Felix membalas pesan itu dalam lima belas detik. Saya ke sana sekarang. Nadia membalas dalam sepuluh: Jangan. Besok pagi aja. Aku masih mau mandi, minum air hangat, dan memastikan pintu terkunci tiga kali. Felix mengirim satu kata: Baik. Lalu sunyi, dan Nadia nyaris bisa mendengar rahangnya mengeras lewat sinyal telepon.
Pagi berikutnya, pukul delapan, Nadia berdiri di dapur mansion Felix dengan rambut yang belum kering dan hidung yang belum sepenuhnya percaya dirinya aman.
Felix sedang membalik telur dadar. Dia memakai kaus polos dan celana rumah, dengan ekspresi orang yang sudah menyiapkan sarapan dua kali karena yang pertama gosong oleh gelisahnya sendiri. Dua piring tertata di meja dapur. Satu cangkir teh tawar hangat di sisi kiri.
“Duduk,” kata Felix. “Makan dulu. Cerita sesudahnya.”
“Aku bisa cerita sambil makan.”
“Saya tidak bisa mendengar sambil makan.”
Nadia menurut. Dia menyuap telur dadar, mengunyah, dan baru ketika Felix duduk di seberangnya dengan tangan terlipat, dia meletakkan garpu dan mulai bicara.
Dia menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir: kamus Spanyol di depan pintu, catatan istilah kontrak, ajakan makan siang, boneka kucing di pasar malam, teh tawar hangat yang tidak pernah dia sebut, warung nasi uduk, payung hitam, dan pernyataan di lobi. Dia mengulang kalimat Evan kata demi kata, termasuk dua kalimat terakhir. Dia bukan pria yang pantas untukmu. Saya bisa menunggu.
Felix tidak memotong sekali pun. Ketika Nadia selesai, dia menatap cangkir teh di samping piringnya lama.
“Nama lengkapnya?”
“Evan. Aku nggak tahu nama belakangnya.”
“Rere tahu.” Suara Felix datar dan tenang, terlalu tenang. “Hari ini juga dia akan dipindahkan ke cabang paling jauh. Saya akan telepon kepala divisinya hari ini dan...”
“Felix.”
“...mencabut akses foldernya, memanggil HRD...”
“Felix.”
Felix berhenti. Nadia menaruh telapak tangan di atas meja, di antara piring mereka.
“Nggak.”
“Nad, dia menguntitmu.”
“Dia nunjukin hal yang bikin aku nggak nyaman, iya. Dia nyatain perasaan, aku tolak, dia bilang bisa nunggu.” Nadia mengambil napas. “Itu menyebalkan. Tapi belum ada yang dia lakukan yang bisa dituntut. Kalau kamu pindahin dia sekarang pakai kuasa pemilik, apa yang orang lihat?”
“Seorang bos melindungi...”
“Seorang bos yang memindahkan karyawan karena pacarnya nggak nyaman.” Nadia menggeleng. “Dan semua orang kantor yang tadinya cuma bisik-bisik soal foto bakal punya cerita baru. ‘Pacar Pak Felix bikin orang dipindah.’ Evan jadi korban. Aku jadi tukang bikin masalah. Pak Lucas bilang kuman gosip dibersihkan dengan hasil kerja, ingat? Bukan dengan surat pindah.”
Felix mengerutkan dahi. “Jadi kamu mau membiarkan dia?”
“Aku mau prosesnya jalan. Kalau dia ngelanggar sesuatu, ada HRD, ada Pak Lucas, ada Rere. Aku bakal laporin dan semua tercatat.” Nadia menatap Felix tanpa berkedip. “Biar prosesnya jalan. Aku mau menang tanpa kamu.”
Dapur senyap. Bunyi jam dinding terdengar sampai ke sudut.
“Itu kesepakatan kita,” lanjut Nadia, lebih pelan. “Kamu nggak putusin sendiri. Aku udah cerita semua ke kamu, itu janji keterbukaan yang kuambil. Sekarang giliran kamu menepati bagianmu: dengar aku, dan jangan bertindak sebelum aku bilang boleh.”
Felix menarik napas panjang sampai cuping hidungnya melebar. Tangannya mengepal di atas lutut, lalu perlahan membuka.
“Baik,” katanya. “Tapi saya mau satu hal.”
“Apa?”
“Kalau kamu merasa tidak aman, kamu bilang. Saat itu juga. Bukan nunggu besok.”
“Janji.”
“Dan kamu tidak pulang jalan kaki lagi.”
“Itu bukan keputusan sepihak?”
“Itu permintaan.” Felix menahan senyum tipis. “Saya belajar.”
Nadia tertawa, kali pertama sejak semalam, dan ketegangan di bahunya turun beberapa derajat. Dia menghabiskan telur dadarnya.
