Tubuh Jihan masih membeku. Setiap perkataan Ozan menancap begitu dalam, membuatnya nyaris kehilangan tenaga untuk berdiri.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” ucap Jihan lirih. “Apa kau yang membayar para sniper itu?”
Ozan menatapnya lama. “Jika aku mengatakan tidak, apa kau akan mempercayaiku?”
“Berikan aku alasan untuk percaya.”
“Kau tidak pernah membutuhkan alasan saat memilih mempercayai keburukanku.”
Jihan menghapus air matanya. “Seseorang menemukan transfer atas nama perusahaanmu kepada lelaki yang menembak Erdem.”
Untuk pertama kalinya ketenangan Ozan retak. “Siapa yang memberikan informasi itu?”
“Ekin. Dia menyelidiki kematian kakaknya.”
Ozan berjalan menuju meja dan menghubungi asistennya. Ia meminta seluruh catatan transaksi dua tahun terakhir disiapkan.
“Aku tidak membunuh Erdem,” katanya setelah menutup telepon. “Tapi sepertinya seseorang menginginkanmu percaya bahwa aku melakukannya.”
“Kenapa tadi kau mengatakan bahagia melihatku menjadi janda?”
“Karena aku ingin menyakitimu.” Rahang Ozan mengetat. “Aku marah dan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kuucapkan.”
Jihan tidak langsung memaafkan. Kata-kata itu sudah memperlihatkan betapa dalam kebencian yang dipelihara Ozan.
Pintu ruangan terbuka. Berna masuk dan terkejut melihat Jihan. Ia membawa amplop besar berisi laporan keuangan.
“Ozan, kita menemukan rekening yang digunakan,” katanya. “Seseorang memalsukan tanda tanganmu.”
Jihan meraih laporan tersebut. Nama penerima transfer adalah Cemal Kaya, salah satu penembak yang tewas setelah serangan terhadap Erdem.
“Siapa yang memiliki akses?” tanya Jihan.
Berna dan Ozan saling berpandangan.
“Hanya tiga orang,” jawab Berna. “Aku, Ozan, dan kakak Ozan, Taylan.”
Jihan langsung teringat Taylan pernah menentang pernikahannya dengan Erdem. Lelaki itu juga mengetahui hubungan masa lalunya dengan Ozan.
Ozan mengambil laporan dari tangan Jihan. “Aku akan menemukan kebenarannya. Setelah itu kau boleh tetap membenciku jika itu yang kauinginkan.”
“Aku tidak akan menunggu tanpa melakukan apa pun.”
“Kau memiliki seorang putra. Jangan melibatkan diri dalam bahaya.”
“Erdem adalah suamiku. Kebenaran tentang kematiannya juga urusanku.”
Tatapan mereka bertemu. Di balik kemarahan, rasa yang lama dikubur masih bergerak, tetapi keduanya terlalu terluka untuk mengakuinya.
Ozan meminta penyelidik pribadinya memeriksa rekening Cemal. Jihan tetap bersikeras ikut dalam setiap perkembangan.
Mereka bertemu di apartemen Berna agar media tidak melihat kebersamaan mereka. Berna menjelaskan tanda tangan digital Ozan dicuri dari server perusahaan.
“Akses terakhir dilakukan dari kantor Rotterdam,” katanya. “Pada malam yang sama saat Erdem ditembak.”
Ozan berada di Istanbul malam itu. Taylan mengaku berada di Ankara, tetapi catatan penerbangan menunjukkan dirinya sempat singgah di Rotterdam.
“Kau mencurigai kakakmu sendiri?” tanya Jihan.
“Aku mencurigai siapa pun yang memiliki kesempatan.”
Berna memperhatikan Jihan. Perempuan itu tampak lelah dan masih mengenakan cincin pernikahan Erdem.
“Aku tidak pernah menjadi kekasih Ozan,” kata Berna tiba-tiba. “Aku memang tinggal di apartemennya karena sedang melarikan diri dari mantan suamiku. Ozan melindungiku.”
Jihan menatapnya. “Kenapa kalian tidak menjelaskan dari awal?”
“Ozan berjanji merahasiakan keberadaanku. Mantan suamiku mengancam akan mengambil putriku.”
Kesalahpahaman yang menghancurkan hubungan Jihan dan Ozan ternyata dibangun dari rahasia yang dianggap sebagai perlindungan.
“Kau tetap membiarkanku pergi,” kata Jihan kepada Ozan.
“Aku mencoba menjelaskan tanpa mengkhianati Berna. Kau tidak memberi waktu.”
“Dan kau memilih diam.”
Ozan tidak menyangkal. “Aku salah.”
Penyelidik menelepon. Ia menemukan rekaman kamera bank yang memperlihatkan seorang lelaki mengambil uang untuk membayar Cemal. Wajahnya tertutup, tetapi ia memakai cincin keluarga Adskhan.
Taylan mempunyai cincin serupa. Begitu pula Ozan.
Pada malam itu, seseorang masuk ke apartemen Jihan. Tidak ada barang berharga yang hilang. Hanya berkas penyelidikan Erdem yang dibakar.
