masing-masing kita punya kisah sendiri tampa harus menjadi orang lain
Kepergian adalah awal dari sebuah kisah perjalanan Willy, perjalanan yang tiada pernah henti bagi dirinya. Willy melakukan itu semua karena ada sebabnya.
Setelah kepergian Yana Willy memilah menjadi seorang pengelana berjalan dari satu tempat ke satu tempat.
"Kriiing....!" Bunyi telfon masuk siang itu sekitar jam 13:45, dari dalam telfon terdapat suara seorang pria yang paruh baya.
"Hallo... Bisa bicara dengan Willy?, Ini dari ayah Yana"
"Ia saya sendiri om"
"Gak usah panggil om, saya cuma mau bilang kamu tidak usah berhubungan lagi dengan Yana, sebab sebentar lagi Yana akan menikah"
Belum saya menjawab telfon sudah di putuskan. Tampa pikir panjang aku pun langsung menghubungi Yana melalu via WhatsApp
"Selamat siang tuan putri"
"Lebay, siang juga pangeran ku"
"Sayang malam ini kita bisa ketemuan gak?"
"Jam berapa?"
"Sekitar jam 19:30, di cafe tempat biasa kita santai"
"Oke!".
Setelah w******p itu aku menunggu waktu yang begitu terlalu lama setiap kali aku selalu melirik jam tangan di pergelangan tangan kananku seolah aku seperti orang bodoh.
Akhirnya waktu yang di tunggu pun tiba aku lebih duluan datang di cafe yang sudah jadi tempat pertemuan dengan Yana malam ini, kurang lebih 10 menit aku menunggu Yana pun sampai dia mengenakan long dress yang berwana putih di hias sedikit dengan ornamen di bagian pinggang di padukan dengan hilss sehingga membuat kesan elegan seorang wanita dari diri Yana terpancar.
"Udah lama menunggu Wil?" Tannya Yana untuk membuyarkan lamunanku barusan.
"Sekitar 10 menit" aku pun melambaikan tangan kepada salah seorang waiters yang tidak jauh dari meja kita berdua, tidak perlu lama waiters itu menghampiri kita berdua dengan membawa daftar menu, dengan mempersilahkan melihat menu,
"Silahkan bang kak, mau pesan apa?"
Tampa pikir panjang Yana langsung pesan es Blue Ocean.
"Es Blue ocean 1 ya bang gak usah manis ya, terus kamu pesan apa Wil?"
"Americano"
"Oh ya bang stik keju 1 ya"
Setelah kita menyelesaikan pesanan pelayan pun pergi meninggalkan kita berdua. Yana menatap aku begitu juga aku Yana selalu dengan pertanyaan nya apa bila kita setiap bertemu.
"Apa kabar kamu hari ini Wil?"
"Baik" aku menunduk sesekali aku melemparkan pandangan ke langit yang begitu gelap tapi di sempurnakan dengan cahaya bintang.
"Kamu sendiri bagai mana?, Bagai mana dengan pekerjaannya hari ini?"
"Kayak biasa Wil"
Tidak begitu lama waiters pun membawa minuman dan makanan yang telah kita pesan tadi.
"Silahkan bang kak" setelah itu waiters itu pun pergi lagi meninggalkan kita berdua.
"Oh ya wil tumben kamu ngajak santai malam begini?"
Aku mulai bingung menjawab, aku sedikit termenung dengan pernyataan tadi siang setelah bapak Yana menelfon, "apa aku tannya langsung dengan Yana?, Tapi tampaknya Yana tidak tahu apa-apa, atau Yana pura-pura supaya aku tidak terluka?" Seolah-olah di dalam kepala aku terasa seperti orang demo.
"Kamu kenapa Wil?" Tanya Yana kepadaku.
"Ya kagak apa-apa na, udah lama juga kita tidak pernah keluar bersamaan?"
"Ia juga sih" jawab Yana.
Hampir dua jam kita ngobrol, layaknya orang pacaran biasa tidak ada obrolan serius tentang kita berdua.