Elang duduk di bangku kayu di depan bengkel kecil yang ia miliki di desa terpencil. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam. Desa ini, yang jarang ada keramaian, adalah tempat yang ia pilih untuk melupakan masa lalu. Di sinilah ia mencoba mencari kedamaian, jauh dari kekacauan yang dulu ia hadapi. Kehidupannya kini hanya berfokus pada perbaikan mobil dan menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia hitam yang pernah ia tinggalkan. Dunia yang penuh kebohongan, manipulasi, dan kekerasan—semuanya ia tinggalkan begitu saja.
Setiap hari ia bekerja dengan tenang, mengutak-atik mesin mobil dan melayani penduduk desa yang datang dengan masalah kendaraan mereka. Tidak ada lagi teror atau ancaman yang mengusik pikirannya. Tidak ada lagi perasaan selalu dikejar atau diburu. Semua itu seperti mimpi buruk yang akhirnya lenyap begitu saja. Begitu ia meninggalkan dunia itu, ia merasa hidupnya kembali.
Namun, ketenangannya terganggu saat seorang wanita muncul di hadapannya. Amara. Wajahnya, meskipun bertahun-tahun berlalu, tak bisa ia lupakan. Sosok yang pernah ia cintai, wanita yang pernah mengisi hidupnya dengan harapan, namun akhirnya menghilang begitu saja dari hidupnya setelah tragedi yang tak bisa ia lupakan. Saat matanya bertemu dengan mata Elang, ada perasaan cemas dan takut yang tak bisa ia sembunyikan. Di tangannya, ia memegang tangan seorang gadis kecil, sekitar delapan tahun, yang hanya memandang Elang dengan ragu.
Elang terdiam, menatap Amara dengan rasa bingung yang mendalam. Ia merasa seperti melihat hantu dari masa lalu yang sudah lama ia kubur dalam-dalam. "Amara," suara Elang serak, hampir tak bisa mengenali dirinya sendiri. Suaranya yang dulu begitu keras dan tegas kini terdengar lemah, seperti orang yang sudah lama tidak berbicara.
Amara mengangguk, seolah tak bisa berkata-kata lagi, sebelum akhirnya membuka mulut dengan suara yang gemetar. "Aku butuh bantuanmu, Lang,"
Tatapan mata Elang semakin tajam, mencari-cari penjelasan. "Apa yang terjadi, Amara? Mengapa kau di sini? Apa yang terjadi denganmu?"
Amaramenggigit bibir bawahnya, tampak ragu untuk melanjutkan. Ia menunduk, seolah berpikir keras sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan, "Ini ziya," katanya, mengalihkan pandangannya ke gadis kecil di sampingnya. "Dia... putriku." Amara menghela napas berat, seolah perkataan itu keluar dengan penuh perjuangan, memaksa dirinya untuk mengatakan kata-kata yang berat itu. "Elang, kami dikejar oleh orang-orang yang sangat berbahaya. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi aku tahu mereka ingin menghancurkan kami. Mereka... mereka punya kaitan dengan masa lalumu."
Mendengar itu, dunia di sekitar Elang tiba-tiba terhenti. Tubuhnya kaku, dan udara di sekitarnya seolah menyempit. Semua kenangan buruk dari masa lalunya kembali muncul, seperti bayangan yang selama ini ia coba hindari. Merekah, bertahun-tahun jauh dari dunia gelap yang pernah ia kenal, namun kenyataan bahwa masa lalunya kembali mengejar, merayap ke dalam kehidupannya yang baru, membuatnya terdiam.
"Apa maksudmu... mereka punya kaitan dengan masa laluku?" tanyanya dengan suara bergetar. Wajahnya berubah pucat, dan matanya menunjukkan kebingungannya. Semua yang telah ia coba lupakan kini seperti mengejar-ngejar langkahnya.
"Aku... aku tidak tahu banyak,"Amara melanjutkan, suaranya sedikit terbata. "Tapi mereka mengenalmu, Elang. Mereka tahu siapa dirimu. Mereka... mereka adalah orang-orang yang dulu aku dan kamu hadapi bersama."
