Malam ini Fiona benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang karena ternyata rencana mereka untuk kembali ke apartemen dan tidak menginap di rumah orang tua Lionel, kandas begitu saja.
"Jangan menatapku seperti itu atau aku akan segera menendangmu, Lionel!" ancam Fiona yang telah selesai membersihkan make up di wajahnya lalu memandang tajam ke arah sang suami.
Lionel terkekeh sambil merebahkan tubuhnya dalam posisi miring dengan tangan kanan sebagai tumpuan kepalanya.
Sedetik kemudian pria ini menepuk-nepuk sisi ranjang di hadapannya sebelum memberikan kode dengan gerakan matanya. "Ranjang ini perlu dihangatkan dengan tubuhmu, Sayangku. Kemarilah!" panggilnya.
Fiona menggelengkan kepala sambil tertawa receh.
Sumpah demi apa pun yang dia rasakan sebelumnya pada pria ini di tahun-tahun pernikahan mereka sebelumnya, sekarang sosok pria yang sedang mengedipkan matanya dengan genit ke arahnya bukanlah sosok Lionel yang pernah dikenal olehnya dulu.
Pria ini begitu aneh.
Pria ini begitu gila.
Bahkan, yang paling menyebalkan adalah pria ini begitu genit.
Ke mana sosok Lionel yang dulu?
Fiona benar-benar ingin tahu di mana sebenarnya Lionel yang saat ini sedang mengedipkan mata ke arahnya menyembunyikan Lionel yang dulu begitu dingin dan menceraikannya dengan tanpa kata.
Wanita ini bersedekap d**a kemudian mengembuskan napasnya secara kasar. "Berhentilah mengerjaiku dan tidurlah di sofa, Lionel. Aku tidak mau kalau kita tidur satu ranjang yang sama."
Lionel menggelengkan kepalanya. "Tidak mau! Apa kamu sudah lupa kalau target dari pernikahan ini adalah untuk mendapatkan anak?"
Deg!
Seperti sedang mengingatkan tentang isi perjanjian yang ditandatangani oleh Fiona pada saat itu, kepalanya tiba-tiba sakit.
Dia tidak menyangka kalau ternyata Lionel masih mengingat hal ini sehingga membuatnya sangat ingin mencekik pria ini.
"Aku belum siap untuk hal itu, jadi sebaiknya kamu tidak usah membahasnya sekarang apalagi menginginkan aku untuk melakukan hal itu denganmu sekarang juga!" tolak Fiona tegas.
Lionel terkekeh mendengar jawaban sang istri. "Hah, kamu semakin menggemaskan kalau kamu terus bersikap seperti itu, Fiona."
Lionel sekarang merupakan kepalanya dengan kedua tangannya yang menyilang sebagai tumpuan.
Pria ini menatap langit-langit kamar yang ditempati olehnya dan juga Fiona saat ini.
Beberapa detik kemudian dia menoleh dan melihat bagaimana Fiona yang sedang mencoba untuk mengatur sofa agar bisa ditempati olehnya sebagai tempat tidur.
"Keras kepala. Kepala batu! Kamu tidak berubah sedikit pun, Fiona."
Kata-kata yang meluncur dari bibir Lionel membuat Fiona menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah pria itu sekarang.
Wanita ini bersedekap d**a.
Dia menarik napasnya perlahan lalu mengembuskannya. "Berkacalah kalau kamu ingin mengatai aku seperti itu, Lionel. Yang keras kepala dan juga kepala batu itu kamu!"
"Salah besar. Karena sejak dulu kamulah yang seperti itu," sanggah Lionel.
Fiona menaikkan kedua alisnya. "Sejak dulu? Omong kosong! Jangan berbicara seakan kamu tahu bagaimana aku yang dulu padahal kamu sama sekali tidak pernah menotisku, Lionel Abraham Argano!"
Lionel menarik napasnya kemudian pandangannya kembali tertuju pada langit-langit kamarnya.
Benar dan sama sekali tidak ada yang salah dari apa yang dikatakan oleh Fiona.
Namun, itu semua hanyalah sesuatu yang ditampilkan olehnya di hadapan wanita itu. Padahal yang sebenarnya Lionel tidak pernah melepaskan pandangan matanya dari sosok Fiona sampai pada hari terakhir mereka masih berstatuskan suami dan istri.
"Kamu tidak aku kalau kamu adalah seorang wanita yang keras kepala padahal dulu kamu begitu teguh pada pendirian dan tidak mau menyerah pada cintamu. Apa itu namanya bukan keras kepala?" tanya Lionel yang kembali membawa masa lalu dalam perbincangan mereka.
Fiona memejamkan matanya kemudian memainkan bibirnya.
Ini benar-benar adalah hal yang tidak pernah diduga oleh Fiona akan diucapkan oleh Lionel.
Bagaimana mungkin pria ini bisa membawa masa lalu mereka di saat sekarang mereka sedang membicarakan tentang masa depan?
