Seraya menunggu Laras yang sedang membersihkan diri, Rangga bangkit dari duduknya dan melangkah menuju meja di mana ada sebotol wiski di sana. Ia membuka tutup botol itu, lalu memasukkan sesuatu ke dalamnya. Dengan tenang, Rangga menuang minuman ke dalam gelas dan meneguknya.
Tak lama kemudian, Laras keluar dari kamar mandi. Ia melihat Rangga sedang meletakkan gelas yang sudah kosong. Mendengar suara dari belakang, Rangga menoleh dan mendapati Laras mengenakan pakaian tidur. Meski tidak terlalu terbuka, lekuk tubuh wanita itu tetap terlihat jelas melalui bajunya.
Rangga menatap Laras dari atas hingga ke bawah. Ia mengakui, gadis itu sangat cantik dan tentu saja siapapun bisa tergoda oleh pesonanya. Namun, bagi Rangga, wanita seperti itu justru membuatnya merasa malas.
Sementara itu, jantung Laras berdebar hebat tanpa alasan yang jelas. Namun, pikirannya dipenuhi tanda tanya. Melihat respon Rangga yang tetap dingin dan tak menunjukkan reaksi seperti para pelanggannya yang lain, membuat Laras merasa aneh.
Apakah malam ini dia tak akan bisa bekerja seperti biasa, memberikan kepuasan tanpa harus berbuat banyak? Atau justru malam inilah masalah besar akan menghampirinya? Laras pun merasa malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya, perasaannya tak tenang dan penuh dengan prasangka.
Meski begitu, Laras berusaha tetap fokus dan tenang. Dia menjalankan pekerjaannya seperti biasa, mengikuti alur sang pria, perlahan mengambil alih permainan.
"Kamu sudah siap?" tanya Rangga dengan nada dingin, tatapan matanya seolah ingin segera mengakhiri permainan mereka malam ini.
"Kenapa buru-buru, Pak? Cobalah sedikit menikmati kebersamaan kita, jangan terlalu kaku seperti ini," jawab Laras dengan suara manja sambil perlahan mendekat ke Rangga.
Laras berusaha lebih keras malam itu, menciptakan suasana nyaman bagi pria di hadapannya agar rencananya berjalan mulus. Ia mencoba benar-benar menjadi wanita malam sejati menggoda dan memancing, seperti layaknya perempuan yang ingin memuaskan pelanggannya. Karena pria yang menemaninya malam ini berbeda dari yang biasa ia hadapi.
Tangan Laras mengusap d**a Rangga yang sedikit terbuka, tubuhnya menempel erat pada pria dengan aroma maskulin yang langsung tercium di hidungnya.
“Bagaimana kalau kita minum dulu? Aku akan ambilkan, tunggu sebentar,” ucap Laras dengan suara selembut mungkin.
Biasanya, pria lain pasti langsung terjerat oleh perlakuannya, tapi tidak dengan Rangga. Justru, pria itu tampak risih. Namun demi rencana yang sudah tersusun, Rangga harus membuktikan perkataan Raka tentang perempuannya malam ini. Apakah benar ada wanita seperti Laras di tengah pekerjaannya yang mustahil mempertahankan kesuciannya hanya demi uang.
Laras melangkah menuju meja yang sama, tempat sebotol wiski tergeletak. Matanya meneliti botol itu dengan seksama. Seperti biasa, ia diam-diam memasukkan beberapa butir obat tidur ke dalamnya.
“Mahal juga minuman ini. Apa pria ini benar-benar sekaya yang Mami bilang?” pikir Laras sambil menuang wiski ke dalam gelas yang dipakai Rangga, juga ke gelas yang masih kosong.
Rangga memperhatikan gerak-gerik Laras dengan cermat. Ia melihat jelas Laras memasukkan sesuatu ke dalam botol itu. Saat Laras berbalik, Rangga segera menoleh ke lain arah dan pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sikapnya begitu tenang hingga Laras tak mencurigainya sedikit pun.
“Tapi dengan sikapnya yang seperti ini, seharusnya pekerjaanku jadi lebih mudah. Tak perlu repot-repot buang tenaga untuk mengulur waktu sampai dia tertidur,” pikir Laras, matanya tetap mengawasi Rangga yang fokus pada ponselnya.
"Pak, silakan..." Laras menyerahkan gelas itu.
"Hmm, oke. Terima kasih," jawab Rangga sambil menerima gelas tersebut.
Ia meminumnya hingga habis, lalu kembali fokus pada ponselnya. Rangga memang sengaja berpura-pura sibuk agar tidak terlalu banyak berinteraksi dengan wanita itu setelah mengetahui Laras memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.
