Rinzano Gavin Wardhana, Pilot muda ganteng keturunan Jerman dan China Jawa. Anak kedua dari tiga bersaudara, yang pertama adalah Belvira Wardhana dia sudah menikah dan memiliki satu orang anak, yang terakhir Aaliyah Diajeng Wardhana. Mereka adalah anak dari pasangan Tristan Aharon Wardhana dan Arthawidya Wardhana, Ibu Gavin merupakan keturunan ningrat, dia tidak di izinkan untuk berkerja dengan suaminya dan Tristan adalah pengusaha sukses di bidang bisnis, sebentar lagi akan membangun Mall terbesar di Indonesia.
Gavin pulang kerumahnya dengan wajah suntuk.
"Gavin mukanya di kontrol dong" Ucap Artha, melihat wajah anaknya yang semakin tertekuk melihat ada tamu di dalam rumahnya.
"Bunda, ini ada apa lagi sih" Panggil Gavin dengan malas.
"Cepat ganti baju, ini tamunya udah nunggu dari tadi loh" Ucap Artha menjelaskan, dengan cepat Gavin mengganti pakaian nya lalu ikut bergabung dengan tamunya.
"Gavin kenalan dong" Ucap Artha menyuruh Gavin untuk bersalaman dengan gadis dihadapannya ini.
"Gavin" Ucap Gavin dengan wajah datarnya, membuat gadis dihadapannya ini sedikit takut.
"Vanila" Ucap Gadis yang bernama Vanila itu.
"Vanila, Gavin ini pilot seperti yang kamu liat tadi. Jadi nanti jangan ngeluh ya kalo ditinggal kerja" Ucap Artha membuat semua orang tertawa kecuali Gavin dan Aliyah sedangkan Vanila tersenyum malu malu.
"Oh iya Gavin, Vanila ini lagi kuliah di Lasalle college" Ucap Artha lagi.
Gavin langsung paham bahwa Vanila ini ingin menjadi Designer.
Tiba tiba Gavin langsung berdiri dan pergi dari tempat terkutuk itu.
Vanila yang disuruh untuk mengejar Gavin, langsung berjalan mengikuti Gavin ke kamarnya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa?" Tanya Gavin.
"Ini aku Vanila" Ucap Vanila dengan suara lembutnya.
Tidak ada jawaban dari dalam, membuat Vanila dengan ragu membuka pintu dihadapannya itu. Perlakuan Vanila membuat Gavin kesal.
"Untuk apa masuk" Ucap Gavin menaikan suaranya satu oktaf.
Vanila terperanjat kaget.
"Aku.. Aku.." Ucap Vanila takut.
"Pergi! Dan jangan pernah kesini lagi, saya tidak akan pernah mau di jodohkan dengan anda" Ucap Gavin dengan wajah datar dan tatapan sengitnya, ucapan Gavin membuat air mata Vanila lolos dari kedua matanya.
Jangan harap Gavin akan berjalan mendekat lalu membersihkan air matanya dan memeluk dirinya, meminta maaf serta menarik perkataannya. Tapi tunggu, Gavin berjalan mendekat ke arah Vanila. Vanila sedikit tersenyum membayangkan Gavin berlaku baik padanya tapi nyata nya tidak, Gavin mendorong Vanila untuk keluar dari kamarnya lalu menutup pintu kamarnya dengan keras.
"GAVIN" Teriak Tristan pada puteranya itu, lalu menatap Vanila yang masih terdiam didepan pintu kamar Gavin.
Gavin yang mendengar teriakan itu langsung buru buru masuk kedalam kamar mandi.
Gavin telah selesai dari acara bersemedinya, dia berjalan gontai menuju tempat tidurnya.
Suara ketokan didepan pintu membuat Gavin berdiri dan membuka pintu berwarna putih itu.
"Kenapa Yah?" Tanya Gavin tanpa dosa.
"Cepat turun" Ucap Tristan dengan suara super datarnya, namun itu sama sekali tidak membuat Gavin takut.
Gavin berjalan mengikuti langkah Ayahnya itu untuk menemui Bunda dan Adiknya, karena tamu orang tuanya sudah pulang sejak tadi. Gavin duduk didepan kedua orang tuanya, lalu menatap keduanya. Sedangkan Aaliyah melihat kakaknya itu takut.
"Gavin cukup dengan tingkah kekanak kanakan kamu itu!" Teriak Tristan.
"Salah aku apa yah?" Tanya Gavin dengan mencoba untuk sesantai mungkin.
