===== BAB 2: Harga Sebuah Nama =====
'Menikahlah denganku sebelum rapat Senin, dan aku akan membuka arsip peluncuran ayahmu.'
Kalimat itu tinggal di antara mereka bersama bunyi hujan pada atap mobil. Mara menutup map perlahan agar tangannya yang gemetar tidak terlihat.
'Anda baru saja menawarkan pernikahan kepada perempuan yang perusahaan Anda tuduh membahayakan server.'
'Saya menawarkan kontrak kepada satu-satunya orang yang punya alasan cukup kuat untuk tidak tunduk kepada keluarga saya.'
'Itu bukan pujian.'
'Memang bukan.'
Darian menjelaskan perwalian yang ditinggalkan kakeknya. Dua puluh persen hak suara Nexora Systems hanya dapat diaktifkan jika CEO telah menikah dan pasangannya menandatangani piagam pengawasan risiko. Tanpa itu sebelum rapat Senin, hak tersebut berpindah sementara kepada Rendra selama lima tahun. Pamannya akan menjual divisi audit dan hak pengelolaan dua rute strategis kepada Kalyx Labs.
'Anda butuh stempel berupa istri.'
'Saya butuh orang yang memahami keselamatan dan tidak bisa dibeli Paman.'
'Lalu setelah Anda menang?'
'Lima belas bulan. Kamar dan harta terpisah. Tidak ada kewajiban pribadi. Kau memperoleh penasihat hukum sendiri, perlindungan bagi ibumu, serta akses ke arsip mentah yang selama ini disegel.'
Mara menahan reaksi saat ibunya disebut. 'Jangan bawa Ibu saya ke dalam urusan ini.'
'Ancaman kepada orang terdekat biasanya mengikuti rekayasa bukti. Saya tidak mengancam. Saya memperhitungkan.'
Mobil berhenti di depan apartemen Mara. Wartawan sudah berkumpul di trotoar. Di antara mereka berdiri Reno, wajahnya cemas, ponsel menempel di telinga. Ketika melihat mobil Darian, kecemasannya berubah menjadi kemarahan.
'Saya belum menjawab,' kata Mara.
'Kau punya sampai besok pukul enam sore. Pengacaraku akan menunggu di Hotel Aeris.'
Darian turun lebih dulu dan mengantar Mara melewati kerumunan. Reno mencoba mendekat, tetapi pengawal menahannya. Mara tidak menoleh sampai pintu lift tertutup.
Di lantai sembilan, ia mendapati pintu apartemennya terbuka. Tidak ada barang berharga yang hilang. Laptop masih di meja dan uang tunai tetap di laci. Namun semua dokumen tentang NX-217 berserakan, sementara kotak logam berisi salinan catatan ayahnya lenyap.
Telepon Mara bergetar. Ibunya, Mira, menelepon dari toko jahit seragam di Bekasi.
'Ada dua lelaki datang menanyakan buku peluncuran ayahmu,' kata Mira. 'Ibu bilang tidak tahu. Liv, apa yang terjadi? Wajahmu ada di berita.'
Mara memejamkan mata. Ia tidak ingin Mira kembali hidup dalam tatapan tetangga seperti setelah kecelakaan. 'NX-408 mendarat aman. Ada yang memakai aksesku. Ibu kunci toko dan jangan pulang sendirian.'
'Kau juga jangan sendirian.'
Ketukan keras terdengar. Reno memanggil dari luar. Setelah memastikan rantai pengaman terpasang, Mara membuka pintu selebar telapak tangan.
'Kau masuk mobil Darian untuk apa?' tuntutnya.
'Itu pertanyaanmu setelah apartemenku dibobol?'
Reno terdiam sepersekian detik terlalu lama. 'Aku baru tahu.'
'Siapa S?'
'Vania menghubungiku soal pekerjaan.'
'Dengan gambar hati?'
'Liv, kita sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada kecemburuan.'
Ia mendorong pintu, tetapi rantai menahannya. Mara memandang lelaki yang rencananya akan ia nikahi empat bulan lagi. Reno mengetahui trauma masa kecilnya, menemani Mira saat sakit, dan pernah berjanji membantu membuka arsip Yusuf. Kini ia menyebut pengkhianatan sebagai kecemburuan.
