. Hanya sesekali, ketika malam dan mereka berkumpul di sekitar lampu petromaks, ia melontarkan satu-dua kalimat yang membuat semua terdiam.
"Perang itu," kata Wira suatu malam, menatap nyala api, "bukan soal berani atau tidak. Soal siapa yang masih berdiri saat semua selesai. Dan kebanyakan yang berdiri bukan karena hebat. Cuma kebetulan."
Tomas mencoba mengubah suasana dengan lelucon, dan tawa pun kembali. Tapi Arga menyimpan kalimat itu.
Hari-hari berikutnya, Arga mulai mengenal desa di lembah. Setiap beberapa hari, salah satu dari mereka turun untuk membeli sayur dan bertukar kabar dengan penduduk. Kali pertama, Dirga mengajak Arga.
Desa Talun Sengit kecil, mungkin tiga puluh rumah. Penduduknya petani dan peternak kambing. Mereka menyambut para prajurit dengan hangat, menawarkan teh dan singkong rebus. Seorang kepala desa tua bernama Pak Karto menjabat tangan Arga lama-lama.
"Kalian penjaga kami," kata Pak Karto, matanya berkaca. "Selama ada seragam di pos itu, kami tidur nyenyak."
Arga merasa canggung. Apa yang ia jaga? Kebosanan? Tapi ia tersenyum dan mengangguk.
Seorang gadis muda membawakan teh. Namanya Sari, cucu Pak Karto. Ia menatap Arga sebentar, lalu tersipu dan berlari masuk. Bayu, yang ikut hari itu, menyenggol siku Arga sambil nyengir.
"Hati-hati, anak baru. Banyak prajurit yang betah di pos ini gara-gara desa, bukan gara-gara tugas."
Arga hanya menggeleng, tapi diam-diam ia menyimpan wajah Sari dalam ingatan.
Minggu kedua, persis seperti ramalan Dirga, kebosanan datang menyergap. Arga mulai menghafal setiap retakan di dinding, setiap derit dipan, setiap nada false yang dinyanyikan Tomas saat mandi. Ia menulis surat untuk ibunya, walau tahu surat itu baru akan terkirim entah kapan, ketika ada truk logistik yang lewat sebulan sekali.
Suatu malam, ia bertanya pada Dirga, "Sersan, apa pernah ada masalah di sini? Sungguh-sungguh masalah?"
Dirga sedang membersihkan pistolnya. Ia berhenti sebentar.
"Pernah, dulu sekali. Sebelum aku di sini. Katanya ada penyelundup yang lewat, sekali-sekali. Tapi mereka cuma cari jalan, bukan cari ribut." Ia memasang kembali magasin. "Yang kuingat cuma satu kejadian aneh. Tiga tahun lalu. Radio kita menangkap percakapan dalam bahasa tetangga. Banyak sekali, semalaman. Lalu hilang. Markas pusat bilang itu cuma latihan rutin mereka."
"Latihan?"
"Begitu kata mereka." Dirga mengangkat bahu. "Kita ini ujung tombak yang tak punya mata, Nak. Kita cuma tahu apa yang markas izinkan kita tahu."
Arga merenungkan itu. Ada sesuatu dalam nada Dirga yang membuatnya tidak nyaman. Tapi ia tidak menanyakan lebih lanjut.
Hari-hari kembali sama. Patroli, makan, jaga menara, tidur.
Sampai pada suatu pagi di minggu ketiga, ketika Arga bertugas di menara saat fajar, ia melihat sesuatu yang ganjil.
Di lereng gunung utara, jauh di seberang lembah, ada kilatan. Sekali. Dua kali. Seperti pantulan cahaya pada logam atau kaca. Ia menyipitkan mata, meraih teropong.
Tidak ada apa-apa. Hanya hutan dan kabut pagi.
Ia menunggu beberapa menit. Kilatan itu tidak muncul lagi. Mungkin cuma embun di daun yang memantulkan matahari terbit, pikirnya. Atau matanya yang lelah karena kurang tidur.
Tapi ada rasa tidak enak yang merayap di tengkuknya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Saat ia turun dari menara dan menceritakannya pada Wira, kopral tua itu diam sejenak, lalu menatap ke arah gunung.
"Mungkin bukan apa-apa," kata Wira pelan. Tapi matanya tidak ikut mengatakan itu. "Tapi catat di buku jaga. Selalu catat hal yang ganjil. Kadang yang ganjil itu yang pertama datang sebelum yang buruk."
Arga mencatatnya. Lalu hari berjalan seperti biasa, dan kilatan itu perlahan terlupakan.
Selama tiga hari.