Satu
Desember 2017
Pintu gerbang gedung Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin itu terbuat dari lempengan baja pilihan yang kuat dan kokoh berwarna abu-abu. Bentuknya seperti pintu kembar minimalis hanya saja ukurannya raksasa. Pintu itu kelihatannya sangat berat ketika seorang petugas Lapas mendorongnya hingga membuka sedikit, namun itu cukup untuk seorang anak muda ke luar dari balik pintu dan tersenyum pada langit biru yang jernih. Dia kemudian melenggang santai meninggalkan pintu gerbang yang ditutup kembali oleh petugas. Melangkah tenang menyusuri pedestrian di halaman depan Lapas yang luas, melewati pintu pagar terbuka lalu menyebrangi jalan Raya A.H. Nasution dan berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan kota.
Di dalam dompetnya yang lecek dan butut terdapat KTP dan uang 275 ribu rupiah. Itu adalah harta paling berharganya. Anak muda itu memasuki angkutan kota pertama yang berhenti di depan hidungnya.
Dia mengenakan kemeja kanvas lengan pendek yang kebesaran berwarna pudar pemberian Kepala Lapas serta celana jeans 3/4 yang membuat dengkulnya tampak menonjol; duduk di pojokan angkot dengan ekspresi optimis. Sepatu sport warna putih murahan tampak robek pada bagian ujungnya, menambah betapa tidak matching penampilan mantan napi bernomor 23678 ini.
"Kiri!" Katanya dengan suara keras ketika angkot tiba di tempat yang ditujunya. Angkot itu tidak begitu penuh dan mantan napi itu berjalan membungkuk di dalam angkot, turun dengan cara meloncat dan membayar dengan uang pas.
"Kurang seribu, euy!" Kata Si sopir angkot, kesal.
"Seribu perak aja ditagih, nih!" Jawab mantan napi itu dengan wajah cuek sambil memberikan uang tambahan seribu rupiah. Setelah angkot melaju dan sebelum dia membalikkan badannya, sekilas anakmuda itu melirik ke arah seorang lelaki tinggi besar memakai topi bisbol yang sedang merokok di dekat warung kopi. Mantan napi itu menyembunyikan senyum dalam hatinya, dia tahu itu adalah anggota reserse yang sedang mengawasi dirinya.
"Bodo amat, aku lebih cerdik dari polisi." Katanya dalam hati.
Dia melangkah memasuki gang kecil yang sempit dan berjalan dengan semakin santai. Membiarkan orang yang membuntutinya menjadi agak gagap.
"Hey, Arman kemana aja kamu?" Tanya seorang lelaki tua yang tengah memperbaiki sesuatu di area pintu rumahnya.
"Kerja atuh, Bah. Di kota." Jawabnya enteng.
"Katanya kamu di penjara karena narkoba?" Tanya lelaki tua itu, penasaran.
"Fitnah itu mah Bah, fitnah." Kata Arman sambil terus melangkah. "Aku bukan pecandu, sumpah demi awloh."
Dia menyusuri gang yang berlika-liku, setiap kali dia menemukan pinggul perempuan, matanya segera bersinar jelalatan. Ketika berpapasan dengan seorang cewek ABG yang berdandan menor, tangan jahilnya yang iseng mencolek p****t abg itu.
"Aduh cantiknya mau ke mana nih?" Kata Arman sambil tersenyum menebar pesona.
"Heh jangan colak-colek sembarangan ya." Hardik gadis ABG itu dengan nada genit. Arman Donello mengedipkan sebelah matanya.
Tiba-tiba saja datang seorang pemuda tanggung menyeruduk dan menyilet mata Arman dengan tatapan sinis dan cemburu.
"Aku tidak cari masalah, dek. Cuma menyapa." Katanya kepada pemuda tanggung itu. Arman tak menghiraukan amarah si pemuda, dia melangkah lebar pergi menjauh, meninggalkan abg itu beserta cowoknya. Lalu masuk ke dalam sebuah warung kelontong kecil.
"Eh, Arman, kemana aja koq enggak pernah kelihatan?" Kata seorang emak STW yang mengenakan daster batik tipis. Dia adalah pemilik sekaligus pelayan warung kelontong kecil itu.
"Ada aja, Ceu Romlah." Jawab Arman. Sepasang mata Arman dengan lapar melahap tubuh STW itu yang tampak menerawang di balik daster tipisnya.
"Udah lama enggak belanja ke sini." Kata Ceu Romlah. Usia STW ini sekitar 40-an, memiliki kulit putih dan bodi semok umumnya kaum STW. "Mau beli apa?"
"Mie instant ceu 4 bungkus, rokok filter setengah, kopi segantung dan kerupuk... Kang Odeng ada?"
"Barusan pergi sama si Atang... katanya mau mancing." Jawab Ceu Romlah sambil memasukkan barang-barang yang diminta Arman ke dalam kantong kresek hitam.
"Oh. Kalau mancing pasti pulangnya nanti pagi ya Ceu."
"Begitulah, Man. Ceuceu mah sudah biasa ditinggal sendirian malam-malam sama Kang Odeng." Kata Ceu Romlah sambil ujung matanya melihat sekilas bagaimana tangan Arman mengusap bagian depan celananya yang menggembung.
Ceu Romlah menyibakkan rambutnya yang panjang dan lurus, menatap sejenak ke arah mantan napi berusia 23 tahun itu dan menyerahkan kantong kresek berisi mie, rokok, kerupuk dan kopi kemasan.
"Jadi semuanya berapa ceu?"
"43 ribu 500." Jawab Ceu Romlah.
Arman mengeluarkan uang 50 ribuan, menyerahkannya kepada Ceu Romlah, lalu menerima kembaliannya.
"Mau terus pulang?"
"I ya Ceu, kasihan Enin sudah terlalu lama menunggu." Kata Arman sambil berbalik dan melangkah pergi.
Ceu Romlah menatap kepergian Arman Donelo dengan tatapan nanar. Tangannya mengusap-usap bagian tengah selangkangannya dari balik daster... "Iiiihhh, awas nanti kalau kamu ketahuan onani, gua genjot lu sampai muncrat." Bisik Ceu Romlah dalam hatinya.
Ceu Romlah tidak tahu, bagaimana secara diam-diam seorang lelaki tinggi besar bertopi bisbol itu memperhatikan dengan ekspresi yang aneh lalu melangkahkan kakinya untuk terus menguntit Arman Donello.