"Bersikap sopan didepan tamu" Ucap Tristan yang sudah jengah dengan sikap Puteranya itu.
"Enggak, Gavin gak mau. Udah berapa kali Bunda selalu jodoh jodohin aku dengan cewek cewek yang bukan sama sekali tipe aku, dan kali ini bikin aku semakin berpikir berkali kali untuk terima perjodohan Bunda" Ucap Gavin dengan tatapan tajamnya, hilang sudah tatapan teduh yang selalu Artha sukai.
"Bunda ingin cari yang terbaik buat kamu Gavin" Ucap Bunda masih dengan pendiriannya.
"Bun, Gavin tau semua orang tua pun sama. Tapi Gavin tau bun mana orang yang pantes jadi pendamping aku" Ucap Gavin lagi.
"Pokoknya Bunda, bakalan jodohin kamu titik! Jangan bantah Bunda lagi!" Ucap Bunda kesal.
"Bunda gak perlu capek capek jodohin aku, karena aku gak akan hargai usaha Bunda" Ucap Gavin yang sudah jengah.
"GAVIN, INI BUNDA KAMU. HARGAI!" Ucap Tristan dengan suaranya yang memenuhi seluruh ruangan.
Aaliyah hanya terdiam menunduk, mendengarkan percakapan mereka. Aaliyah sangat paham, rasanya jadi Gavin. Semua kehidupannya selalu dicampur tangani dengan kedua orang tuanya, berbeda dengan Belvi yang hidup selalu atas kehendaknya.
"Gavin capek, mau istirahat" Ucap Gavin yang benar benar lelah dengan kehidupannya itu.
_________________________
Pukul 5 subuh, Gavin sudah siap dengan pakaian kebanggaannya itu. Pilot adalah cita cita dirinya, dengan perjuangan keras serta dukungan dari kakeknya untuk meyakinkan kedua orang tua nya.
Kakek nya yaitu Daniel Johnatan, adalah salah satu inspirasi dirinya untuk tetap mempertahankan cita citanya. Dan sekarang Gavin akan memperjuangkan cintanya, semoga saja Kakek mengizinkannya.
Gavin akan flight menuju Jerman, seperti biasa dia akan bersama Co-pilot Ravid.
"Kapten" Panggil Ravid sambil menarik kopernya itu.
Seperti biasa, Gavin hanya melirik sekilas. Lalu Mereka berdua berjalan masuk kedalam kokpit karena sebentar lagi akan take off.
Pesawat sudah landing di bandara Jerman, Gavin langsung bergegas menuju rumah kakeknya itu.
"Kakek" Teriak Gavin melihat kakeknya itu sedang meminum teh dan membaca koran.
"Cucu ku" Tanya Daniel sambil tertawa, melihat cucu kesayangannya datang.
"Kakek, aku akan berganti baju. Dan aku akan menceritakan semuanya" Ucap Gavin langsung berjalan menuju kamar khusus dirinya, setelah melakukan semua kegiatannya. Gavin langsung mendekati kakeknya.
Gavin memulai ceritanya dari mulai dijodohkan dengan berbagai gadis, lalu bertemu gadis cantik di singapur dan dijodohkan kembali. Kakek Daniel hanya tertawa di buatnya.
"Oh, kalo kamu suka dengan gadis yang bernama Alessa kejar saja" Ucap Daniel dengan senyumannya.
"Tetapi dia masih berumur 17 tahun, Aku tidak bisa membayangkan ekspresi Bunda" Ucap Gavin sambil. Memegang kepalanya.
"Apakah dia masih SMA?" Tanya Daniel meyakinkan.
"Iya, kemungkinan begitu" Ucap Gavin.
"Itu tidak masalah cucuku" Ucap Daniel memberikan semangat.
"Tetap lah disini untuk beberapa waktu, tenang kan lah pikiran mu" Ucap Daniel sambil mengelus pundak Gavin.
Gavin hanya menganggukan kepalanya.
_________________________
Tak terasa Gavin sudah tinggal di Jerman selama 3 minggu, semua jadwal milik Gavin sudah diganti dengan orang lain dan itu adalah kelakuan Kakek Daniel.
"Kakek, aku rasa aku harus pulang" Ucap Gavin.
"Sudah tenang?" Tanya Kakek Daniel.
"Bukan, Aku kasian Aaliyah. Dia terus nanyain kabar aku, nyuruh cepat pulang" Ucap Gavin.
"Oke itu bukan masalah" Ucap Kakek sambil tersenyum.
Dan, akhirnya Gavin pulang.