Devi membuka pintu mobil, lalu mengisyaratkan Tarjo untuk meninggalkannya.
Tubuh yang terbalut dress longgar segera bergerak, kemudian tangannya mendorong handle pintu, memasuki salon yang berdiri di jajaran ruko dua lantai.
“Pagi Bu Devi!”
Seru dua pegawai salon yang sedang merapikan majalah di atas meja.
Seperti biasa Devi tak menjawab, hanya mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya melewati beberapa kursi yang biasa untuk pengunjung potong rambut.
Di sudut ruangan paling belakang sebelahan dengan tangga tampak meja sederhana, di atasnya terdapat beberapa alat tulis, buku motifasi, buku seputar mengandung dan laptop. Perlahan Devi duduk, sambil menyalakan laptop di hadapannya.
Pelan-pelan lapak tangannya membelai perut halus yang mulai membuncit.
Bayi yang ia kandung sekarang sudah mulai memasuki usia 4 bulan 2 minggu. Baru satu minggu lalu bayinya sudah mulai bergerak lembut mencolek permukaan kulit perutnya.
Bermodalkan uang pesangon, tabungan yang selama ini ia miliki, menjual semua perhiasan dan membeli skin care harga murah untuk hemat, Devi membuka usaha salon, tepat saat usia kandungnya memasuki usia satu bulan.
Setiap hari memeras otak dan tenaga, bagaimana cara uang bisa berputar dengan cepat? Karena ia punya beberapa pekerja yang harus menerima gaji setiap bulannya, belum lagi kebutuhan pribadi, biaya operasional salon dan lain-lainya.
“Siva bagaimana pengunjung bulan ini, ada komplain?” tanya Devi.
Siva melangkah mendekat ke depan meja kerja Devi. “Ndak Bu, memasuki bulan ke tiga mulai ramai, mereka yang pernah datang ke sini dan kembali dengan membawa teman atau saudaranya.”
Dua kali Devi mengangguk puas, marketing yang ia jalankan berhasil. Social media menjadi alat promosi yang Devi gunakan untuk mendapatkan pelanggan, lengkap dengan penawaran dan promo murah setiap minggunya. Dia berhasil menggaet kaum muda untuk jadi pelanggan tetap.
Dirinya juga membayar mahal kursus perawatan rambut untuk ke dua pegawainya. Siva dan Ani di didik menjadi seorang yang ahli di bidang penataan rambut, mulai dari memotong rambut, pewarnaan rambut dan semua yang berhubungan dengan rambut.
Memasuki usia kandungan ke delapan tubuhnya mulai mengembang. Tidak hanya perutnya besar tapi pantatnya ikut melebar, nafsu makan yang menggila membuat pipinya semakin berisi, bukan hanya itu,lengan, paha dan betis mengambang sempurna.
Berkali-kali Namy mengomel karena Devi terus-terusan makan setiap jamnya. Ngeri melihat nafsu makan ibu hamil kalo sedang kalab, kalo tai kucing bisa dimakan pasti sudah dilahap.
“Astaga Devi, bukanya tadi jam tujuh sudah makan sama sop. Ini baru jam delapan sudah beli bubur ayam?” Nampak wajah cemas Namy.
Devi tersenyum malu. “Devi pengen bubur ayam Bu. Ngak tahan.”
“Silahkan makan! Tapi dibatasi kamu sedang hamil besar. Kata dokter-kan kamu harus diet,” omelan Namy yang sudah sekian kalinya.
“Ini sudah dibatasi Bu, sini aku suapin!” Satu sendok bubur tepat di hadapan Namy.
Namy memalingkan badan sambil menepuk kening. Rasanya sudah lelah setiap saat harus mengatakan hal sama pada Devi, untuk diet. Dirinya begitu kuatir. Dokter bilang jika bayinya usia delapan bulan berat tiga kilo, jika beratnya bertambah akan menyulitkan persalinan Devi.
Devi hanya tersenyum melihat raut wajah kesal Namy, dan kembali menyantap bubur ayam yang tinggal beberapa sendok.
