Kaget yang amat sangat tadinya tidak apa-apa Tobias sekarang malah bablas kehilangan kesadaran, tak seberapa lama dia membuka kembali matanya lalu duduk sambil memegangi kepala menanti kesadaran kembali bersemayam, mata mengedar ke langit-langit nampak gelap gulita, merasa bukan malam tetapi hawa terasa mencekam seperti didalam sebuah goa disertai suara gemercik air yang berasal entah dari arah mana.
"Gua lagi mimpi kah? Atau ... jangan-jangan masuk novel?" Teringat bacaan Novel terakhir mengenai genre yang modelan tubuh bertransmigrasi ke alam lain dia mengira hal tak lazim sedang benar-benar terjadi.
Plak! Plak! Plak!
"Gak gak gak, gua gak mimpi! Gua hidup nyata!" Menepuk-nepuk pipi sembari menghela napas kasar lalu mencoba bangun.
Meski payah hampir kembali terlentang tetap bangkit menyeimbangkan badan
"Awh"
Duduk, kepala pusing nyut-nyutan tak karuan sekujur tubuh terasa nyeri akibat terguling-guling lalu mengedar mata ke sekeliling.
Tak jauh dari tempat duduknya, berdiri sesosok pria misterius telanjang tanpa busana membawa daun kering ditangan, pria ini yang terakhir kali ia lihat selepas terperosok dan teguling di tempat ini.
Meski masih kaget melihat sosok gondrong kayak gondorukem tetapi ia sudah tidak sekaget tadi.
Ia pandangi dengan baik tubuh pria itu dari ujung kaki nampak benda semacam rantai melingkar di kaki, rantai besi yang berkarat melekat amat ketat seakan ukuran yang dipaksakan.
Bola mata Tobias lalu bergerak pelan menyusuri tubuh pria dihadapan semakin ke atas, nampak jenis kulit putih yang tertutup bulu hitam cukup lebat. Sepontan sedikit memejamkan mata saat melihat di area intim si pria, k****l yang dikenal juga sebagai p***s berukuran besar menjulang dengan pangkalnya yang ditumbuhi bulu j****t hitam dan lebat semrawut.
Semakin naik ke atas perutnya nampak indah, lengan berotot, sekilas terpikir mungkinkah pria ini mahluk atlet purba? Tapi ... adakah tempat-tempat mengolah otot di jaman purba? Akh, macam-macam saja, sepertinya ini bentuk karunia alam yang nyata!
Tinggi badan yang sempurna definisi dambakan seluruh kaum hawa dan adam, d**a yang bidang, sorot mata setajam elang, alis tebal nyaris menyatu, hidung mancung, wajah yang tampan tertutup jenggot dan kumis yang sesama tebal, rambut lurus hitam dengan ditumbuhi sedikit uban sepanjang 375 cm.
Benar, pria itu adalah Abby. Perjaka kecil yang difitnah kemudian dirantai dan dikurung didalam tempat misterius. Selama 25 tahun dia hidup didalam goa misterius ini, kini dia sudah tumbuh menjadi pria dewasa usia 39 tahun.
Yang menjadi pertanyaannya bagaimanakah dia bisa hidup selama ini, dengan kondisi di rantai sepanjang 7 meter dan juga didalam tempat misterius ini?
"El-elo si-siapa?" Dengan kosa kata terbata Tobias bertanya.
Pria tinggi berambut panjang dan telanjang itu tersenyum, melangkah maju semakin mendekati Tobias yang masih duduk, menyodorkan air yang ditampung di daun kering.
"Nih buat kamu"
Tobias menelan ludah dan mengaga, bukan karena rasa haus yang sedang dirasakannya tetapi karena melihat k****l besar menjulang sedang berada tepat didepan wajahnya.
"Ayo minum" Abby menyodorkan air didalam wadah daun waru kuning itu ke mulut Tobias dengan tidak sadar air pun mengalir masuk ke mulut Tobias yang sedang menganga.
"Uhuk, uhuk, uhuk," Tobias tersedak ketika air masuk di kerongkongan.
"Kamu tidak apa-apa?" Abby menepuk-nepuk pelan pundaknya.
"Enggak, gua enggak papa. Btw lo siapa? Apakah Lo bisa bahasa gua?"
"Gua?" - Abby
"Iya elo"
"Elo?" - Abby terlihat bingung.
"Iya elo"
"....? Elo, elo apa ya, Elo?" Mata Abby mengedar kesana-kemari seakan sedang mengingat-ngingat apa dari arti kosa kata itu.
"Maksudku engkau, dikau, dirimu, kamu adalah Elo, elu, lo, lu, loe" Tobias menyadari, mungkin cowok misterius ini kurang mengerti bahasa random terkini.
"Oh ... gitu elo lu lo ya hehe" Wajah tegas dan tubuh tinggi besar itu seakan musnah ketika Abby berbicara. Tingkah polah, gaya bicara dia masih seperti anak-anak remaja yang polos. Biarpun tubuh membesar dan usia semakin bertambah tetapi jiwa dan pikirannya masih tertinggal di usia 14 tahun.
Jangan dibandingkan dengan anak remaja Zaman sekarang yang sudah pintar bantuan gadget.
Bahasa Lo/Gue sebenarnya sudah tenar sejak tahun 70-an tetapi sepanjang Abby kecil sampai usia 14 tahun dia tidak mengenali kosa kata itu, karena jarang mendengarkan radio apalagi menonton televisi yang mana pada zaman itu televisi masih jarang dimiliki di desa-desa dan juga Abby bukan tipikal remaja yang aktif kala itu, dia sangat polos dan juga lugu.
"Nama kamu siapa?" Tobias bertanya sembari mengamati lagi sekeliling.
"Namaku Abby, lalu siapa nama kamu?"
"Nama gua Tobias, Ahh malah gua lagi, maksudku nama aku Tobias. Lalu ... kenapa kamu bisa berada disini?"
Abby tidak menjawab malahan seperti tidak kedip mata melihat wajah Tobias. Sedang Tobias berdiri, mengamati ujung rantai yang melilit kaki pria ini.
"Ya ampun" Tobias melihat ada sebuah benda yang keras pengait ujung rantai yang melilit kaki Abby.
"Kamu ... kamu begini karena di kurung kah disini?"
Abby mengangguk.
"Gila, siapa yang melakukan hal kampungan ini samamu?" Tobias berencana mendekati ujung rantai itu, tapi malah kaki terserimpet.
"Awh bangke!"
"Kamu tidak apa-apa?" Abby gesit menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.
Sekarang kedua mata mereka melihat satu sama lain terpaku beberapa saat seperti adegan drama yang diputar lambat.