Dua hari telah berlalu sejak Elang dirawat di tempat persembunyian itu. Luka tembaknya yang serius membuat Amara dan Lara terus berjaga, mengkhawatirkan kondisinya. Dokter telah melakukan yang terbaik, namun keadaan Elang masih kritis. Di kamar yang hening, Amara duduk di samping tempat tidur Elang, menggenggam tangannya yang dingin.
“Kenapa kamu belum sadar juga, Elang?” gumam Amara pelan, air mata kembali mengalir di pipinya. “Aku tahu kamu kuat. Kamu nggak akan menyerah begitu saja.”
Ziya, yang duduk di sudut ruangan, memeluk boneka kecilnya sambil memandang ibunya dengan penuh kebingungan. “Mama, Om Elang akan baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan suara kecil yang penuh harap.
Amara menoleh, mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa berat. “Iya, sayang. Om Elang pasti akan baik-baik saja,” jawabnya, meski suaranya terdengar bergetar.
Di luar kamar, Lara berdiri di dekat jendela, mengawasi keadaan sekitar. Ia tahu bahwa waktu mereka di tempat ini tidak banyak. Kelompok yang mengejar Amara dan Ziya pasti masih mencari mereka. Lara berusaha tetap tenang, tetapi pikirannya terus bekerja mencari cara untuk melindungi mereka jika situasi darurat kembali terjadi.
Pintu kamar terbuka pelan, dan dokter masuk dengan langkah tenang. Ia memeriksa kondisi Elang, mengamati denyut nadinya yang mulai stabil meskipun lambat. “Lukanya cukup dalam, tapi dia kuat. Tubuhnya perlahan mulai memulihkan diri,” ujar dokter itu dengan nada meyakinkan.
Amara mengangguk lemah, merasa sedikit lega mendengar kabar itu. “Tapi kenapa dia belum sadar, Dok?”
“Trauma fisik dan kelelahan mentalnya sangat besar. Dia butuh waktu,” jawab dokter. “Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memberinya ketenangan dan memastikan dia mendapatkan perawatan yang cukup.”
Setelah dokter keluar, Amara tetap duduk di sisi Elang. Ia mengusap rambutnya yang mulai berantakan, mencoba memberikan sedikit kenyamanan. “Elang, aku butuh kamu. Aku nggak bisa melakukan ini sendirian.”
Tiba-tiba, tangan Elang bergerak pelan, membuat Amara tersentak. Ia menatap Elang dengan penuh harap. “Elang? Kamu dengar aku?”
Kelopak mata Elang perlahan terbuka, meski pandangannya masih buram. Suara napasnya terdengar berat, tetapi ia berusaha berbicara. “Amara…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
“Ya, aku di sini, Elang. Aku di sini,” jawab Amara sambil menggenggam tangannya erat. “Kamu selamat. Kita semua selamat.”
Elang mencoba tersenyum tipis meskipun rasa sakit masih menghantuinya. “Aku nggak akan biarkan kalian sendirian… Aku janji,” katanya dengan suara yang lebih tegas, meski lemah.
Ziya, yang melihat Elang mulai sadar, segera berlari mendekat. “Om Elang! Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya dengan mata berbinar.
Elang mengangguk pelan, memaksakan senyuman untuk menenangkan gadis kecil itu. “Aku baik-baik saja, Ziya. Kamu nggak usah khawatir,” ucapnya dengan lembut.
Dengan napas berat, ia berusaha bangkit, meskipun tubuhnya terasa lemah. Amara yang duduk di sampingnya segera menahan bahunya.
“Elang, kamu masih harus istirahat. Jangan memaksakan diri,” ujar Amara dengan nada cemas.
Namun, Elang menggeleng pelan. “Aku harus bicara dengan Lara. Di mana dia?” tanyanya dengan suara yang lemah namun penuh tekad.
Amara ragu sejenak sebelum menjawab. “Lara sedang memeriksa keadaan di sekitar rumah. Dia bilang akan memastikan semuanya aman sebelum kita bergerak lagi.”
Elang mencoba bangkit, meskipun Amara berusaha menahannya. “Amara, aku harus memastikan rencana ini berjalan. Kita nggak punya banyak waktu,” ujarnya sambil memaksakan diri untuk duduk lebih tegak.
