Happy Reading ✨
.
.
Suara dentuman musik menyeruak ke seluruh penjuru ruangan, lagu You Where Beautiful di putarnya dengan volume di atas rata-rata menggunakan speaker bluetooth.
"Gavino!!!" Suara memekik ibunya tak idahkan lelaki berusia 20 tahun itu, tubuhnya bergerak elok mengikuti irama lagu.
Sesekali bibirnya menggumam kecil, "Yepposeo--"
Brakk
Buaghh
"Akhh..." Rintih nya sembari mengusap kepala yang baru saja terkena mangkuk plastik, "Sakit bund..."
"Biarin! Biar tau rasa! Ini udah jam berapa Vino! Waktunya sholat Jum'at, bukannya siap-siap malah nyanyi nggak jelas!"
Mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, Gavino mematikan musiknya. "Iya-iya Bun, ini mau siap-siap. Jangan marah-marah mulu, ntar cantiknya hilang."
Bunda Yuna menghela nafas, "Bisa aja kamu, sini! Balikin mangkuknya!"
Tap
Tap
Tap
"Vin, ayo berangkat." Itu ayahnya yang berucap. Setelah mengatakan itu, Ayah Dimas memasang pecinya. Mengecup singkat kening istrinya, "Cepetan, ayah tunggu di bawah."
Seperti seorang gadis yang baru saja kasmaran, pipi bunda Yuna merona. Dengan cepat Gavino memakai sarungnya dan mengambil pecinya, mengambil kesempatan sebelum bundanya kembali memarahi nya.
Menghampiri sang ayah yang menunggu di luar, lelaki itu dengan segera mengajak ayahnya pergi.
Menurut Gavino, tidak ada yang lebih menyeramkan daripada wajah kesal bundanya, terlebih perkara ibadah.
Baru saja beberapa meter berjalan dari rumahnya, Gavino berhenti. Membuat ayah Dimas ikut berhenti juga, "Eh, dek Airin. Baru pulang sekolah ya?" Tanyanya dengan senyum ramah.
Gadis 16 tahun itu menghentikan langkahnya, kemudian menatap Gavino dan ayah Agung bergantian. "Iya." Satu kalimat, singkat padat dan jelas itu membuat senyum Gavino luntur.
Ayah Dimas menahan tawa menatap ekspresi anaknya, lalu mengusak kecil pucuk kepala Airin. "Kok jalan kaki? Nggak di jemput kak Edo?"
Gadis itu mengangguk, "Lain kali, kalo kak Edo nya nggak bisa jemput. Minta tolong sama kak Vino aja, nggak usah sungkan."
Wajah Airin yang datar berubah menjadi sumringah, kala Ayah Dimas berujar seperti itu. "Iya om, makasih. Kalo gitu Airin pamit."
Gavino melambai kecil ke arah Airin, "Hati-hati dek, jangan sampe lecet." Saat ia mengatakan itu, wajah Airin kembali datar sembari menatapnya. "Iya."
Sudah biasa, itulah yang di rasakan nya. Jika Gavino atau pun teman-temannya yang lain menyapa Airin, gadis itu selalu memasang wajah datarnya.
Bukan Airin sombong, hanya saja ia mencoba membatasi diri agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Ayah Dimas merangkul anaknya, membawanya berjalan ke mesjid sebelum khotbah di mulai.
~~~
Pukul 8 malam, rumah Gavino kedatangan tamu yang ia sangat kenal dulu. Iya... Dulu.
Yuna yang baru saja kembali dari dapur setelah membuatkan minuman, ikut duduk di samping suaminya.
"Aku nggak nyangka kalian datang secepat ini, soalnya anakmu bilang kemungkinan minggu depan baru kalian bisa ke sini."
Karin dan suaminya hanya tersenyum, keduanya sengaja tidak memberitahu yang sebenarnya pada anaknya. "Sengaja Yun, biar jadi kejutan."
Entah apa yang lucu, tapi mereka tertawa. "Ada-ada aja kamu, jadi langsung ke intinya?" Tanya Dimas, karena dia tipe yang tidak suka basa-basi.
Jeff, suami Karin mengangguk. "Iya, langsung saja." Mempersilahkan orang tua Gavino untuk membahasnya.
"Kami sudah menentukan tanggal pernikahan keduanya, yaitu tanggal 16 Agustus. Untuk lamaran di tanggal 5 Agustus, bagaimana?" Kata Yuna.