Alasannya nafsu makannya bertambah bukan semata-mata kehamilannya, tapi stres berat ketika teringat dengan Devan. Ya, hanya Devan yang mampu membuat Devi benar-benar merana.
Untuk tetap waras dia harus bahagia, dan saat ini yang mampu membahagiakannya adalah makanan.
Semakin tua usia kandungnya Devi merasa semakin pilu, kini makanan apa saja tak bisa meluluhkan hatinya. Otaknya mulai terusik masa lalu. Membayangkan Devan di sampingnya, mengelus lembut perutnya dan bernyanyi untuk bayi yang ia kandung. Bersama-sama merapikan baju bayi dan selalu menemani dirinya control sampai proses melahirkan. Pasti itu akan sangat indah.
Tapi, itu hanya sepintas dia akan teringat peristiwa laknat pada malam itu.
Dua tubuh manusia yang menyatu di atas hubungan yang haram.
Beberapa hari terakhir setiap malam Devi sering menangis sendirian, merasa rapuh dan tak berguna, jika pagi tiba ia akan tengelam pada segudang kesibukan.
Jika dirinya bisa memilih ia ingin siang sepanjang hari, tanpa malam agar bayang-bayang Devan tak menghampiri.
Nyatanya kepergian yang beratus-ratus kilo meter tak mampu menghapus kenangan perih, yang ada Devi hanya lari dari kenyataan.
“Ada apa? Kok belum tidur?” tanya Namy.
Devi yang duduk di kursi kayu teras rumah terhentak. “Hmmm belum ngantuk Bu.”
“Angin malam tidak baik untuk ibu hamil. Masuk dan tidurlah!” Namy duduk di kursi kayu sebelah Devi.
Devi menarik nafas panjang. Punggungnya ia sandarkan ke badan kursi, sambil mengusap lembut perutnya. “Sebentar lagi Devi tidur Bu. Ibu tidurlah dulu!” ujar Devi dengan senyuman terpaksa.
“Kamu mikirin Devan?” Namy memandang Devi.
Jantung Devi bergetar, entah mengapa setelah nama terucap begitu saja dari bibir Namy. Wajahnya berpaling dari pandangan Namy, dua kali dirinya menelan ludah. Sesaat suasana hening, ada hanya angin yang berhembus mesra membelai daun-daun di taman depan rumah.
“Apakah benar yang ibu tanyakan?” Namy kembali memecah keheningan.
Air bening mengalir di pipi halus nan lebar, cepat-cepat Devi mengusap dengan punggung tangannya. “Tidak. Devi sama sekali tidak memikirkan dia Bu?”
“Lalu kenapa kamu menangis?” Namy menyentuh pipi basah Devi.
“Devi bahagia anak ini akan segera lahir Bu.” Senyuman pilu menghiasi wajah Devi.
Kini wajah Namy yang tertunduk, angin kembali menyapa kulitnya yang mulai keriput. Suasana kembali hening, dirinya merasakan kebohongan pada putri kesayangan.
“Sampai kapan kamu akan pura-pura baik-baik saja?”
Devi memandang Namy berusaha tetap tersenyum manis. “Aku memang baik-baik saja Bu.”
“Aku yang melahirkan kamu. Aku satu-satunya orang yang mencubit jika kamu berbohong waktu kecil.” Namy terdiam dan menarik nafas sejenak. “Tapi sekang Devi sudah dewasa jika bohong tidak mungkin Ibu cubit lagi. Jujurlah! Jangan kamu tutupi apa pun dari ibu!” Senyuman Namy mengembang sempurna.
Devi tertawa teringat sesuatu, apa yang dikatakan Namy benar. Diri-nya-lah yang mencubit Devi saat tak jujur. Waktu kelas enam SD, Devi mencuri mangga milik Pak Samin milik tetangga desa sebelah. Pak Samin sudah hilang sabar ulah Devi sekian kalinya, akhirnya datang ke rumah dan melaporkan kenakalan Devi.
Untuk pertama dan terakhir kalinya Namy mencubit bokongnya, baru dirinya berkata jujur jika telah mencuri mangga milik Pak Samin.
