Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Chloe duduk di ruang keluarga, tepat di sofa berwarna krem yang selama ini menjadi tempatnya bersandar sambil menonton film bersama keluarga. Namun kali ini, televisi mati. Lampunya pun tidak seterang biasanya. Suasana terasa berat, seolah udara di ruangan itu ikut menahan napas.
Ayah dan ibunya duduk berhadapan dengannya.
Chloe menggenggam jemarinya sendiri, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa gugup. Ia menatap wajah kedua orang tuanya bergantian, mencari petunjuk dari sorot mata mereka. Namun yang ia temukan hanyalah keseriusan yang jarang ia lihat.
“Ada apa, Yah?” tanyanya akhirnya, suaranya pelan namun jelas.
Ayahnya menghela napas panjang, lalu melirik istrinya sejenak sebelum kembali menatap Chloe. “Chloe, apa pun yang akan Ayah dan Ibu sampaikan malam ini, kami ingin kamu mendengarkan sampai selesai.”
Jantung Chloe berdegup lebih cepat.
“Iya, Yah,” jawabnya, meski perasaannya mulai tidak tenang.
Ibunya meraih tangan Chloe dan menggenggamnya lembut. Sentuhan itu hangat, penuh kasih, namun justru membuat d**a Chloe semakin sesak.
“Chloe,” kata sang ibu perlahan, “kamu tahu Ayah dan Ibu selalu ingin yang terbaik untukmu.”
Chloe mengangguk. Ia tahu itu. Selalu tahu.
“Ayah dan Ibu sudah lama mengenal sebuah keluarga,” lanjut ayahnya, “keluarga baik, terpandang, dan memiliki nilai hidup yang sejalan dengan kita.”
Chloe mulai merasakan firasat yang tidak ia sukai.
“Kami sudah lama menjalin hubungan baik dengan mereka,” tambah ibunya. “Dan beberapa waktu lalu… mereka menyampaikan niat.”
“Niat apa, Ma?” suara Chloe nyaris berbisik.
Ayahnya terdiam sejenak, lalu mengucapkan kata itu dengan nada hati-hati, seolah takut melukai putrinya.
“Perjodohan.”
Kata itu menggantung di udara.
Perjodohan.
Chloe membeku. Dunia seakan berhenti bergerak. Ia tidak langsung bereaksi. Otaknya mencoba mencerna, tetapi hatinya menolak.
“Perjodohan?” ulangnya lirih, hampir tak terdengar.
Ibunya mengangguk pelan. “Iya, Sayang.”
Chloe menarik tangannya perlahan. Bukan karena marah, melainkan karena dadanya terasa terlalu penuh. Matanya memanas, namun ia berusaha keras menahan air mata.
“Tapi… aku masih 17 tahun,” ucapnya akhirnya. “Aku baru mulai kuliah.”
“Kami tahu,” jawab ayahnya cepat. “Dan ini bukan keputusan yang kami ambil dengan ringan.”
Chloe berdiri dari sofa, berjalan beberapa langkah menjauh. Tangannya gemetar. Ia merasa seperti seseorang yang tiba-tiba didorong ke jurang tanpa sempat bersiap.
“Kenapa sekarang?” tanyanya, suaranya mulai bergetar. “Kenapa harus aku?”
Ibunya ikut berdiri, mendekat. “Karena kamu istimewa, Chloe. Dan karena kami percaya kamu mampu.”
Chloe menggeleng. “Aku belum siap, Ma. Aku bahkan belum pernah memikirkan pernikahan.”
Itu bukan penolakan yang kasar. Itu jeritan seorang gadis muda yang takut kehilangan masa depannya.
Ayahnya menatap Chloe dengan sorot mata penuh pertimbangan. “Pria itu baik, mapan, dan bertanggung jawab. Dia jauh lebih dewasa.”
“Berapa usianya?” tanya Chloe pelan.
Ayahnya terdiam sejenak. “Dua puluh empat.”
Chloe terhenyak.
“Tujuh tahun?” suaranya nyaris pecah.
Ibunya menggenggam bahunya. “Usia bukan segalanya.”
“Bagiku iya,” jawab Chloe jujur. “Aku bahkan belum mengenalnya.”
“Kamu akan mengenalnya,” jawab ayahnya. “Perjodohan ini tidak akan dilakukan tanpa persetujuanmu. Kami tidak akan memaksamu.”
Namun kata-kata itu terdengar samar di telinga Chloe. Yang ia dengar hanyalah satu hal: hidupnya sedang diarahkan ke jalan yang tidak pernah ia pilih.
Malam itu, Chloe mengurung diri di kamar.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding kosong. Kepalanya dipenuhi pertanyaan. Siapa pria itu? Bagaimana sifatnya? Apakah ia akan mengerti bahwa Chloe masih sangat muda?
Air mata akhirnya jatuh, satu per satu.
Bukan karena marah. Melainkan karena takut.
Di belahan kota yang lain, reaksi yang terjadi sangat berbeda.
Gavin duduk di kursi kerja ayahnya, tubuhnya tegak, wajahnya tanpa ekspresi. Ruangan itu dipenuhi aroma kayu dan buku-buku tua. Lampu meja menyala redup, menciptakan bayangan tegas di wajah Gavin.
“Saya tidak tertarik,” ucapnya datar.
Ayahnya menghela napas. “Kamu belum mendengarnya sampai selesai.”
“Saya tidak perlu,” jawab Gavin. “Pernikahan bukan prioritas saya.”
“Kamu terlalu lama menjadikan pekerjaan sebagai alasan,” balas ayahnya tenang.
