Raka Santara pulang pukul sebelas malam dengan kepala yang masih penuh angka dari rapat board. Lampu ruang keluarga sudah padam. Di lantai atas, kamar Keenan gelap — anak itu biasanya tidur cepat jika tidak ada suara televisi dari ruang orang tuanya.
Sopir sudah ia pulangkan sejak di basement kantor; malam selarut ini ia lebih suka menyetir sendiri. Gerbang menutup di belakangnya dengan bunyi mekanis yang halus. Sepanjang sepuluh menit terakhir di jalan tadi, yang ia pikirkan adalah proyeksi kuartal, bukan rumahnya.
Ia melepas dasi di tangga, seperti biasa. Rumah di kawasan Menteng itu selalu terlalu sunyi untuk ukurannya: marmer, kaca, dan senyum di bingkai foto yang menggantung rapi di sepanjang koridor. Sepuluh tahun pernikahan dengan Larissa menghasilkan dua hal yang orang luar iri: citra pasangan sempurna, dan seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang masih memanggilnya Papa dengan suara yang belum belajar berbohong.
Rumah itu berbau pengharum ruangan yang sama sejak lima tahun lalu, vanila samar yang dipilih Larissa, dipakai di setiap sudut, disemprot ulang setiap Jumat. Baru malam itu Raka menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar menyukainya.
Ruang kerja Larissa pintunya sedikit terbuka. Biasanya terkunci. Raka berhenti.
Ia bukan suami yang suka menggeledah. Ia suami yang terlalu sibuk untuk curiga. Tapi malam itu, lampu meja masih menyala, dan laci tengah terbuka selebar telapak tangan — seperti seseorang pergi tergesa dan lupa menutup jejaknya.
Ia berdiri di ambang beberapa detik, tangan masih memegang dasi yang terlipat. Ada bagian dirinya yang tahu, dengan ketenangan menyakitkan seorang pengambil keputusan, bahwa kalau ia melangkah masuk sekarang, malam ini tidak bisa dikembalikan.
Di dalam laci, di antara amplop undangan yayasan dan kartu nama sponsor, ada flashdisk kecil berwarna hitam. Tidak berlabel. Raka mengenal flashdisk itu: minggu lalu Larissa bilang isinya materi presentasi Yayasan Santara Peduli untuk donor baru.
Ruangan itu rapi seperti etalase. Buku-buku desain berdiri sesuai tinggi, lilin aromaterapi belum pernah dinyalakan. Lampu meja menyorot lingkaran kuning di atas kayu. Di luar, mesin pompa kolam taman berdengung pelan.
Ia mencolokkannya ke laptop ruang kerja — laptop yang jarang dipakai Larissa, lebih sering jadi pajangan. Folder terbuka tanpa sandi.
Bukan materi yayasan.
Foto. Puluhan. Larissa di restoran yang Raka kenali dari langit-langitnya — tempat di Senopati yang ia sendiri pernah reservasi untuk anniversary. Di sampingnya, pria yang tersenyum terlalu familiar: Nathan Kenzie. Mitra joint venture. Sahabat yang menandatangani buku tamu pernikahan mereka. Pria yang minggu depan akan duduk di sisi Raka dalam rapat ekspansi.
Ia menggulirkan layar pelan, satu per satu, seperti membaca laporan audit yang hasilnya sudah ia duga. Tanggal di sudut tiap file menyusun kalender yang terlalu ia kenal: malam-malam ketika ia rapat sampai larut, akhir pekan ketika Larissa bilang harus survei lokasi acara.
Dan di bawah folder foto, file chat yang diekspor rapi. Bukan rayuan samar. Bukan salah paham. Ada waktu. Ada tempat. Ada kalimat yang membuat perut Raka mengeras seperti logam dingin.
Tangan kanannya berhenti di atas mouse. Di kepalanya, bukan pertanyaan kenapa yang datang lebih dulu, melainkan sejak kapan, dan siapa lagi yang sudah tahu.
Ia duduk. Napasnya pendek sekali, lalu panjang — latihan lama dari ruang negosiasi: jangan biarkan wajahmu bicara sebelum strategimu siap.