“Ngomong sama Ibu, jangan senyum-senyum sendiri!” tandas Namy.
“Apa yang salah ya Bu dari aku? Kenapa Mas Dev-,” ucapan Devi terhenti, rasanya dirinya tak kuasa untuk menyebut nama orang yang menyakitinya.
Tangan Namy meremas lengan Devi yang sudah sebesar pentungan, wajahnya tenang lengkap dengan senyuman yang menghangatkan. “Ujian tidak memihak kepada mana yang benar atau salah!”
“Tapi… “ suara pelan penuh kekalutan terdengar dari bibir Devi.
“Berhenti lari dari kenyataan! Sampai kapan kamu sembunyi dari Devan?” tandas tegas Namy.
*
Saat – saat yang tak ditunggu telah tiba. Usai kandungan Devi memasuki sembilan bulan.
Kata bidan akan lahir dua minggu lagi. Tapi itu kata bidan, bagaimana dengan kata Tuhan yang menciptakan jabang bayi di rahim Devi?
Satu minggu lebih awal, mulas dua jam sekali secara teratur terus Devi rasakan. Dan ritme antara sakit pinggul dan mulas di rasa setiap menitnya.
Servik sudah melebar hampir sepuluh senti, rasa sudah berkali-kali mencoba mengejan tapi si bayi tak kunjung keluar. Air bening keluar begitu saja bercampur dengan lendir melalu jalan lahir bayi.
Keringat bercucuran membasahi kening Devi, seorang wanita usia tiga puluh tahun tepat di hadapannya memakai masker, dan sarung tangan karet. Terus memberi aba-aba kapan ia harus mengambil nafas, dan mengejan.
Tulang seluruh tubuhnya terasa remuk, dadanya terasa kembang kempis, tenaganya hampir habis tapi bayi tak kunjung keluar. Hasratnya ingin terus mengejan. Dan sekian kalinya gagal.
“Kita mulai coba sekali lagi ya Bu! Ibu mengejan saja seperti mau BAB!” ujar Bidan yang terlihat mulai panik.
Di luar ruangan Namy memejamkan mata dan bibirnya terus komat kamit dan hadapnya Tarjo terus berjalan mondar mandir meskipun istrinya sudah melahirkan tiga kali, tapi mendengar teriakan orang melahirkan masih sama. Sama-sama mengerikan.
“Ayo lebih kuat lagi Bu, ini kepalanya udah kelihatan!”
Sesaat bidan itu mengambil gunting yang mirip gunting stainless pada umumnya, dengan bagian ujung melengkung ke atas. Hanya hitungan detik bidan dengan cepat membuat irisan bedan di atara paha besar Devi. Dengan terpaksa bidan melakukan episiotomy karena sudah lebih dari satu jam bayi tak kunjung lahir.
Di detik yang sama Devi menjerit kesakitan, kedua tangannya mengepal erat.
“Ahhh!”
Terasa benda besar keluar dari badannya, sesaat suara tangisan bayi mungil terdengar memenuhi ruangan.
Namy yang berada di luar ruangan berdiri berusaha mengintip di cela-cela pintu, rasa haru benar-benar menyelimuti hatinya. Tarjo berkali-kali mengucap kata “amin” lengkap dengan air di sudut kelopak matanya.
Sembilan menit berlalu seorang suster mengendong bayi berselimut kain warna biru muda.
“Selamat Bu bayinya sehat cantik!” ucap suster.
Devi mengangguk. “Terimakasih banyak Suster,” ucap Devi untuk pertama kalinya setelah sekilan lama dirinya tak mengucapkan kata itu pada siapa pun.
Air matanya menetes tak henti-hentinya ketika bayi mungil seberat tiga kilo tujuh one berada tepat di dadanya. Bibir mungil bergerak-gerak mencari sumber kehidupan, beberapa saat kemudian ia menemukan sumber air kehidupan.
Bayi perempuan yang cerdas, bibir mungilnya menghisap p****g Devi. Matanya sendu memandang Devi seolah-olah berbicara “terimakasih telah melahirkan aku.”