Namun di dalam hatinya, Rangga tengah menunggu efek obat itu mulai bereaksi di tubuhnya. Meski Rangga sudah memasukkan penetral ke dalam minuman tersebut, hal itu tidak sepenuhnya menghilangkan efek obat yang Laras berikan. Obat penetral itu hanya mengurangi dampak obat tidur agar Rangga tetap bisa mengontrol dirinya dan menahan pengaruh obat tersebut.
Laras sendiri, meski merasa aneh dengan sikap pelanggannya yang terlalu dingin malam ini, justru merasa diuntungkan karena tidak perlu memaksakan diri untuk merayu atau berpura-pura siap melayani pria itu.
Tak berselang lama, mata Rangga mulai terasa berat. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil memegang kepala, merasakan efek obat yang mulai bekerja. Dengan perlahan, Rangga meletakkan ponselnya dan menggeret Laras ke tempat tidur. Ia mendorong tubuh Laras hingga posisinya berada di bawahnya.
Laras kembali menjalankan tugasnya dengan profesional. Rangga mendekatkan kepalanya ke bibir Laras. Melihat itu, jantung Laras tiba-tiba berdebar kencang. Ia menyadari, wajah Rangga benar-benar tampan jika dilihat sedekat ini.
Garis wajahnya tegas, memancarkan aura kepemimpinan yang kuat. Sesaat Laras terpesona, sampai tiba-tiba kepala Rangga terjatuh di sampingnya dan tubuhnya terasa berat, tertindih oleh pria tinggi besar itu yang jauh berbeda dengan tubuhnya yang mungil.
Rangga terpejam dengan wajah yang tampak tenang. Laras memastikan kondisinya dengan menepuk-nepuk pipi Rangga pelan. Namun tak ada respons, Rangga tetap terpejam. Dengan susah payah, Laras menggeser tubuh besar dan kekar itu ke samping.
"Haahh, berat sekali Anda, Pak," gumam Laras.
"Kamu sangat tampan, Pak. Aku belum pernah dapat pelanggan sepertimu. Sayangnya, Anda sama seperti yang lain, hanya mencari kenikmatan semata," lanjutnya pelan, suara itu masih terdengar jelas oleh Rangga.
"Sialnya, kamu begitu tampan sampai hampir membuatku kehilangan akal dan satu-satunya yang aku miliki," gumamnya pelan sambil turun dari tempat tidur.
Laras kemudian melanjutkan tugasnya yang lain, membuat tempat itu berantakan sambil mencoba membuka satu per satu apa yang menempel di tubuh Rangga. Dalam diam, Rangga mengamati setiap gerakan Laras. Kini, dia membuktikan sendiri bahwa wanita ini memang berbeda, tidak seperti yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rangga mengakhiri kepura-puraannya saat Laras akan membuat tanda merah di d**a bidangnya. Tangannya dengan cepat memegang tangan Laras agar berhenti tepat saat Laras hendak menempelkan sesuatu untuk membuat tanda itu. Laras terkejut, wajahnya jelas terlihat bingung dan tak percaya ketika mata Rangga terbuka lebar.
"Ka... Kamu..." Laras bergetar, mencoba melepaskan genggaman Rangga dari tangannya.
"Kenapa? Terkejut? Atau bingung karena obat yang kamu berikan tak berefek padaku?" tanya Rangga dengan nada dingin, lalu melepaskan tangan Laras dengan cukup kasar.
"Ck, dia lancang sekali, membuatku jadi berantakan begini," gumam Rangga kesal sambil menatap dirinya yang berantakan.
Dia berdiri, merapikan kimono yang dipakainya, berusaha mengembalikan penampilannya. Sementara itu, Laras masih duduk terpaku di pinggir tempat tidur, kebingungan dan merasakan firasat buruk yang semakin mendalam.
“Apakah aku akan kehilangan kesucianku malam ini? Bagaimana ini? Jika aku kabur dari pria ini, Mami yang akan mengejarku dan membunuhku karena selama ini aku membohongi semua pelanggannya. Tapi… tidak, aku tidak mau, tidak bisa… Bagaimana ini?” Batin Laras bergulat dengan rasa takut yang mencekam, rahasianya telah terbongkar dan ia berfikir mencari jalan keluar.
“Kenapa diam saja?” tanya Rangga, kini duduk santai di sofa dengan kaki disilangkan.
Aura dinginnya tiba-tiba membuat Laras merasa terintimidasi. Sikap tenangnya justru membuatnya semakin waspada, takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba Rangga menoleh ke arahnya, membuat d**a Laras sesak oleh ketakutan yang menjalari.
“Pak, aku mohon. A... Aku berjanji akan mengembalikan uang mu, tapi tolong jangan laporkan hal ini ke Mami,” pinta Laras dengan suara gemetar, mencoba merayu.
Rangga tersenyum sinis, lalu menghela napas panjang.
"Sayangnya aku tak membutuhkan uang dari kamu" Jawab Rangga meremehkan.
