"SIAPA PEREMPUAN ITU MAS!! KAMU ALASAN BUAT KERJA CUMA BUAT KETEMU PEREMPUAN SIMPANAN KAMU KAN!!"
"APA KAMU PIKIR ENAK KERJA DARI PAGI TERUS PULANG MALAM SETIAP HARI!! seharusnya kamu mikir gimana capeknya aku setiap hari!! Jangan asal nuduh yang gak gak!! Istri yang gatau adab sama suaminya harusnya sadar diri-"
Plak!
"Si-sialan--"
"PERGI!! Kamu pergi dari sini dasar b******n busuk!!! Arggh!!!!"
Teriakan tangisan itu memenuhi setiap sudut di rumah itu.
Trang!
Didalam salah satu ruangan sunyi samar samar terdengar suara isakan tangis yang ingin membisu.
Disana seorang gadis kecil duduk mengubur wajahnya dalam dekapan.
Cairan merah menetes perlahan keluar dari tangan gadis itu.
Darah.
Itu darah.
Darah mengalir dengan setiap irisan cutter yang dia pegang ditangan lainnya.
Itu mengalir dan membasahi lantai dengan tetesan demi tetesan yang lembut terjatuh ke lantai.
Tangisannya pun semakin lirih seakan menahan rasa sakit luar biasa.
Ada sebuah kain yang digumpal didalam mulutnya.
Dia berusaha.
Dia berusaha menahan semua teriakan menyakitkannya.
Itu bukan dari luka yang dia buat dengan cutter ditangan nya, luka yang dibuat bahkan tidak terasa untuknya.
Dia menahan kesakitan didalam dirinya itu terlalu menyakitkan.
Dia punya pemikiran saat itu dengan air mati yang membanjiri semua wajahnya dan darah yang masih mengalir lembut ditangannya.
'apa ini akan selesai jika aku mati?'
***
"Aku pulang."
Nana memasuki membuka pintu dan memasuki rumahnya. Tak ada sahutan apapun yang dia dengar walaupun ia memang tidak mengharapkan balasan apapun dari itu.
Nana berjalan pelan ingin pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Namun, ia berhenti sejenak setelah melihat ibunya sedang memasak di dapur dengan hening, hanya terdengar suara suara gemerisik alat alat dapur yang ibunya gunakan.
Nana melihat wajah itu wajah ibunya yang terdapat beberapa lebam bahkan di tangan dan badannya.
Nana menatap semua itu dengan diam tanpa bergerak ditempat ia berdiri.
"Nanti makan, ibu mau keluar sebentar selesai ini"
Ibunya berkata dengan pelan tanpa bahkan menoleh kearahnya.
"....ya"
Nana hanya menunduk dan pergi tanpa menatap juga.
Nana berada di kamarnya ia segera mengganti baju setelah membersihkan dirinya.
Sekarang Nana berusia 16 tahun ia sekarang sudah berada di kelas 2 SMA dengan semua usahanya ia bisa diterima di SMA favorit tanpa masalah biaya karena dia mendapat beasiswa murid yang berprestasi.
"Udah beberapa tahun tapi gak ada yang berubah sama sekali"
gumaman itu pelan.
"Semuanya sama...."
Nana menyingkirkan semua lamunannya dan segera turun ke lantai bawah untuk makan.
Setelah turun semua ruangan sunyi tak ada seorang pun bahkan di dapur Nana tidak melihat ibunya lagi berada di sana.
"Kayak biasa gak ada sepatah kata pun"
'yah.. apa si yang gue harapin'
Nana duduk dimeja makan dan makan dengan tenang dalam kesunyian yang ada.
***
Esok pun tiba.
Hari yang damai untuk Nana di sekolah sebelum suara teriakan seseorang menggema meneriakkan namanya.
"NANA!!"
'Apanya yang damai, gila'
Nana mengernyitkan alisnya dengan kesal saat mendengar teriakan itu.
Yang tidak lain adalah temannya sendiri.
Debi Eka Gustiwana
Dia adalah teman masa kecil Nana yang entah bagaimana mereka selalu di sekolah yang sama dan kelas yang sama.
Gadis ekstrentik itu berlari menuju mejanya yang berada di baris kedua kanan.
"NA, INI SITUASI YANG GAWAT GAWAT GAWAT BANGET BANGET LO HARUS TAU KALO GUE-"
"Ngerjakan tugas" Nana menyelanya dengan cepat.
"Intinya gue ga mau titik" tambahnya.
Debi yang mendengar jawaban acuh itu cemberut.
"Bakso dua mangkuk"
"Ambil di tas gue, abis itu balikin"
Itu jawaban yang cepat.
"Gotcha~"
Debi tersenyum lembut.
'Duit gue...'
***
Jam istirahat sudah berbunyi Nana dan Debi sudah berada di kantin untuk memesan pesanan mereka. Dan sesuai janji kali ini Debi bakal traktir Nana bakso. Mereka berdua duduk berhadap-hadapan untuk menunggu pesanan mereka.
"Nana" Panggil Debi.
"Ya?"
"Em..maaf gue nanya.. tapi gimana keadaan lo?"
Nana yang mendengar pertanyaan Debi sangat tahu apa yang dia maksud.