Di kamar putranya, sebuah peluru diletakkan di atas bantal.
Jihan memeluk Emir yang masih tertidur tanpa mengetahui ancaman di sampingnya. Tubuhnya bergetar hebat.
Ozan datang setelah Ekin menghubunginya. Ia memeriksa seluruh ruangan dan meminta keamanan tambahan.
“Aku akan membawa Emir ke tempat aman,” kata Jihan.
“Gunakan rumah keluargaku di Bursa. Tidak ada media yang mengetahui tempat itu.”
Jihan menolak pada awalnya, tetapi peluru tersebut membuktikan putranya menjadi sasaran. Ia akhirnya menerima dengan syarat Ekin ikut menemani.
Emir terbangun dan melihat Ozan. Anak itu mengenalinya sebagai teman lama ibunya.
“Paman Ozan, Papa kapan pulang?” tanyanya.
Jihan menahan tangis. Ozan berlutut di depan Emir.
“Papa selalu menyayangimu, meskipun sekarang tidak bisa pulang.”
Emir memeluk ibunya. Ozan berpaling agar air matanya tidak terlihat.
Mereka berangkat sebelum matahari terbit. Dalam perjalanan, sebuah mobil hitam mengikuti dari belakang. Pengawal Ozan berhasil menghalaunya, tetapi kendaraan itu kabur.
Di rumah Bursa, Jihan menemukan foto lama Ozan dan keluarganya. Taylan berdiri bersama Erdem dalam salah satu foto, jauh sebelum Jihan mengenal keduanya.
“Mereka saling mengenal?” tanya Jihan.
Ozan melihat foto tersebut. “Taylan pernah menjadi mitra Erdem. Mereka bertengkar karena proyek besar lima tahun lalu.”
Ekin memeriksa catatan bisnis Erdem. Proyek itu berkaitan dengan lahan pelabuhan bernilai tinggi. Beberapa hari sebelum meninggal, Erdem hendak melaporkan praktik pencucian uang.
Nama perusahaan Taylan muncul dalam dokumen.
Saat Ozan mencoba menghubungi kakaknya, nomor tersebut tidak aktif. Taylan juga tidak berada di rumah.
Jihan menerima pesan anonim.
Berhenti mencari atau putramu menyusul ayahnya.
Ozan membaca pesan itu. “Mulai sekarang kau dan Emir tidak boleh keluar tanpa pengawalan.”
“Jangan memerintahku.”
“Aku tidak ingin kehilangan kalian.”
Kalimat itu keluar sebelum Ozan sempat menahannya. Keduanya terdiam, menyadari rasa yang tidak pernah benar-benar mati.
Taylan akhirnya muncul di rumah keluarga. Ia marah karena Ozan menuduhnya terlibat pembunuhan.
“Aku memang bertemu Erdem,” katanya. “Tapi aku tidak membunuhnya.”
Ia mengakui pernah bekerja sama dalam proyek pelabuhan. Erdem menemukan pencucian uang yang dilakukan salah satu investor Rusia bernama Viktor Sokolov.
“Kenapa rekening perusahaan Ozan digunakan?” tanya Jihan.
“Karena Viktor ingin keluarga kita saling menghancurkan.”
Ozan meminta bukti. Taylan menyerahkan rekaman suara Erdem. Dalam rekaman itu, Erdem mengatakan ia takut seseorang akan menyerang keluarganya.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan percaya bukti pertama yang kalian temukan,” suara Erdem terdengar. “Seseorang di dalam keluarga Daymaz membantu Viktor.”
Ekin terdiam. Hanya beberapa anggota keluarga yang mengetahui penyelidikan Erdem.
Taylan juga mengaku menggunakan cincin keluarga pada malam penarikan uang, tetapi cincinnya hilang setelah bertemu kakak ipar Jihan, Selim Daymaz.
“Kau menuduh Selim?” tanya Ekin.
“Aku hanya mengatakan fakta.”
Malam itu Selim datang ke rumah Bursa dengan alasan ingin membawa Jihan dan Emir pulang. Ia terlihat terkejut mendapati Taylan berada di sana.
Jihan memperhatikan tangan Selim. Pada jari manisnya ada bekas luka melingkar seperti pernah memakai cincin yang terlalu sempit.
“Di mana cincinmu?” tanya Jihan kepada Ozan.
Ozan menunjukkan cincin keluarga di tangannya. Taylan juga sudah menemukan miliknya di mobil Selim setelah melakukan pencarian.
Selim mundur menuju pintu. Para pengawal menghalangi.
“Aku tidak membunuh Erdem,” katanya cepat. “Aku hanya memberikan jadwal perjalanannya kepada Viktor. Aku tidak tahu mereka akan menembaknya.”
Ekin memukul wajah Selim. Jihan menjerit dan meminta mereka berhenti.
Selim mengaku Viktor menahannya melalui utang perjudian. Ia memalsukan akses Ozan dan menaruh bukti agar kematian Erdem terlihat seperti balas dendam cinta.
Namun sebelum bisa dibawa ke polisi, tembakan menembus jendela dan mengenai bahu Selim. Penembak Viktor telah menemukan mereka.