"Aku mohon, Pak. Maafkan aku. Jika Bapak mengadukan ini ke Mami, nyawa ku bisa terancam. Aku benar-benar mohon, Pak. Mintalah apa saja, asal jangan lakukan aktivitas itu, maka akan aku turuti semuanya" pinta Laras dengan suara gemetar, berharap pria di depannya berbaik hati padanya.
Rangga hanya diam, bukan karena bingung, tapi ia ingin membuat wanita itu semakin tertekan.
"Oke," jawab Rangga setelah beberapa menit terdiam.
"Kamu yakin akan menuruti semua permintaanku?" tanyanya dengan nada dingin.
"Ya... ya, Pak. Apapun itu, asal jangan lakukan itu," jawab Laras dengan ragu.
"Kalau aku suruh kamu masuk ke dalam sumur, bagaimana?" Rangga menguji kesungguhan Laras.
Laras menatap Rangga dengan mata terkejut, sementara Rangga hanya tersenyum melihat wajah Laras yang kini jelas terlihat ketakutan, berbeda dari sebelumnya yang penuh percaya diri.
Rangga mengambil sesuatu dari atas meja yang memang sudah ada sejak awal, lalu bangkit dari duduknya dan menyerahkannya kepada Laras.
"A... apa ini?" tanya Laras.
"Bukalah, dan kamu akan tahu," titah Rangga sambil berdiri di depan Laras.
Laras membuka berkas itu. Saat melihat fotonya terpampang di halaman pertama, matanya membelalak. Ternyata berkas itu berisi data lengkap tentang dirinya, dari biodata, alamat, hingga kesehariannya tercatat dengan rinci.
"Ba... bagaimana kamu bisa mendapatkan semua ini?" tanya Laras, semakin takut dan waspada pada pria di depannya.
"Itu bukan hal yang sulit bagiku," jawab Rangga.
"Kalau kamu ingin hidup aman dan tenang tanpa harus melakukan hal seperti ini lagi, jadilah wanita sewaku. Kamu hanya perlu mengikuti alur permainan yang aku buat. Satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan menyentuhmu, karena aku bukan p****************g seperti pelangganmu itu, meski aku tahu kamu terpesona padaku," ucap Rangga, mulai membuka niatnya.
Mendengar itu, wajah Laras langsung memerah, menahan malu. Dia tak menyangka pria itu mendengar apa yang baru saja dia katakan.
"Setiap bulan aku akan membayarmu. Selama kamu menjadi wanita sewaku, kamu harus patuh pada semua aturan yang aku buat. Tenang saja, itu tidak akan merugikanmu sebagai seorang wanita. Aku juga akan membantumu terbebas dari Mamimu itu dan orang tua angkatmu. Bagaimana? tambah Rangga.
"Setiap bulan, kamu akan menerima 50 juta dariku," lanjutnya.
Laras menatap Rangga dengan mata terkejut. Meski tawaran itu sangat menggiurkan, dia tetap harus waspada dan memastikan apakah pria ini benar-benar mampu membebaskannya dari jerat Mami atau ada maksud tersembunyi lainnya.
"Maksud kamu, menjadi wanita sewamu?" tanya Laras, memastikan.
"Jadi, kamu adalah teman wanitaku. Bisa dibilang aku menyewa jasamu sebagai kekasih, supaya Mamaku yakin kalau aku bisa mencintai seorang wanita. Tugasmu hanya menemaniku saat bertemu Mama, dan menunjukkan kalau kita benar-benar saling mencintai di depannya. Aku akan sediakan sebuah rumah untukmu, dan tentu saja, terkadang aku juga akan tidur di sana. Tapi di kamar yang terpisah. Satu hal lagi, jangan pernah coba-coba membawa pria lain ke rumah itu, kecuali aku atau asistenku," jawab Rangga.
"Perjanjiannya akan aku buat. Kamu cukup datang ke perusahaan ini besok," ujar Rangga sambil menyerahkan sebuah kartu nama miliknya kepada Laras.
"Kamu pertimbangkan tawaranku. Kalau masih ingin terjebak di lingkaran ini, silakan tolak," tegasnya.
Laras menerima dan mengamati kartu nama itu dengan hati yang bimbang, tapi ada secercah harapan dari tawaran yang diberikan.
"Kamu bersiap-siaplah. Sopirku akan mengantarkanmu pulang ke rumah sahabatmu," kata Rangga, kembali membuat Laras terkejut.
Laras tak menyangka pria di depannya benar-benar mengetahui segala hal tentang dirinya, bahkan kebiasaannya pulang ke kontrakan Sari setelah bekerja. Meski aura pria itu mengintimidasi dan ekspresinya dingin, Laras merasa dia tak cukup berbahaya atau mengancam keselamatannya. Tidak seperti Mami dan anaknya yang bisa melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang mereka inginkan atau merasa dirugikan.