Zoya terburu-buru meninggalkan kantornya menuju sebuah sekolah bertaraf Internasional di Jakarta. Tujuannya, ia akan menjemput salah satu murid di sana, Valery. Ya, Valery Zaidan Faeyza, adalah salah satu murid di sana. Entah mengapa anak itu menjadi begitu penting baginya?
Ia menyalakan mobil lalu mendongak, kemudian mengembuskan napas kasar seolah mencegah diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang mungkin saja tidak benar. "Apa yang kamu lakukan Zoya? Meninggalkan pekerjaan demi seorang anak yang ... bukan siapa-siapa. Dan ini akan membuat Abi--ah, persetan dengan dia. Aku sudah jatuh hati pada Valery. Aku hanya ingin peduli pada anak itu. Nggak ada satu pun alasan bagi aku untuk menyianyiakan seorang anak kecil." Ia menginjak pedal gas lebih dalam ketika mengingat, "Abrisam si pemarah memang nggak pantas disebut seorang ayah!"
Zoya menarik napas dalam, kemudian menginjak pedal gasnya dengan keyakinan tinggi atas apa yang telah ia putuskan.
Ketika sampai ia sudah melihat gadis kecil itu bersama dengan seorang wanita sudah seusia dirinya dengan rambut digelung dan kacamata minus tidak tebal yang langsung memperhatikan kehadiran dirinya dengan gaya menilai.
"Selamat siang Bu, aku ingin menjemput Valery," kata Zoya dengan sedikit gugup.
"Valery apa?" tanya wanita itu tegas dengan pandangan menyelidik.
"Mm, Valery Zaidan Faeyza. Putri dari Bapak Abi, um maksud aku Abrisam Zaidan Faeyza." Zoya merasa bangga ketika bisa menyebutkan nama belakang Valery, mengingat dia adalah putri dari orang yang sangat ia kenal bukan hanya dari sekadar namanya saja.
Guru itu meneliti pandangannya kepada Zoya. "Maaf Anda siapa? Bukan sekretarisnya Pak Abrisam yang biasa suka menjemput putrinya. Dan bukan juga Ibu Moza tantenya yang suka menjemput Valery." Dia berkata dengan tegas kemudian menarik napas dalam.
Valery, mendongak memperhatikan wali kelasnya kemudian beralih kepada Zoya lalu berkata, "Ibu Camelia, dia calon Mama aku. Izinkan dia menjemput aku." Valery yang masih di tangan wali kelasnya memohon dengan tingkat kecerdasan yang melebihi usianya.
Zoya terkejut dengan ucapan Valery tapi kemudian ia berpikir bahwa itu pasti hanya akal-akalan anak kecil itu saja agar ia bisa dengan mudah diizinkan pulang bersama Zoya.
"Valery..., Ibu bertanggung jawab untuk menjaga kamu sepenuhnya," balasnya. Ia lalu meneliti jari-jari Zoya dari balik kaca mata minusnya. "Ibu tidak menemukan cincin tunangan di jarinya jika memang benar bahwa dia adalah tunangan ayah kamu, Valery Zaidan."
Hal itu membuat Zoya meneliti jarinya. "Mm..., iya aku memang bukan..."
"Mereka nggak perlu tunangan Bu, mereka sudah pacaran sejak aku belum lahir, dan bahkan sebelum Ayah menikah dengan Ibu aku. Oleh karena itu Ayah dan Tante Zoya akan langsung menikah," kata Valery lagi.
Zoya yang tidak siap mendengar kata-kata gadis kecil di hadapannya itu terlebih lagi saat ini ia juga sedang berhadapan dengan gurunya, ternganga lalu tersenyum malu.
"Oh, begitu ya, Val."
"Iya Ibu. Ibu Camelia plis, aku sudah sangat lapar. Percayalah dia bukan orang asing. Aku cuma ingin dia jadi mama aku, bukan orang lain."
"Baiklah kalau begitu aku akan menelepon Ibu Moza untuk memastikan karena beliau yang memintaku untuk menjaga Valery karena ia sedang terjebak macet."
"Baiklah silahkan." Zoya tersenyum.
Ibu Camelia menghubungi Moza dan telah memastikan bahwa ia yang telah meminta Zoya menjemput dan lupa mengkonfirmasi kepadanya sebagai wali kelas.
Valery terlihat sangat bahagia ketika akhirnya ia bisa memeluk Zoya selayaknya wanita itu benar-benar calon mama-nya.
"Ibu Camelia tenang saja, aku pasti akan mengundang di pernikahan ayah dan mama."
