Asap mereda sepanjang pagi, dan saat tengah hari datang, lembah Talun Sengit hening untuk pertama kali dalam berhari-hari.
Bukan keheningan damai — itu masih jauh. Ini keheningan setelah badai, keheningan yang ditingkahi rintihan yang terluka, isak yang berduka, dan langkah-langkah lelah orang yang masih hidup mencari di antara reruntuhan. Tapi mortir telah berhenti. Tembakan telah berhenti. Dan di seberang lembah, garis musuh telah surut ke utara, meninggalkan ladang yang mereka rebut dengan begitu banyak darah.
Arga berjalan melintasi desa yang hancur. Setengah rumah terbakar. Balai desa berlubang dan menghitam tapi masih berdiri, temboknya yang tebal menahan apa yang dilemparkan padanya, seperti dulu. Sari muncul dari pintunya, lelah sampai ke tulang, tapi ia menemukan mata Arga di kerumunan dan sesuatu yang panjang dan tegang dalam dirinya akhirnya melepas. Ia tidak berlari memeluknya — itu bukan waktunya, dengan begitu banyak yang berduka di sekeliling. Tapi ia mengangguk, sekali, dan dalam anggukan itu ada segala hal yang tak bisa dikatakan kata.
Arga mendaki bukit ke pos.
Pos Talun Sengit — yang dulu hancur total, lalu dibangun ulang, lalu dijadikan benteng — berdiri compang-camping tapi tegak di puncaknya. Dan di atasnya, di tiang yang sama, berkibar bendera itu.
Bendera pudar. Bendera yang sudah pudar sejak hari pertama Arga tiba, ketika ia masih prajurit muda yang mengira ini tempat hukuman tanpa apa-apa. Bendera yang bertahan melalui serangan pertama, melalui jatuhnya pos, melalui pembangunan ulang, melalui pengepungan ini. Warnanya kusam, tepinya koyak oleh peluru dan angin dan tahun-tahun. Tapi ia berkibar, di puncak bukit, di atas lembah yang dipertahankan.
Wira berdiri di bawah tiang itu, menengadah. Tangan kirinya yang cacat tergantung di sisi, tangan kanannya disandarkan pada senapan runduk yang menyelamatkan mereka semalaman. Ia mendengar Arga datang tapi tidak menengok.
"Aku ingat hari kau tiba," kata Wira pelan. "Kau memandang bendera ini dan aku tahu kau mengira tempat ini sia-sia. Garis yang dilupakan semua orang. Pos hukuman."
Arga berhenti di sampingnya, menengadah ke kain pudar yang berkibar pelan dalam angin siang. "Aku salah," katanya.
"Kita semua salah, dulu." Wira menatap bendera itu, lalu ke lembah di bawah — desa yang hancur tapi hidup, penduduk yang muncul dari hutan, milisi yang membantu yang terluka, tahanan yang dijaga di kaki bukit. "Tempat yang dilupakan ternyata yang paling penting. Garis tipis yang tak ada yang mau jaga ternyata garis yang menahan segalanya." Ia menarik napas berat. "Dirga tahu itu. Bayu, Tomas — mereka mati tahu itu. Mereka tidak menahan satu kompi semalaman demi bukit ini. Mereka menahannya demi yang ada di belakang bukit ini."
Arga menatap ke selatan, ke arah desa, ke arah orang-orang. Lalu ke utara, ke pegunungan biru tempat musuh mundur, tempat orang-orang yang menggambar garis masih bersembunyi.
"Ini belum selesai," kata Arga. "Mereka akan menggambar garis lagi. Pengkhianat di markas yang membiarkan ini terjadi masih bebas. Rastaka cuma tangan, bukan kepala." Ia mengepalkan tangan, lalu melepasnya. "Perang ini belum benar-benar berakhir."
"Tidak," Wira mengakui. "Belum." Ia akhirnya menengok pada muridnya, dan di wajah tuanya ada sesuatu yang melampaui kelelahan — semacam kedamaian yang keras, kebanggaan yang berduka. "Tapi hari ini, di bawah bendera ini, kita berdiri. Kita masih berdiri. Dan selama bendera itu berkibar di puncak bukit ini, lembah di bawahnya tahu ada yang menjaganya."
Angin menguat sejenak, dan bendera pudar itu mengembang penuh, koyak dan kusam tapi tegak, mengibas di langit siang yang membersih. Di bawahnya, di lembah Talun Sengit, hidup mulai merangkak kembali dari abu — anak-anak keluar dari hutan, kambing-kambing mengembik di kandang yang selamat, asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah yang masih berdiri.
Arga berdiri di samping mentornya, di bawah bendera yang menolak jatuh, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya merasakannya — bukan kemenangan, tidak persis itu, karena terlalu banyak pusara untuk menyebutnya menang. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Bahwa garis ini, malam ini, masih dijaga. Bahwa di belakangnya orang-orang masih bisa tidur. Bahwa Jaka, dan Dirga, dan Bayu, dan Tomas, dan semua yang gugur tidak mati untuk tanah kosong.
Mereka mati untuk garis yang tetap berdiri.
"Kita kubur yang gugur saat senja," kata Arga akhirnya, suaranya pelan tapi mantap. "Lalu kita perbaiki yang rusak. Lalu kita bersiap." Ia menatap utara, ke pegunungan biru, dan matanya mengeras. "Karena penjaga perbatasan tidak pernah benar-benar selesai berjaga. Kita cuma berdiri sampai giliran berikutnya. Dan aku berniat masih berdiri saat mereka datang lagi."
Di atas mereka, bendera pudar Talun Sengit berkibar, koyak namun tegak, di puncak bukit yang dulu dilupakan dan kini dijaga, menghadap pegunungan biru, menahan garis.