Jeff dan Karin mengangguk bersama, menyetujui hal itu. "Tidak masalah, lebih cepat lebih baik." Sahut Karin.
Lalu keempat orang tua itu membahas yang lainnya, tentang pekerjaan dan pesta.
Berbeda dengan Gavino, ia memejamkan matanya dengan telinga yang di sumbat menggunakan earphone.
Gavino merutuk dirinya yang tak bisa berhenti memikirkan satu nama dan wajah yang kembali merasuki otaknya.
Padahal itu hanyalah sebuah senyuman, tapi berdampak buruk bagi pikiran Gavino. Setelah 3 tahun tak ada kabar, lalu wanita itu muncul saat ia sudah sembuh.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Vin." Suara bass itu membuat Gavino membuka matanya, kemudian ia duduk. Menatap ayahnya yang datang menghampiri nya, "Ayah mau ngomong serius sama kamu."
Wajah serius ayahnya seakan mengungkapkan bahwa akan ada berita besar, dan Gavino benci situasi seperti ini.
"Kabar baik? Kabar buruk? Atau apa?"
Ayah Dimas memperbaiki duduknya, menatap lekat anaknya yang memasang wajah memelas.
"Ayah punya calon istri untuk kamu Vin, 2 Minggu lagi acara pernikahan kalian. Ayah yakin kamu senang mendengar siapa calon yang ayah maksud."
Gavino bertanya pada ayahnya dengan wajah keki nya, "Siapa?"
Menepuk-nepuk bahu anaknya, ayah Dimas tersenyum. "Lia, wanita yang dulu selalu kamu ceritakan sama bunda. Wanita itu yang akan menjadi istri mu, bagaimana?" Jelasnya dengan bahagia.
Tapi tidak dengan Gavino, ia memasang wajah datar. "Vino... Nggak mau yah."
Keningnya menyerngit, pikirnya ada apa dengan jawaban anaknya. "Loh kenapa!? Bukannya kamu bucin banget sama Lia, dulu aja kamu selalu bangga-banggain diri sebagai calon suaminya Lia. Dan sekarang ayah sama bunda wujudkan Vin."
Itu dulu, bukan sekarang.
"Tapi Vino nggak mau yah, Vino masih mau bebas. Masih mau main sama Deon dan temen-temen yang lain tanpa pasangan, lagipula Vino suka--"
Pria itu mendelik tajam, "Kamu tau, ayah tidak suka ada penolakan, semua sudah di siapkan Vin. Jangan buat malu ayah sama bunda mu, persiapkan dirimu dengan baik 2 minggu lagi." Lalu, ia bangkit dari duduknya. Keluar dari kamar anaknya.
Gavino tak bisa berbuat apa-apa, karena ia masih lah menjadi beban keluarga. Maka menuruti kemauan orang tuanya menjadi satu hal yang bisa ia lakukan saat ini.
Menghempas kan tubuhnya ke kasur, Gavino menjambak rambutnya. Meraung sebab rasanya begitu sakit saat ia menariknya begitu kuat.
Menghela nafas berat, ia kembali memejamkan matanya. Berharap itu hanyalah mimpi belaka, "Pembahasan konyol..."
~~oooOooo~~
Seharusnya ini menjadi hari Sabtu menyenangkan bagi Airin, biasanya papa dan kakaknya akan liburan ke pantai seperti bulan lalu.
Tapi Sabtu ini tidak, papanya sibuk dengan urusan kantornya. Kakaknya pun sibuk mengurus skripsi yang selalu di abaikannya akhir-akhir ini.
Tak ada yang bisa di lakukan nya di rumah, membersihkan rumah? Sudah, memasak? Sudah juga, nongkrong? Airin tak punya teman yang bisa di ajak keluar.
Ting
Tong
"IYA, SEBENTAR."
Airin yang sedang menonton tv sembari ngemil pun terhenti, ada seseorang yang menekan bel rumahnya.
Ceklek
"Iya? Oh! Silahkan masuk Tante." Mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam rumahnya.
Tapi Bunda Yuna tidak ingin masuk, ia sedang terburu-buru, "Nggak usah, di sini aja." Tolaknya.
Airin mengulum senyum, lantas bertanya. "Mau cari Papa atau kak Edo?"