"Gak papa, gue biasa aja kok"
Debi yang menerima jawaban Nana hanya bisa menghela nafas pasrah.
Debi tahu betul bagaimana keadaan Nana tapi dia tidak bisa memaksa Nana untuk cerita semua kepadanya, dia juga tau walaupun mereka berdua dekat tapi pasti ada hal yang kurang enak untuk dibagikan ke orang dekat.
Mungkin cuma Debi satu satunya orang yang tau gimana menderitanya Nana.
Debi teringat kejadian saat mereka masih SMP itu adalah kenangan buruk untuknya.
'Misalnya aja waktu itu..'
Debi mengernyitkan alisnya dengan tatapan tidak fokus.
"Debi!!"
Debi tersadar dari lamunan nya dan menoleh kearah Nana yang memanggil namanya.
"Eh iya?"
"Lo kenapa malah ngelamun? Tu bakso bakal dingin"
Celetuk Nana menyipitkan matanya.
"Eh iya.. gue makan.. aduh!! Kurang ni Bu minta sambel dong!!"
Nana menghela nafas kasar.
"Oh iya na lo tau ga, bakal ada anak baru di kelas kita"
Debi mengangkat topik baru.
"Anak baru?"
"Iyaa, dan lo tau katanya dia pindahan dari luar negeri katanya sih nyokap bokap dia dari dulu tinggal di luar gitu sebelum balik lagi ke indo"
"Oh ya? pasti bakal heboh"
"Dan yang terpenting dia GANTENG PAKE BANGET, gue udah liat fotonya dari ketkel vibes nya kayak cowo misterius gitu omaygatt kayaknya gue bakal jatuh cinta lagii" Debi dengan histeris menceritakan apa yang dia tau tentang anak baru itu.
Dan tentu saja Nana hanya memandang Debi dengan ekspresi menyedihkan.
"Terus mau lo kemana si Devin, sinting" celetuk Nana
"Yakan gue jatuh cinta sama visual anak baru doang, kalo hati gue mah masih sama ka Delvin" Debi dengan bangga mengeluarkan semua omong kosongnya tanpa rasa malu.
Sekali lagi Nana menatapnya dengan menyedihkan.
"Hah, HTS sebulan aja pamer lo"
JLEB.
Debi membeku.
Itu tepat sasaran.
"Jangan langsung di ultimate dong, sialan"
Nana hanya tertawa dengan kemenangan melihat Debi yang ciut.
Tiba tiba saja seorang lelaki datang menghampiri mereka.
"Hayoo~, lagi ngomongin gue ya"
Itu Delvin.
Dengan perawakan yang tinggi dan wajah yang enak di pandang sangat mudah membedakannya dengan orang orang.
"Eh, Delvin lo ga latian? katanya ada tanding basket" Nana menatapnya dengan penasaran.
"Lagi break bentar, pegel juga gue ni jadi mampir kantin buat makan tadi" jawab Delvin lalu duduk di sebelah Debi dengan alami.
Debi yang merasakan seseorang duduk disamping hanya membeku sesaat.
Seperti kata Nana.
Debi dan Delvin menjalani hubungan yang tidak jelas. Walaupun sudah lama mengenal satu sama lain Debi tetap merasa gugup jika dekat dengan Delvin.
"Lo ga mau balik basket lagi Na?"
"Ga gue cape, Debi kayaknya mau tu" Nana menyeringai.
Debi yang mendengar pernyataan itu segela menyangkal dengan gugup.
"A-apa gue ga ada bilang apa ap-"
"Debi mau join basket?" Delvin menoleh kesamping menatap orang yang ada di sebelahnya dengan mata terkejut.
"E-eh itu a-anu"
Debi gelagapan dengan wajah memerah.
"Hm?"
Delvin semakin menatap mata Debi yang panik menurutnya itu lucu.
"I-IYAA" Debi menjawab dengan berteriak panik.
Delvin yang mendengar itu agak terkejut dan membelalakkan matanya seakan terkesan.
"Wow, semangat yang cocok hahaha..." Delvin tertawa kecil.
Debi yang di sungguhi pemandangan malaikat didepannya tidak bisa tidak memerah dan merasa malu.
"Oke kalo gitu gue bakal urus surat gabung lo, gue mau lanjut latian lagi"
Delvin berdiri dari duduknya dan ingin beranjak pergi meninggalkan dua wanita itu. Sebelum mendengar suara seseorang.
"Semangat kak"
Debi menundukkan kepalanya dengan malu.
"Ya?" Delvin terdiam beberapa saat.
"Se-semangat buat tandingnya kak!" Debi mengulangi ucapannya lagi dengan malu.
'gue bodoh bangett, maluuuu tapi Delvin ganteng ganteng banget ya Tuhan!!'
Debi berteriak secara internal. Sesaat tangan besar mengelus pucuk kepalanya dengan lembut. Debi mendongak dan melihat Delvin tersenyum lebar kepadanya.
"Makasih Debi"
Debi membeku dan...
BOM!
Hati Debi meledak saat itu juga.
Delvin sudah berjalan meninggalkan mereka dengan wajah bersemangat.
Nana yang sedari tadi diam melihat adegan romantis didepan hanya tersenyum dalam diam.
'Ganti mc aja ga sih'
Itu senyuman dengan banyak arti.