Upacara itu diadakan di puncak bukit Talun Sengit, di tempat tiga pusara berdiri menghadap pegunungan biru.
Negara mengirim utusan resmi kali ini. Bukan sekadar perwira penghubung, tapi seorang jenderal dengan rombongan, bendera kebangsaan, dan tiga kotak beludru yang dibawa dengan kedua tangan oleh ajudan-ajudan muda. Truk-truk berjajar di kaki bukit. Penduduk desa naik beramai-ramai, mengenakan pakaian terbaik mereka yang sederhana. Prajurit baru pos berbaris rapi. Dan di barisan depan, di tempat yang disediakan untuknya, berdiri Arga dengan seragam bersih dan pangkat barunya yang masih asing di kerah.
Mereka telah menaikkan pangkatnya. Tapi hari ini bukan tentang pangkatnya.
Jenderal itu berdiri di hadapan tiga pusara. Batu nisan sederhana, dibuat penduduk desa dengan tangan mereka sendiri berbulan-bulan lalu. Nama-nama yang dipahat kasar tapi penuh hormat: SERSAN DIRGA. BAYU. TOMAS.
"Selama bertahun-tahun," kata jenderal itu, suaranya membelah angin bukit, "negara mencatat ketiga prajurit ini sebagai korban dari sebuah pos yang lengah. Catatan itu salah. Catatan itu telah diperbaiki."
Ia membuka kotak beludru pertama. Di dalamnya, medali perunggu mengilap di bawah matahari.
"Sersan Dirga. Yang tiga tahun sebelum serangan telah memperingatkan akan datangnya bahaya ini, dan diabaikan. Yang tetap berdiri menjaga posnya meski tahu posnya yang akan menjadi sasaran. Yang gugur memimpin pertahanan empat orang melawan satu kompi penuh, semalaman, sampai magasin terakhir kosong. Atas keberanian dan kesetiaan yang melampaui panggilan tugas, negara menganugerahkan penghormatan tertinggi, secara anumerta."
Tak ada keluarga Dirga yang hadir — ia tak punya yang tersisa, kata Wira; itu sebabnya perbatasan jadi keluarganya. Maka medali itu diletakkan di atas pusaranya, bersandar pada batu nisan.
"Bayu. Penembak jitu pos. Yang setiap tembakannya menahan gelombang demi gelombang, yang gugur bersandar di dinding barat dengan senapan masih di tangan, menghadap musuh sampai napas terakhir."
Kotak kedua dibuka. Seorang perempuan paruh baya di barisan penduduk — ibu Bayu, yang telah diundang dan ditempuh perjalanan jauh — maju dengan langkah gemetar dan menerima medali itu. Ia tak menangis keras. Ia hanya menggenggam medali itu ke dadanya dan menutup mata.
"Tomas. Operator radio pos. Yang menjaga satu-satunya jalur komunikasi mereka sampai detik terakhir, yang gugur menggenggam granat yang tak sempat ia lemparkan, mati di posnya, bukan di tempat persembunyian."
Kotak ketiga. Adik laki-laki Tomas yang masih muda menerimanya, wajahnya menunduk, bahunya berguncang.
Arga berdiri kaku, menatap lurus, menahan sesuatu yang naik di dadanya sejak medali pertama disebut. Ia ingat suara mereka. Kopi Tomas yang terlalu kental sampai sendok berdiri di dalamnya. Keluhan Bayu yang tak pernah berhenti sampai pelatuk ditarik dan ia jadi sehening batu. Asap kretek Dirga di subuh yang dingin, dan suaranya yang berkata pada Arga di malam yang mengubah segalanya: "Pergi bukan kabur, Nak. Pergi membawa nyawa kita semua."
Mereka tak pernah tahu medali ini akan datang. Mereka tak peduli soal medali. Mereka cuma melakukan tugas mereka di pos yang dilupakan.
Setelah upacara, saat rombongan jenderal mulai turun dan penduduk menyebar, Arga tetap berdiri di depan tiga pusara. Sari datang menghampiri, berdiri diam di sampingnya. Wira di sisi lain, bersandar pada tongkat sederhana yang kini ia pakai berjalan.
"Mereka pantas mendapatkannya," kata Sari pelan.
"Mereka tak butuh ini," kata Arga, memandang medali perunggu di atas batu nisan Dirga. "Tapi kita yang butuh memberikannya. Supaya kita ingat garis ini ada harganya."
Wira meletakkan tangan kanannya di pundak Arga.
"Mereka tiga," kata kopral tua itu. "Aku satu yang seharusnya jadi empat. Aku masih di sini bukan karena lebih hebat. Cuma kebetulan masih berdiri." Ia memandang medali, lalu memandang pegunungan biru. "Tapi kebetulan itu memberiku waktu untuk satu hal lagi yang harus kuselesaikan. Lalu giliranku untuk turun."
Arga menoleh padanya, sesuatu terasa janggal di nada suara kopral itu, tapi Wira hanya tersenyum samar dan tak menjelaskan.