“Satu lagi,” kata Nadia sambil mengelap bibir. “Aku mau nyatat semuanya. Tanggal, jam, apa yang dia bilang. Di ponsel aku, rapi, biar nanti kalau perlu aku bisa nunjukin ke Bu Wati atau Pak Lucas.”
“Itu bagus.”
“Dan kamu nggak boleh nyatat apa pun diam-diam.”
“Rere sudah menyimpan rekaman kamera lobi sejak foto itu tersebar. Itu prosedur, bukan urusan Evan.” Felix mengangkat tangan sebelum Nadia sempat mengernyit. “Saya hanya memberi tahu. Tidak menambah apa pun.”
“Oke. Itu boleh.” Nadia mengangguk. “Kamera lobi doang.”
Felix mendorong cangkir teh tawar itu lebih dekat padanya dengan satu jari. “Ini buatan saya. Bukan karena saya memperhatikan. Karena kamu bilang, di dapur apartemenmu, enam bulan lalu.”
“Kamu inget?”
“Saya mencatat dengan cara saya sendiri.” Felix menunduk pada piringnya. “Bedanya saya bertanya dulu.”
Nadia menggigit bibir bawah supaya tidak tersenyum terlalu lebar.
***
Mereka pindah ke teras belakang. Matahari pagi baru menyentuh pucuk pohon mangga, dan embun masih menggantung di rumput. Felix duduk di ayunan rotan, Nadia di sebelahnya dengan kaki dilipat. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
“Kamu sudah menepati janjimu,” kata Felix akhirnya. “Giliran saya.”
“Giliran apa?”
“Ada sesuatu yang belum pernah saya ceritakan. Tentang kapan saya mulai memperhatikanmu.”
Nadia menoleh. Dia tidak berani bernapas terlalu keras.
“Dua tahun lalu. Ulang tahunmu yang kedua puluh dua.” Felix memandang halaman, bukan wajahnya. “Ada pesta kecil di restoran keluarga. Kamu dipaksa Edgar naik panggung dan menyanyi.”
“Oh, jangan,” erang Nadia. “Jangan yang itu.”
“Kamu menyanyikan lagu NCT dengan suara sumbang. Kamu lupa liriknya di tengah, jadi mengarang. Kamu tertawa sendiri di depan mikrofon sampai kehabisan napas, dan semua orang ikut tertawa.” Suaranya turun, pelan, hati-hati. “Saya duduk di meja paling belakang dan tidak bisa berhenti menatapmu. Saya pikir itu hanya hiburan. Ternyata saya tidak bisa mengalihkan mata.”
“Kenapa lagu NCT? Kenapa nggak lagu yang lain aja?”
“Kamu yang pilih, bukan saya. Kamu bilang itu lagu yang kamu putar kalau lagi stres.” Felix menatap telapak tangannya. “Kamu bernyanyi seolah-olah tidak ada yang menilai. Saya belum pernah melihat seseorang seperti itu.”
“Itu... cinta?”
“Bukan. Waktu itu saya kira hanya daya tarik. Saya belum menyebutnya apa-apa.” Felix akhirnya menoleh. “Saya baru tahu ada sesuatu yang aneh ketika pulang dan tidak bisa tidur karena lagu itu terus berputar di kepala saya.”
Nadia menutup wajah dengan kedua tangan. “Mampus. Lagu NCT sumbang dan lo suka. Wow.”
“Kamu bicara ‘lo’ lagi.”
“Ish, itu batin.” Nadia mengintip dari sela jari. Pipinya merah. “Jadi... kamu nggak bilang dari dulu?”
“Saya tidak tahu cara mengatakannya. Dan hari itu saya belum tahu apa-apa.”
Mereka tidak berbicara lagi. Tetapi Nadia menggeser kakinya perlahan dan membiarkan lututnya menyentuh lutut Felix, dan Felix tidak bergeser.
Di balik pintu kaca yang terbuka sedikit, di ujung lorong yang menghubungkan dapur dengan teras, Gladys berdiri membawa nampan berisi teh dan roti panggang. Dia berhenti begitu mendengar potongan kalimat yang tidak dia duga. Bernyanyi sumbang. Tidak bisa berhenti menatap. Tangan di nampan bergetar halus, dan cangkir-cangkir di atasnya berdenting.
Dia mundur satu langkah, lalu dua, hingga punggungnya hampir menabrak dinding.
“Gladys.”
Gisel berdiri di anak tangga dekat pintu dapur dengan jaket bulu dan kacamata di ujung hidung. Matanya menurun pada nampan yang masih bergetar, naik lagi ke wajah Gladys yang pucat, lalu ke pintu kaca di belakangnya.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangkat sebelah alis, lalu menunjuk nampan itu dengan dagunya.