Elang mengalihkan pandangannya, menatap kosong ke tanah. "Aku sudah meninggalkan semuanya, Amara," jawabnya pelan, suaranya penuh penyesalan. "Aku tidak bisa terlibat lagi."
Amara tampak semakin cemas. "Elang, aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Mereka akan datang ke sini, dan aku tidak bisa melindungi ziya sendirian. Aku... aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kamu satu-satunya orang yang bisa melindungi kami."
Elang menatap wanita itu, matanya penuh rasa kasihan dan keraguan. Dia merasa hancur melihat Amara seperti ini, seperti wanita yang sudah kehilangan harapan. Di matanya, ada ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan. Begitu juga dengan Ziya, gadis kecil yang berdiri di samping ibunya, menatap Elang dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Ia tidak mengerti sepenuhnya, namun ia bisa merasakan ketegangan di sekitar mereka.
Elang menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke depan. Keputusan untuk menolak Amara datang dengan berat, tetapi ia merasa bahwa hidupnya yang kini damai jauh lebih penting daripada kembali ke dunia gelap yang pernah ia tinggalkan. Masa lalu yang penuh kekerasan dan pengkhianatan itu masih membekas dalam dirinya, dan ia tidak ingin melibatkan diri lagi.
"Amara, aku... aku tidak bisa membantumu," katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Kehidupanku sudah berbeda sekarang. Aku sudah meninggalkan semuanya. Ini bukan masalah yang bisa aku hadapi lagi."
Amara memandangnya dengan mata penuh harapan yang mulai memudar. Wajahnya memucat, dan ia tampak seperti baru saja dihantam oleh kenyataan yang sangat pahit. "Tapi Lang... ziya... ziya membutuhkan perlindunganmu," kata Anara, suaranya bergetar, hampir menangis.
Elang menggigit bibirnya. Setiap kata Amara seolah menusuk langsung ke dalam hatinya. Ia menginginkan untuk membantu, tapi ketakutannya terhadap masa lalu membuatnya ragu. “Aku sudah tidak bisa lagi. Aku hanya ingin hidup tenang, Amara. Aku... aku tak ingin kembali ke dunia itu.”
Amara terdiam, sesaat dia hanya menatap Elang. Perasaan bingung, marah, dan kecewa bergelayut di wajahnya. "Jadi, begitukah caramu melupakan semuanya? Kamu hanya meninggalkan kami begitu saja?" katanya dengan suara yang terdengar sangat terluka.
Elang merasakan sesak di dadanya. Ia tidak bisa menjawab. Tidak ada kata yang cukup untuk menjelaskan perasaan yang membelenggunya. Setelah sekian lama, ia mencoba untuk mengubur semua kenangan itu, tetapi kenangan tentang Amara dan rasa bersalah masih menyelimutinya.
Ziya, yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba menggenggam tangan Elang dengan lembut. "Om Elang... tolong," katanya dengan suara kecil namun penuh harap. "Kami takut."
Melihat wajah ziya yang polos, Elang merasa sebuah dorongan untuk melindungi mereka, meskipun ia tahu itu akan membawa dirinya kembali ke dalam kegelapan yang pernah ia tinggalkan. Namun, ia mengalihkan pandangannya dan berkata, "Aku tidak bisa. Kamu harus pergi, Amara. Carilah orang lain."
Air mata mulai mengalir di wajah Amara, tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Amara menarik Ziyake pelukannya dan berjalan mundur, tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Saat mereka berdua berjalan menjauh, Elang berdiri, hatinya penuh dengan perasaan campur aduk. Ia ingin berlari mengejar mereka, menawarkan perlindungan, tetapi ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang dalam dirinya tidak ingin terjebak lagi dalam dunia itu. Namun, di sisi lain, ada rasa tidak nyaman yang menempel di hati Elang, seperti ada bagian dari dirinya yang merasa bersalah.
Amara dan ziya menghilang di balik kabut pagi, meninggalkan Elang dengan kepenatan yang semakin dalam.