Guru itu tersenyum dan Zoya hanya bisa membalas senyum kaku mendengar ucapan Val yang... ya ampun ini anak!
Ketika sampai di mobil dan Zoya hendak memasangkan sabuk pengaman anak itu justru menangkapnya memeluk dan menciumnya, membuat mata Zoya membulat penuh.
"Val, kenapa kamu bilang ke Bu guru kalau... Tante Zoya dan Ayah..."
"Karena ucapan adalah do'a. Itu kata ibu aku. Ibu bilang kalau bicara jangan yang buruk-buruk, tapi yang baik-baik. Karena..., apa pun yang kita ucapkan itu adalah do'a. Jadi..., aku bilang Tante Zoya dan Ayah akan menikah, itu juga... do'a, iya kan Tan?"
Zoya mendadak kikuk. "Ehm..., iy...ya sayang. Ibu kamu benar. Kita harus bicara yang baik-baik."
"Emem...," Val mengangguk. Tangannya masih mencengram tubuh Zoya yang saat ini kembali membulatkan mata indahnya, namun sepertinya bocah polos itu tak mengerti juga.
"Tante harus nyetir sekarang. Bukannya tadi ada yang bilang ... sangat lapar?"
"Iya, itu aku." Val akhirnya melepaskan pelukannya.
"Anak pintar. Kalau begitu kita harus segera..."
"Aku mau masakan Tante!"
Zoya tidak jadi menyebutkan nama kafe di kepalanya. "Oke, kalau begitu ke apartemen Tante."
"Aku mau di rumah aku Tante."
What? Rumahnya? Rumah Abi?
"Plis Tante..., aku ada tugas prakarya, abis makan aku mau langsung kerjain. Hm... plis...!"
"Mm, tapi sayang, Abi ... maksud Tante, Ayah kamu akan marah kepada Tante karena..."
"Ayah akan pulang sore atau mungkin sampai malam hari ini. Sedang ada meeting di luar kota, itu sebabnya Tante Moza yang jemput aku hari ini."
"Oh, oke kalau begitu."
"Asik...!" Val melompat kegirangan di kursinya.
"Ehm, omong-omong, kenapa Kevin pulang lebih sore?"
"Aku dan Kev beda kelas. Aku akan pulang sore pada Kamis, Jum'at dan Sabtu kami libur, tapi tetap ada kegiatan tambahan dari sekolah."
"Oh..., begitu."
"Ya, begitu. Aku seneng deh bisa dijemput Tante Zoya hari ini. Biasanya kalau Tante Za lagi terjebak macet, sekretaris Ayah yang akhirnya datang untuk jemput aku. Aku nggak suka dia! Aku mau bicara dengan dia, aku benci!"
"Kenapa, sayang? Kamu harusnya senang akhirnya bisa main di kantor Ayah."
"Nggak! Dia centil, aku nggak suka dia. Tapi dia sepertinya suka ayah. Aku nggak akan mau Ayah pilih dia jadi ibu aku."
Zoya akhirnya hanya memilih diam dan mendengarkan Val berceloteh tentang semua perempuan yang mendekati ayahnya. Tidak ada yang dia suka. Entah apa yang ada di kepala Zoya hingga membuat bibirnya tersenyum tipis namun penuh arti setelah mendengar pengakuan Valery Zaidan Faeyza yang tak menyukai semua perempuan yang mendekati ayahnya, Abrisam Zaidan Faeyza. Namun kepadanya, anak itu justru melakukan yang sebaliknya. Dia yang mendekati dan menyukai dirinya.
Val...
Valery Zaidan Faeyza...
Putri dari Abrisam Zaidan Faeyza...
Harus kuakui si arogan itu punya anak yang sangat cerdas dan lucu.
__
Ketika ia akhirnya sampai di rumah mewah milik Abi-nya. Oh, tidak hanya Abrisam bukan lagi Abi-nya. Ia sangat terkesan dengan desain rumah dan pilihan warna yang sangat melekat padanya.
Bukankah ini semua warna kesukaan aku? Batinnya, yang kemudian mengingat sesuatu pada desain rumah tersebut.
Ah, tidak Zoya! Jangan sekarang untuk kembali pada masa lalu, saat ini kau sedang bersama putrinya. Pikirkan saja putrinya, Zoya.
"Tante buatkan aku sesuatu plis sekarang." Valery menariknya ke pantry.
"Oke, Tante buatkan sesuatu dan pasti kamu pasti akan sangat suka. Tapi sebelumnya kita pesan dulu bahannya lewat ojek online, oke. Nah, sementara itu... anak cantik ini harus ganti baju dulu."