Gavin menyandarkan punggungnya. “Perusahaan membutuhkan saya. Itu cukup.”
Ayahnya menatapnya tajam. “Perusahaan bisa berjalan. Tapi hidupmu?”
Gavin terdiam.
“Gadis itu berasal dari keluarga baik,” lanjut ayahnya. “Dididik dengan benar. Lembut, cerdas, dan tidak manja.”
Gavin mengernyit. “Berapa usianya?”
“Tujuh belas.”
Gavin mengangkat wajahnya tajam. “Terlalu muda.”
“Kamu tidak akan menikahinya sekarang,” jawab ayahnya cepat. “Ini perjodohan. Proses.”
Gavin terdiam cukup lama. Ia memijat pelipisnya. Ia tidak nyaman. Bukan karena gadis itu, melainkan karena ia tidak suka hidupnya diatur.
“Saya tidak butuh istri,” ucapnya akhirnya.
Ayahnya berdiri. “Kamu butuh seseorang yang mengingatkan bahwa kamu manusia, bukan mesin.”
Kata-kata itu menghantam sesuatu di dalam diri Gavin.
Ia teringat malam-malam sunyi di apartemennya, makan malam sendirian, ulang tahun yang dilewati tanpa ucapan. Namun ia terlalu terlatih untuk mengabaikan perasaan itu.
“Aku akan mempertimbangkannya,” ucapnya dingin.
Ayahnya mengangguk. “Itu sudah cukup.”
Malam-malam berikutnya terasa berat bagi Chloe.
Ia tetap menjalani kuliah, tetap tersenyum di depan teman-temannya, tetap menjadi Chloe yang dikenal semua orang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang tak kunjung hilang.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan pria asing itu muncul. Pria yang mungkin akan menjadi suaminya. Pria yang bahkan belum ia kenal namanya.
Ia merasa kecil.
Tak berdaya.
Namun di sisi lain, ada suara kecil dalam hatinya yang berkata: mungkin ini bukan sekadar paksaan.
Sementara itu, Gavin mulai memikirkan hal yang selama ini ia hindari.
Tentang rumah.
Tentang kehangatan.
Tentang seseorang yang mungkin tidak takut pada dinginnya dirinya.
Ia belum bertanya nama gadis itu.
Belum ingin tahu wajahnya.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menolak.
Dua jiwa yang belum saling mengenal, sama-sama gelisah di bawah langit malam yang sama.
Dan tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka mulai menyempit.
Malam semakin larut, namun Chloe belum juga terlelap. Lampu kamar sengaja ia biarkan mati, hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, menciptakan bayangan samar di dinding. Ia memeluk bantal erat, seolah benda itu satu-satunya yang mampu menahan perasaannya agar tidak runtuh sepenuhnya.
Ia mencoba menenangkan diri, mengingat kata-kata ayahnya bahwa perjodohan itu tidak akan memaksanya. Namun tetap saja, kenyataan bahwa keputusan besar tentang hidupnya sudah dibicarakan tanpa kehadirannya terasa menyakitkan.
“Aku masih anak-anak,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Chloe bukan tidak memahami niat baik orang tuanya. Ia tahu, mereka tidak akan menyerahkannya pada pria sembarangan. Namun tetap saja, membayangkan hidup bersama seseorang yang jauh lebih dewasa, asing, dan datang dari dunia yang sama sekali berbeda membuat dadanya sesak.
Ia memikirkan kuliahnya, mimpinya, hal-hal sederhana yang selama ini ia anggap pasti: lulus tepat waktu, bekerja, belajar mandiri, jatuh cinta secara perlahan. Kini semuanya terasa seperti benang kusut yang tiba-tiba ditarik paksa.
Air mata kembali mengalir, kali ini lebih tenang. Bukan tangisan keras, melainkan isak yang tertahan—tanda seseorang yang sedang belajar menerima, meski belum mampu sepenuhnya.
Di tempat lain, Gavin berdiri di balkon apartemennya. Kota terbentang luas di hadapannya, lampu-lampu jalan terlihat seperti titik-titik cahaya tanpa suara. Angin malam menerpa wajahnya, namun tidak cukup dingin untuk menyingkirkan pikirannya.
Tujuh belas tahun.
Usia itu terus terngiang di kepalanya.
Ia membayangkan seorang gadis muda yang mungkin masih sibuk dengan dunia kecilnya, tertawa bersama teman, memikirkan tugas kuliah, dan belum pernah benar-benar menghadapi kerasnya hidup. Gavin mengernyit. Ia tidak menyukai ketimpangan itu.
“Apa yang Ayah pikirkan?” gumamnya.
Namun di saat yang sama, ia tidak bisa menyangkal sesuatu yang aneh—rasa penasaran. Bukan rasa tertarik, melainkan dorongan untuk tahu. Seperti sebuah pintu yang selama ini tertutup rapat, kini diketuk pelan.
Untuk pertama kalinya, Gavin bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah hidupku akan selalu seperti ini jika aku terus menolak?
Ia menghela napas panjang, menegakkan bahu, dan kembali masuk ke dalam apartemen yang sunyi. Meja makan yang kosong, sofa tanpa penghuni, dan keheningan yang terlalu familiar menyambutnya.
Sementara Chloe berusaha memahami masa depan yang tiba terlalu cepat, Gavin mulai menyadari bahwa mungkin, justru gadis muda itu akan menjadi perubahan yang tidak pernah ia rencanakan.
Perjodohan ini belum terjadi.
Belum disepakati.
Belum disatukan.
Namun perlahan, tanpa disadari keduanya, takdir mulai bekerja—diam, sabar, dan tak bisa dihentikan.