"Kamu tidak ingin pergi ke tempat lain setelah ini?" Daniel bertanya setelah mereka selesai makan steak. Mereka berdua terlihat belum selesai dengan apa yang dibicarakan sebelum pesanan mereka datang tadi.
"Kita pulang sekarang, besok aku harus bekerja." Ceisya sudah berdiri dana tentu saja Daniel menyusulnya berdiri.
"Benar, aku juga butuh perusahaan lain untuk mengurus pembangunan pabrik. Mungkin besok akan lebih sibuk lagi." Daniel mengatakan sesuatu yang membuat Ceisya melihat ke arah laki-laki itu.
"Bukankah dengan Anang itu tentang proyek pembangunan pabrik kan?" Ceisya bertanya sambil berjalan menuju ke kasir.
"Benar. Tapi aku memutuskan untuk mencari yang lain saja." Daniel menjawab cepat sambil mengeluarkan uang dari dompetnya. Setelah membayar mereka berdua kemudian menuju ke tempat parkir dan naik mobil.
"Kenapa mencari yang lain? Aku tahu perusahaan milik Anang cukup banyak menanggani proyek pembangunan dan tentu saja cukup bagus." Ceisya kembali mengatakan apa yang dia ketahui.
"Benarkah? Tapi kenapa sikapnya begitu?" Daniel menyalakan mesin mobil dan kemudian membayar parkir dari jendela mobilnya.
"Kamu akan mengantarkan aku pulang?" Ceisya bertanya meski dia sebenarnya sudah mengetahui jawabannya.
"Tentu saja, apa kamu keberatan? Lagipula sudah malam begini. Jika kamu tidak ingin pergi kemanapun sebaiknya langsung pulang." Daniel dengan santai menjawab.
"Kalau begitu ambil jalan yang sebelah kanan." Ceisya mengarahkan Daniel yang mengemudi.
"Kenapa kamu tidak membicarakan tentang Anang dan juga apa yang dia katakan ketika makan siang tadi?" Daniel mulai berterus terang tentang rasa ingin tahunya.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Ceisya bertanya sambil terus memperhatikan jalanan untuk mengarahkan Daniel.
"Tentang yang Anang bicarakan." Daniel menjawab singkat tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Ah... Aku pernah berhubungan dengannya, tapi hanya sekali pergi nonton. Dia juga datang ke rumah. Kami membicarakan pernikahan dan biaya yang akan dikeluarkan. Tapi semuanya berakhir." Ceisya mengatakan sesuatu yang membuat Daniel terdiam.
"Bukankah penjelasannya terlalu sederhana?" Daniel memprotes apa yang baru saja dia dengar.
"Ya memang hanya seperti itu, aku ingin segera melupakan jika memang tidak punya perasaan atau tidak berlanjut." Ceisya mejawab dengan santai.
"Mungkin karena itu dia kesal dan terluka?" Daniel tersenyum dan menoleh sebentar melihat reaksi dari Ceisya.
"Menurutku dia juga sebenarnya tidak sesuka itu kepadaku. Mungkin hanya egonya saja, karena dia juga dekat dengan Rama." Ceisya menyebutkan nama laki-laki lain yang membuat Daniel tersenyum.
"Banyak sekali laki-laki dalam hidupmu ternyata." Daniel memberikan sindiran halus kepada perempuan yang kemudian tersenyum.
"Apa kabar kamu dengan banyak perempuan? Kamu bahkan dua kali lipat lebih banyak. Dan semuanya kamu ajak pergi meski hanya sekedar makan bukan?" Ceisya langsung memberikan omelan yang cukup panjang karena di merasa punya kesempatan.
"Aku tentu sudah jelas karena menyandang sebuah status yang cukup terkenal kan? Sedangkan kamu, bukankah kamu tidak sepert aku?" Daniel tersenyum menoleh lagi. Mereka sudah sampai di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas tanpa pagar.
"Jadi in rumahmu?" Daniel tersenyum dan memperhatikan sekeliling. Ceisya hanya mengangguk pelan.
"Bukankah apa yang aku minta itu sama dengan apa yang kita lakukan dulu?" Daniel akhirnya membuka obrolan setelah mematikan mesin mobil.
"Tapi sekarang aku tidak ingin melakukan hal seperti itu lagi. Lagi pula kita sudah lebih dewasa untuk tidak lagi main-main seperti itu." Ceisya benar-benar menolak apa yang Daniel katakan saat ini.
"Jadi kamu tidak ingin main-main? Kamu akan menganggap semuanya serius?" Daniel bertanya sambil menatap Ceisya yang juga menoleh melihat ke arahnya.
"Ah... Bukan begitu maksudku. Di saat semua orang sedang penasaran siapa yang dekat dengan kita, maka akan canggung jika kita hanya dekat dan akhirnya tidak bersama." Ceisya buru-buru menjelaskan yang dia maksud agar Daniel tidak salah paham.