Sebelum Amara sempat menahan lebih jauh, pintu kamar terbuka dan Lara masuk dengan langkah sigap. “Elang, aku dengar kamu mencariku,” katanya sambil berjalan mendekat. Wajahnya terlihat serius, namun ada sedikit kelegaan melihat Elang sudah sadar.
“Lara,” Elang memanggilnya sambil menatap tajam. “Kita harus segera bergerak. Tempat ini nggak akan aman lebih lama lagi. Apa semua sudah siap?”
Lara mengangguk. “Aku sudah cek kendaraan dan jalur keluar. Tapi, kamu belum cukup pulih. Apa kamu yakin bisa bertahan selama perjalanan?”
Elang mengangguk tegas meski tubuhnya masih lemah. “Aku nggak punya pilihan. Kita nggak bisa tinggal di sini lebih lama. Kita harus menuju tempat berikutnya secepatnya.”
Amara memandang keduanya dengan khawatir. “Tapi, Elang, kamu baru sadar. Bagaimana kalau sesuatu terjadi selama perjalanan?”
Elang menatap Amara dengan lembut namun tegas. “Aku nggak bisa membiarkan kalian dalam bahaya lebih lama. Percayalah, aku akan bertahan.”
Lara mengangguk setuju. “Kalau begitu, kita harus bergerak malam ini. Aku akan memastikan semuanya siap dalam waktu satu jam. Kamu hanya perlu fokus menjaga stamina.”
Elang menatap Lara dengan rasa terima kasih. “Terima kasih, Lara. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu.”
Lara hanya tersenyum kecil. “Kita ini tim, Elang. Aku nggak akan membiarkan kamu melakukan ini sendirian.” Setelah itu, ia keluar untuk menyelesaikan persiapan mereka, sementara Amara membantu Elang mempersiapkan dirinya untuk perjalanan yang penuh risiko.
Malam semakin pekat, suasana di dalam mobil terasa sunyi meskipun ketegangan masih terasa di udara. Amara menatap ke arah Elang melalui kaca spion, memastikan kondisi pria itu meskipun ia tahu Elang berusaha terlihat tegar di depan mereka.
"Lang, apa kamu yakin tempat itu aman?" tanya Amara, suaranya penuh kecemasan.
Elang yang duduk bersandar di kursi belakang, dengan Ziya tertidur di pangkuannya, mengangguk pelan. "Aku yakin, Ra. Tempat itu dipenuhi keamanan yang ketat. Orang luar nggak akan mudah masuk, bahkan dengan kekuatan besar sekalipun," jawabnya sambil menatap Amara. "Meskipun tempat itu jauh, tetap lebih baik daripada bertahan di sini. Kalau kita tetap tinggal, mereka pasti akan menemukan kita. Apalagi... aku belum sepenuhnya pulih."
Amara menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Sementara itu, Lara yang mengemudi di depan melirik mereka melalui kaca tengah. "Kalian nggak perlu khawatir. Tempat itu dirancang untuk situasi seperti ini. Aku sudah pastikan jalurnya aman," katanya dengan nada tenang namun penuh keyakinan.
Dokter yang sebelumnya merawat Elang sudah meninggalkan mereka, setelah memastikan kondisi Elang cukup stabil untuk perjalanan. Dokter itu adalah kepercayaan Lara, dan Amara merasa sedikit lega mengetahui ada orang seperti dia di pihak mereka.
Di kursi belakang, Elang menatap Ziya yang tertidur lelap meskipun perjalanan ini penuh bahaya. Wajah kecil itu tampak damai, seolah tidak menyadari semua kekacauan yang terjadi di sekitarnya. Elang mengusap rambut Ziya dengan lembut, pikirannya melayang ke masa depan yang masih penuh ketidakpastian.
"Aku janji, Ziya, kamu akan aman," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap ke luar jendela, menyadari bahwa perjalanannya kali ini bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga soal melindungi mereka yang ia sayangi.
Lara mempercepat laju mobil, menembus jalanan yang gelap tanpa banyak bicara. Di dalam pikirannya, ia tahu bahwa meskipun tempat tujuan mereka aman, ancaman tidak akan berhenti mengejar mereka. Waktu mereka sangat terbatas, dan ia harus memastikan semua berjalan sesuai rencana.