Badai reda menjelang fajar, persis seperti yang Wira katakan. Dunia putih yang mengamuk berangsur tenang menjadi hamparan sunyi yang menyilaukan — punggung gunung terkubur salju baru, langit perlahan memucat keperakan.
Arga dan Wira turun dengan tubuh setengah beku, kaki terbenam sampai paha di setiap langkah. Wira memimpin, membaca lereng, menghindari cekungan tempat salju menumpuk dalam dan bisa menelan orang utuh-utuh. Pelajaran delapan tahun di gunung kini menjadi penyelamat nyawa mereka.
Butuh dua hari untuk kembali ke pasukan induk. Saat mereka terhuyung masuk ke kemah, bibir membiru dan jari-jari melepuh oleh dingin, Jaka berlari menyongsong, wajahnya pucat lalu lega lalu berurai.
"Kami dapat kabar kalian ditahan," kata Jaka, suaranya pecah. "Lalu kabar kalian... hilang. Markas bilang truk pemindahan kalian celaka di gunung. Mereka bilang kalian mati dalam badai."
"Mereka ingin kami mati dalam badai," kata Arga. "Itu bedanya."
Letnan Hardi mendengarkan seluruh kisahnya dengan rahang mengeras. Saat Arga selesai, perwira muda itu lama terdiam, menatap peta perbatasan di dinding tenda — garis-garis tempat orang-orangnya mati atas perintah yang mungkin bocor ke musuh sebelum kering tintanya.
"Mereka mencoba membunuhmu," kata Hardi pelan. "Itu sendiri adalah pengakuan. Orang yang tak bersalah tidak perlu melenyapkan saksi."
"Tapi kita tetap tak punya nama aslinya," kata Wira. "Cuma sandi. Burung Elang. Bintang tiga. Dan Bramantyo, tangannya, yang sekarang yakin kami sudah mati. Itu, justru, keuntungan kita. Selama mereka mengira kami mati, mereka lengah."
Tapi pikiran Arga, saat itu, tidak sepenuhnya pada Burung Elang. Saat mereka kembali, ia menghitung timnya, dan satu wajah tak ada. "Di mana Reza?"
Keheningan Jaka menjawab sebelum kata-katanya. "Saat kalian pergi ke markas, musuh mencoba serangan balasan di sayap timur. Kami menahannya. Tapi Reza..." Jaka menunduk. "Bahunya yang luka membuatnya lambat. Ia menarik dua prajurit baru keluar dari tembakan, tapi ia tak sempat keluar sendiri. Kami menemukannya pagi harinya. Ia sudah pergi."
Arga merasakan sesuatu yang sudah terlalu sering ia rasakan menutup dadanya. Reza — yang bersikeras ikut ke Renggat meski bahunya terbalut, yang ditarik Jaka dari ledakan benteng, yang tertawa kecil di malam tanpa bintang. Satu nama lagi untuk daftar yang takkan pernah ia lupakan.
Ia berjalan keluar tenda, ke tepi kemah, memandang ke utara ke arah pegunungan yang masih putih oleh badai yang nyaris membunuhnya. Jaka menyusul, berdiri di sampingnya dalam diam.
"Aku terus kehilangan orang," kata Arga akhirnya, suaranya berat. "Dirga. Bayu. Tomas. Sekarang Reza. Aku memimpin mereka, dan mereka mati."
Jaka lama terdiam. Lalu ia berkata, dengan kebijaksanaan yang melampaui usianya — kebijaksanaan yang diajarkan perang, bukan tahun: "Mereka tidak mati karena kau memimpin, Arga. Mereka mati karena ada perang. Dan mereka mati untuk sesuatu, bukan sia-sia, karena kau ada di sana untuk memastikan kematian mereka berarti. Reza menarik dua orang keluar dari tembakan. Dua orang yang masih bernapas pagi ini karena Reza." Ia menatap Arga. "Itulah yang kau ajarkan pada kami. Bahwa seorang penjaga berdiri agar orang lain bisa hidup."
Arga menelan haru. Ia teringat filosofi Wira — yang masih berdiri saat semua selesai sering bukan yang paling hebat, cuma kebetulan terus berdiri. Tapi sekarang ia memahaminya dengan cara yang lebih dalam: berdiri bukan sekadar bertahan hidup. Berdiri berarti memilih, setiap kali, untuk menjadi yang menahan tembakan agar yang lain bisa lari.
Wira bergabung dengan mereka di tepi kemah, langkahnya pincang oleh dingin yang masih bersarang di sendinya. Ia mengikuti pandangan Arga ke utara.
"Kita kehilangan Reza," kata Arga.
"Aku dengar." Wira diam sejenak, menghormati nama itu dengan keheningan. Lalu ia berkata, "Dia hilang dalam pertempuran, bukan dalam salju seperti yang mereka rencanakan untuk kita. Ada bedanya, Nak. Reza mati menjaga garis. Itu kematian seorang penjaga. Kita akan mengingatnya begitu."
Mereka bertiga berdiri di sana saat matahari akhirnya pecah dari balik awan, menyepuh puncak-puncak salju dengan emas. Di kejauhan, di balik pegunungan biru, perang masih menunggu — gelombang besar yang sedang disiapkan musuh, dan seorang pengkhianat berbintang tiga yang mengira ia sudah menang.
"Apa langkah kita sekarang?" tanya Jaka.
Arga menarik napas dalam, udara dingin membakar paru-parunya, dan untuk pertama kalinya sejak salju, ia merasakan tekadnya mengeras menjadi sesuatu yang tak bisa dipatahkan.
"Burung Elang mengira kita mati," katanya. "Maka kita biarkan ia mengira begitu — sampai kita siap. Kita kumpulkan setiap bukti. Kita cari pos-pos lain yang punya surat seperti ini. Kita bangun kasus yang tak bisa ia kubur, bahkan dengan semua bintang di pundaknya." Ia menatap utara, ke arah musuh dan ke arah rumah yang membusuk dari dalam. "Dan saat saatnya tiba, kita robohkan dia di tempat di mana seluruh negara bisa melihat. Untuk Dirga. Untuk Bayu. Untuk Tomas. Untuk Reza. Untuk setiap pos yang dilupakan dan dijual."
Angin gunung berdesir, membawa serpihan salju terakhir dari badai yang gagal membunuh mereka. Di bawah kaki mereka, garis depan menanti. Dan jauh di selatan, di balik meja kayu di markas yang membusuk, seorang pengkhianat tidur nyenyak, tak tahu bahwa dua orang yang ia kira telah hilang dalam salju kini berjalan kembali — membawa kebenaran, dan amarah seorang penjaga yang menolak membiarkan rekan-rekannya mati sia-sia.