'Tunjukkan ponselmu.'
'Jangan kekanak-kanakan.'
'Tunjukkan.'
Reno menghapus sesuatu sebelum menyerahkan layar. Gerakan itu cukup. Mara menutup pintu di wajahnya.
Malam itu ia membawa ibunya ke hotel kecil milik teman Mira. Dari sana, Mara menghubungi Tessa melalui nomor pribadi. Tessa sudah menyimpan salinan log sebelum akses mereka dibekukan.
'Ada anomali,' kata Tessa. 'Tanda tanganmu dimasukkan dari terminal perencanaan, bukan terminal keselamatan. Terminal itu di bawah unit Mas Reno.'
'Kirimkan salinan ke alamat baru. Jangan pakai surel kantor.'
'Ada lagi. Tiga menit setelah NX-408 melaporkan masalah, seseorang menyalin laporan awal ke penyimpanan luar.'
'Siapa?'
'Hak aksesnya milik direktur komersial.'
Vania.
Pagi berikutnya, berita menampilkan foto Mara dan Darian keluar dari mobil yang sama. Judulnya menyebut hubungan rahasia di tengah skandal keselamatan. Reno mengirim dua puluh pesan, sebagian memohon, sebagian menuduh. Darian hanya mengirim lokasi pengacara dan kalimat: BAWA SYARATMU SENDIRI.
Mara menghabiskan hari dengan membaca ketentuan perwalian yang diam-diam dikirim Darian. Ada celah besar: pasangan CEO berhak meminta audit independen terhadap semua insiden yang memengaruhi reputasi keluarga. Hak itu mencakup NX-217 karena perusahaan teknologi masih menyimpan berkasnya.
Pukul lima lewat lima puluh, ia tiba di Hotel Aeris. Darian menunggu bersama Kresna Adiputra, pengacara berusia empat puluh tahun yang langsung menawarkan daftar penasihat independen.
'Saya memilih pengacara sendiri,' ujar Mara.
'Itu hak Anda,' kata Kresna.
Mara menaruh kertas berisi sebelas syarat: akses data tanpa sensor, perlindungan untuk Mira dan Tessa, larangan Darian menutup temuan, persetujuan sebelum sentuhan publik, serta hak menyerahkan bukti kepada regulator meski merugikan Nexora Systems.
Ia juga menuntut biaya pembelaan tidak boleh ditukar dengan kerahasiaan. Bila penyelidikan membuktikan kesalahan perusahaan, semua korban NX-408 harus menerima laporan tanpa sensor. Kresna mencatatnya, sementara Darian bertanya apakah Mara siap kehilangan pekerjaan demi pasal itu. Mara menjawab bahwa pekerjaan tanpa integritas keselamatan bukan karier, melainkan seragam mahal untuk menutupi ketakutan.
Darian membaca semuanya. 'Tambahkan satu dari saya. Kita tidak boleh berbohong mengenai NX-217 atau NX-408.'
'Termasuk kebohongan keluarga Anda?'
'Terutama itu.'
Pintu ruangan terbuka. Reno masuk tanpa izin, diikuti Vania yang tak sempat menarik tangannya dari lengan pria itu. Kini tidak ada lagi alasan rapat atau pesan pekerjaan. Wajah Reno pucat ketika melihat dokumen kontrak.
'Mara, jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali.'
Vania justru menatap Darian. 'Kau serius menikahi tersangka demi mempertahankan kursi?'
Darian menutup map. 'Keluar.'
Mara memandang tangan Reno dan Vania yang akhirnya terpisah. Sakitnya ada, tetapi lebih dingin daripada yang ia bayangkan. Pengkhianatan itu telah memberinya jawaban yang dibutuhkan.
Setelah keduanya pergi, Tessa mengirim hasil penelusuran lengkap. Mara membacanya dua kali, lalu menyodorkan ponsel kepada Darian.
'Reno tidak hanya memalsukan aksesmu. Dia mengirim laporan keselamatan itu kepada Vania sebelum server mendarat.'