Raka menyalin seluruh isi flashdisk ke hard disk eksternal yang selalu ia bawa di tas kerja. Ia mengembalikan flashdisk ke laci, menutupnya pelan, mematikan lampu, dan keluar seolah tidak pernah masuk.
Koridor terasa lebih panjang dari biasanya. Foto-foto di dinding itu ia lewati tanpa menoleh; ia hafal semuanya sampai ke sudut senyum yang diulang di setiap bingkai, dan malam itu ia sadar tidak satu pun dari foto itu diambil tanpa fotografer yang dibayar.
Di ruang makan, Larissa muncul dari dapur dengan dua gelas air. Rambutnya terikat. Wajahnya bersih. Senyumnya seperti selalu: lembut, cukup untuk kamera, cukup untuk suami yang lelah.
Cahaya dapur di belakangnya membuat siluetnya lembut. Di rak piring ada dua mangkuk yang sudah dicuci dan ditelungkupkan. Di pintu kulkas masih menempel gambar buatan Keenan: tiga orang berpegangan tangan di depan rumah persegi, dengan matahari di pojok kanan atas.
'Pulang malam lagi,' katanya. 'Keenan nunggu sampai jam sembilan. Aku bilang Papa rapat penting.'
'Iya.' Suara Raka datar, hampir lembut. 'Besok aku antar dia sekolah.'
'Benarkah?' Larissa mengangkat alis, senang kecil. 'Dia pasti senang. Akhir-akhir ini kamu jarang sempat.'
Ia menerima gelas yang disodorkan, meminum setengahnya. Air dingin turun ke perut yang masih terasa seperti logam. Setiap basa-basi malam itu terdengar seperti dokumen yang ditandatangani ulang tanpa dibaca.
Raka menatap istrinya. Sepuluh tahun. Ia pernah mencintai perempuan ini dengan cara yang membuatnya takut kehilangan. Malam ini, yang tersisa di dadanya bukan amarah yang meledak — melainkan sesuatu yang lebih berbahaya: kejelasan.
'Makan dulu,' kata Larissa. 'Ada sop. Masih hangat.'
Mereka makan berdua di meja yang terlalu besar untuk dua orang. Larissa bercerita tentang undangan charity week. Raka mengangguk di tempat yang tepat. Sendok beradu pelan dengan mangkuk. Di dinding, foto keluarga tersenyum — Raka, Larissa, Keenan — seolah perang belum dimulai.
Sop itu hangat dan sebenarnya enak. Raka memperhatikan tangan istrinya memegang sendok, cincin yang masih di sana, kuku yang baru dirapikan. Ia menghitung diam-diam berapa banyak makan malam seperti ini yang sudah terjadi setelah malam di restoran Senopati itu.
Setelah Larissa naik duluan, Raka tidak menyusul ke kamar utama.
Ia mendengar langkah istrinya berhenti sebentar di anak tangga kelima, menunggu satu atau dua detik, lalu melanjutkan naik tanpa memanggil namanya.
Ia mengambil selimut dari lemari linen, masuk ke ruang kerjanya sendiri, dan merebahkan tubuh di sofa kulit yang biasanya hanya untuk tamu investor. Langit-langit putih menatapnya kembali. Di meja, hard disk eksternal diam seperti senjata yang belum ditarik pelatuknya.
Ponselnya menyala sebentar di meja, notifikasi kalender untuk rapat besok pagi. Ia membalikkannya menghadap ke bawah. Dari jendela, lampu-lampu Menteng terlihat seperti angka kecil yang belum dijumlahkan.
Raka menutup mata.
Ia tidak akan menggugat besok pagi. Ia tidak akan menghancurkan Keenan di depan gosip Jakarta. Ia tidak akan memberi Nathan kepuasan melihat Santara Holding goyah karena skandal rumah tangga.
Ia juga tidak akan menelepon siapa pun malam ini. Bukti yang dibagikan terlalu cepat berubah menjadi gosip. Yang ia butuhkan bukan simpati, melainkan urutan langkah yang tidak bisa dibantah.
Ia akan tinggal.
Dan dari dalam rumah yang sama, dari cincin yang masih di jarinya, ia akan menyusun balasan yang tidak berteriak — balasan yang membuat dua pengkhianat itu menyesal pernah mengira suami yang sibuk adalah suami yang buta.
Perang dingin dimulai tanpa satu kata pun.