Ah, yang terpenting adalah mengapa Lionel harus mengingatkan tentang bagaimana sikapnya yang begitu bodoh dan selalu berharap dengan keras kepala kalau pria ini akan menaruh hati padanya?
Sialnya lagi, rupanya Lionel benar-benar telah menusuk hati Fiona dengan kata-kata itu karena sebenarnya Fiona sudah melebur dalam-dalam tentang perasaannya pada Lionel dulu ketika mereka telah resmi bercerai.
"Kenapa diam? Apa semua yang kukatakan itu salah?" tanya Lionel yang sekarang duduk di tepi ranjang.
Fiona menggelengkan kepalanya. "Berhenti, Lionel. Jangan bahas masa lalu karena aku sama sekali tidak ingin kembali kepada masa itu!"
"Bagaimana kalau aku tidak ingin berhenti untuk membahasnya?" tanya Lionel dengan ekspresi wajahnya yang begitu serius sehingga membuat Fiona kembali keringat pada Lionel yang dulu.
"Maka aku akan pergi dari sini sekarang juga!" ancamnya.
Lionel tersenyum kemudian beranjak dari posisinya. "Tidurlah di kasur. Aku akan tidur di ruang kerja karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan," ucapnya yang kemudian membuka pintu lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata atau sekedar menoleh lagi.
"Pria gila!" pekik Fiona yang kemudian melompat ke arah kasur dan membenamkan dirinya di bantal. "Luka lama itu tidak akan pernah lagi aku buka sampai kapan pun, Lionel," desisnya.
***
Di subuh hari Fiona dan Lionel meninggalkan kediaman kedua orang tua pria tampan itu dan mereka kembali ke apartemen karena harus mempersiapkan diri untuk kembali bekerja.
Fiona sempat mengomel karena Lionel membangunkannya dengan cara yang tidak menyenangkan dan itu sempat membuatnya ingin melemparkan bantal ke arah pria itu.
"Jangan tekuk wajahmu seperti itu untuk hal yang tidak kulakukan dengan sengaja, Fiona!" ledek Lionel.
Fiona mengerutkan bibirnya kemudian melihat ke arah Lionel yang sedang menyetir dengan begitu tajam. "Berhenti menggodaku atau aku akan benar-benar menendangmu, Lionel!"
Lionel terkekeh.
Pria ini kemudian berhenti mengucapkan sepatah kata ketika mereka saat ini sedang dalam perjalanan untuk menuju ke apartemen.
Bahkan, ketika di lampu merah pria ini juga tidak banyak bicara padahal biasanya dia akan terus mengoceh tentang hal-hal yang tidak penting sehingga membuat Fiona akan merasa perutnya seperti terkocok.
"Hey, sepertinya pria itu adalah seorang kepala divisi di perusahaanku!" tunjuk Lionel ke arah kanan sehingga membuat Fiona juga menoleh.
Fiona melebarkan kedua pupilnya dan tidak menyangka kalau ternyata orang yang ditunjuk oleh Lionel itu adalah seseorang yang dia kenal. "William?" gumamnya.
Deg!
Betapa rasanya hati Fiona tidak bisa berkata-kata ketika melihat pilihan yang saat itu masuk ke mobil dan diiringi dengan seorang wanita di belakangnya.
Hey, yang paling membuat Fiona merasa geram adalah tempat di mana mereka keluar tadi adalah sebuah hotel berbintang yang selama ini diinginkan oleh Fiona untuk menjadi tempat di mana mereka bisa liburan menghabiskan akhir pekan.
"Wah, padahal ini masih subuh, tapi sepertinya dia sudah menghabiskan malam yang begitu menyenangkan bersama dengan wanita itu," ejek Lionel.
Saat lampu hijau menyala, Lionel kemudian segera tancap gas dan tidak mengindahkan bagaimana Fiona yang saat ini sedang menatap dengan begitu tajam ke arah kanan tepat di mana William bersama dengan wanita yang merupakan selingkuhannya itu berada.
"Hey, kamu tidak usah melihat pada pria lain ketika kamu sudah bersama dengan seorang pria tampan dengan segala kesempurnaannya, Fiona. Ah, apalagi kamu sekarang dengan begitu bodohnya sedang meratapi pria itu. Ah, demi Tuhan, rasanya aku yang malu!" ejek Lionel.
Lagi-lagi ucapan Lionel membuat hati Fiona merasa geram.
Bukannya menenangkan dia yang saat ini sedang patah hati dan juga sangat sakit hati melihat bagaimana William terus berselingkuh, Lionel seakan menabur garam sehingga membuat Viona merasa semakin sakit dibuatnya.
"Sepertinya aku akan benar-benar membutuhkan bantuanmu kali ini, Lionel. Jadilah seseorang yang bisa membuat William sakit hati dan juga merasa kalau duniaku tidak hanya berputar di sekitarnya saja!" ujar Fiona dengan tekad yang begitu besar sehingga Lionel tersenyum menyeringai.
"That's my girl!" sahutnya senang.
*****