"Begitukah? Karena kamu bertambah dewasa maka kamu memikirkan semua ini?" Daniel bertanya karena dia semakin ingin tahu.
"Bukan juga si, mungkin karena aku sering becanda dan pada akhirnya orang yang aku sukai juga menganggap jika kedekatan kami sama dengan yang lain. Karena itu aku tidak ingin lagi melakukan hal seperti itu. Aku dan Zaki, aku juga sering menegaskan kepada laki-laki itu meski dia justru menyatakan keseriusannya." Ceisya tersenyum sedikit tanpa melihat ke arah Daniel.
"Tapi kamu tidak menerima dia?" Daniel bertanya singkat kepada Ceisya.
"Dia layak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku. Aku sepertinya sulit menerima seseorang yang terlalu baik." Ceisya tersenyum sambil menyalahkan dirinya sendiri.
"Kenapa selalu menggunakan alasan klise seperti itu?" Daniel seolah tidak menerima jawaban dari Ceisya itu.
"Mungkin kamu menganggap itu alasan yang klise, tapi aku benar-benar serius dengan alasan itu. Memangnya kamu sudah tidak menggunakan alasan seperti itu lagi?" Ceisya langsung melihat ke arah Daniel dan terseenyum.
"Aku tidak pernah menggunakan hal seperti itu sebagai alasan, bukankah itu terlalu kejam?" Daniel kembali menyerang Ceisya.
"Lalu dengan dalih ingin berteman dan butuh teman bicara? Terdengar kamu butuh banyak cadangan tapi sudah merencanakan pernikahan dengan orang lain?" Ceisya membuat Daniel terdiam dan menatapnya. Laki-laki itu sedikit bingung tapi tidak mengatakan apapun untuk membalas ucapan Ceisya.
"Sudahlah, terimakasih untuk hari ini. Mungkin sebaknya, lain kali kita tidak perlu banyak membicarakan masalah pribadi kita satu sama lain." Ceisya membuka pintu mobil dan kemudian dia turun. Dari jauh Ceisya melihat seseorang yang duduk di teras rumahnya itu. Bapaknya sedang menunggu putriny pulang.
Daniel mengendarai mobilnya perlahan, seperti tadi pagi beberapa kali dia berputar dan salah jalan. di tengah kebingungannya itu ponsel pintarnya berbunyi. Ada sebuah panggilan video.
"Hey you?" Seseorang menyapanya di layar ponsel pintarnya itu. Daniel menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa?" Daniel bertanya kepada orang dengan wajah yang hampir terlihat sama persis dengannya di layar ponsel itu.
"Salahkah jika aku bertanya kabar? Kamu dinas luar? Mama telepon aku dan curhat gitu kamu gak di rumah." Laki-laki dengan wajah yang sama dengan Daniel itu bercerita.
"Iya dinas luar. Lagian mama itu kaya aku anak tunggal aja, kan ada kakak di rumah. Kamu juga sebaiknya sering-sering datang sama istrimu." Daniel tersenyum seolah memang merindukan sosok di layar ponselnya itu.
"By the way, kamu lagi ada sesuatu yang dipikirkan? Sepertinya kamu ketemu seseorang di sana." Daniel tersenyum mendengar pertanyaan dari saudara kembarnya itu.
"Hem... Sampai kapan aku bisa punya privasi? Padahal aku tidak pernah seperti itu ke kamu." Daniel seolah sedang memprotes karena diperingatkan.
"Aku hanya merasa sepertinya kamu ragu, tapii kamu suka." Laki-laki yang merupakn kembaran Daniel itu tertawa di layar ponsel milik Daniel. Tentu saja membuat Daniel tersipu dan kesal sekaligus.
"Kadang aku suka punya saudara kembar, tapi masa bahkan gak ketemu bisa begini. Apa kita gak bisa masing-masing aja gitu?" Daniel mengomel meski dia kemudian tersenyum pada saudara kembarnya itu.
"Sudah bukan waktunya untuk main-main, ingat terakhir kali kamu main-main berakhir seperti apa. Perempuan juga gak layak diperlakukan seperti itu." Saudara kembar Daniel memberikan nasehat yang disambut anggukan oleh Daniel di layar ponselnya.
"Sudah dulu ya, lanjut nanti. Aku masih di jalan." Daniel menjelaskan situasinya lagi.
"Oke, chat atau telepon jika kamu butuh tips yang benar. Please, serius lah kali ini." Saudara kembar Daniel memberikan nasehat dan kemudian layar ponsel itu menghitam menandakan panggilan video itu berakhir.
"Serius, jika perempuannya bisa di dekati dengn cara seperti itu. Aku merasa Ceisya akan langsung menolak jika aku mengajaknya berhubungan dengan serius." Daniel bergumam dan memegang keningnya sesaat. Persoalan seperti ini lebih membuatnya panik dari pada masalah pekerjaan.