Wanita itu tertawa kecil, padahal tidak ada yang lucu menurut Airin. "Bukan sayang, Tante mau minta tolong. Boleh nggak?"
"Boleh kok, minta tolong apa Tante?"
"Kamu sibuk nggak?"
Gadis itu menggeleng, "Nggak kok Tante, Airin nggak ngapa-ngapain di rumah."
Sekali lagi, Airin di buat heran oleh Bunda Yuna. Wanita itu tersenyum penuh arti menatapnya, "Pas banget kalo gitu mah, bantuin tanam bunga di rumah, bisa? Kalo nggak mau juga nggakpapa."
~~~
"Besok ajalah, mingguan bareng sama Angga sekalian."
"Jadi malam ini lo nggak dateng ke markas?"
Gavino menggeleng, "Kata Bunda 'nda duyu', nggak bisa gue Yon."
"Yahhh... Padahal malam ini ada barang bagus di bawa si Raya."
"Ya maaf, besok deh besok. Beneran ini mah, nggak boong."
"Awas lo bo--"
"Gavino!!!"
"Iya bund!!"
Buaghh
"Akhh!" Pria itu terjatuh karena tak sengaja menginjak sarung membuatnya mencium tanah air, akibat kecerobohan dirinya.
Ia merintih sakit sebab masa depannya tak sengaja terkena ujung kursi saat ia hendak menapakkan kaki di lantai.
Segera bangkit lalu berlari keluar sembari menahan rasa sakit, Gavino menghampiri bundanya yang berteriak di luar sana.
"Kenapa bundacu?" Tanya nya begitu sampai.
Bunda Yuna memperbaiki kacamata hitamnya yang melorot, "Itu, kamu tolong tanamin bunga Bunda ya, Bunda nggak bisa. Lupa kalo ada arisan hari ini, jadi kamu aja ya."
Bahu tegaknya merosot ketika bundanya mengucapkan itu dengan begitu entengnya, "Tapi Bund--"
Meletakkan telunjuknya di bibir sang anak, Bunda Yuna berujar. "Sstt! Nono nya Bunda, kamu nggak sendiri kok. Bunda udah minta tolong sama temen kamu."
Pria itu tak berkutik jika Bundanya sudah memanggil nya dengan nama panggilan masa kecilnya, "Siapa? Deon? Nggak ah! Bosan sama Deon mulu!" Protesnya.
Melirik jam di tangannya, wanita itu menatap jengah pada anaknya. "Heh! Gitu-gitu juga dia yang nemenin kamu dari zigot tau! Kamu nih nggak tau diri banget jadi temen, nanti Airin yang bantuin kamu bukan Deon. Udah ah! Bunda mau berangkat sekarang. Dadah Nono sayang."
Sembari melambai ke arah Gavino, wajah memelas Gavino berubah ketika nama Airin di sebut.
"A shi ap bunda! Tiati! Pulang malam juga nggakpapa kok!" Ucapnya sedikit berteriak agar di dengar sang bunda yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Jangan di jahilin anak orang Vin!" Timpal Ayah Agung.
Gavino hormat pada Ayahnya, "Siap Komandan! Laksanakan!"
Kemudian, mobil kedua orangtuanya berlalu dari sana. Meninggalkan Gavino yang tersenyum bodoh di depan rumah tanpa menggunakan atasan.
Pria itu terkekeh sendiri di sana, lalu bergumam sembari masuk ke dalam kamarnya kembali. "Bunda tau aja yang bikin semangat."
Di dalam sana, tepatnya di dalam kamar. Gavino mencari celana jeans hitamnya yang di bagian lututnya sedikit ada robekan.
Tak lupa juga kaos putih favorit nya, ia kenakan dengan perlahan. Melepas sarungnya, ah! Ia lupa.
Tutup gorden agar tidak ada yang melihat, karena Gavino hanya memakai dalaman tanpa celana boxer di dalam sarungnya.
Setelah selesai berpakaian, ia beralih pada cermin nya. Merapikan rambutnya yang berantakan, lalu keluar dari kamarnya.
Sejenak, Gavino melupakan rasa sakitnya di bawah sana. Berjalan ala-ala Michael Jackson, rasa senang yang tak dapat ia bendung.
"Astagfirullahaladzim!"
Gavino terkejut ketika melihat seorang wanita berdiri di dekat pintu rumahnya, saat ia hendak keluar.
"L-lia?"