"Oke." Dia berlari ke kamarnya.
Bi Mun memperhatikan dengan senyum penuh penilaian kepada wanita asing di itu.
"Maaf Mbak merepotkan, Bibi bantu Non Val dulu."
"Nggak papa kok, Bi." Zoya membuka blazser lalu mengikat rambut dengan sapu tangannya.
Entah mengapa di pikirannya hanya ada spaghetti carbonara untuk ia buatkan untuk si kecil Val. Kemudian memesan bahannya pada ojek online ketika Val sudah menyebutkan alamat rumahnya tadi.
"Aku sudah ganti baju," kata Val mengejutkannya yang sedang mengiris bawang.
"Oke pinter."
Suara bel terdengar, Bi Mun segera berlari ke pintu.
"Sebentar...!"
"Itu pasti tukang ojek online, dan kita akan segera memasak... spaghetti carbonara..."
"Asik..., aku suka itu!"
"Kamu suka?"
"Iya. Tapi ayah nggak pernah memasaknya untuk aku, kita selalu makan itu di luar. Bi Mun nggak bisa masak itu."
"Bibi nggak ngerti makanan modern Mbak." Bibi sudah tiba dan meletakkan bahan di pantry.
"Terimakasih Bi."
"Bibi suka kan kalau Tante Zoya jadi mama aku?"
"Val...?" Zoya memperingatkannya.
"Seneng banget!" Bi Mun langsung membalas lima jari Val yang mengarah kepadanya.
Val menggoyangkan telunjuknya meminta Bi Mun untuk membungkuk. "Tapi Bi masalahnya... ayah dan Tante Zoya suka bertengkar," bisiknya pada Bi Mun yang dapat didengar jelas oleh Zoya dan berhasil membuat wanita itu tersenyum tipis.
"O...," Bi Mun membulatkan mulutnya.
Setelah beres Zoya segera menyajikan dan tak lupa juga ia menyiapkan untuk seseorang,"Bi tolong simpan ini untuk Abi."
"Tuan Sam?" Bi Mun memastikan.
"Iya maksud aku... Sam, Abrisam ayahnya... Valery." Zoya tiba-tiba merasa kikuk di depan Bi Mun. "Ini untuk Bibi."
"Terima kasih."
"Mari kita makan...," Zoya berlari kecil ke meja makan diikuti Valery yang kemudian mendahuluinya. "Pelan-pelan sayang makannya masih panas," katanya ketika Val tak sabar untuk duduk di kursi makan dan segera menyantap hidangan miliknya. "Mau Tante suapin?"
"Aku makan sendiri aja, Tante juga harus makan."
"Pinter."
Mereka mulai makan dan Val sangat senang menyantapnya.
Tidak sampai habis sepertinya Val sudah merasa sangat kekenyangan begitu pun dengan Zoya.
"Tante ayo tolong bantu aku untuk bikin prakarya sebelum ayah datang terus marahin Tante." Tangan mungil itu menarik Zoya sebelum menyelesaikan minum.
"Iya sayang, tapi kita beresin ini dulu."
"Biar Bi Mun aja, nanti keburu ayah pulang, loh."
"Bener juga, ayo."
Val membawanya ke ruang tengah. Kemudian ia membawa peralatan keterampilan ke hadapan Zoya.
"Aku punya ini Tante, jadi tugas aku bikin sesuatu dari barang bekas yang ada di rumah."
"Misalnya?"
"Membuat rumah, dan nantinya bisa untuk rumah kucing atau anjing kecil, kelinci, ya gitu deh pokoknya Tante!" balas Val dengan penuh semangat kepada Zoya.
"Okey..., Tante ngerti. Ayo kita mulai. Mana guntingnya?" Val memberikan guntingnya. "Tengkyu sayang, kalau menggunting harus Tante karena kalau nggak hati-hati bisa luka." Zoya menunduk mendekatkan hidungnya pada Val. "Kalau kamu luka, nanti ada yang marah-marah kepada Tante. Ih..., seram!" kemudian mereka tertawa.
Bi Mun memperhatikan dari jauh, ia sangat terharu mendengar itu. Lama sekali tak mendengar tawa Val selepas itu. Bahkan sangat bahagia. Sejak ibunya sakit Val hanya tersenyum, tidak tertawa. Melihat piring di meja makan ia membiarkan untuk satu tujuan yang ia yakini.
Ia sangat yakin majikannya akan segera pulang dan melihat semua ini. Bi Mun memang belum mengenal siapa Zoya, namun hati kecilnya mengatakan ada sesuatu dari wanita itu. Dan sesuatu itu sangat ia yakini.
____