Rikho Pov
Hari ini beneran hari yang melelahkan, pagi hari udah di gangguin anak curut, dan tadi dia tiba - tiba nelfon gue, dan kembali ngoceh yang unfaedah bikin gue gedeg, beneran merusak hari indah gue.
"Arlan" teriak gue.
"ada apa sih... gak usah kayak Tarzan gitu bisa kali...." jawab sahabat gue yang gue panggil.
"elo ngasih nomer gue sama itu curut ya ?!"
"hehe.... sorry bro, gue gak punya pilihan lain, dia nangis - nangis, gue di lihatin banyak orang yang pada lewat, jadi gue kasih, daripada gue di kira ngapa - ngapain anak dibawah umur, kan berabe urusannya" jawab Arlan.
gue beneran kesal sama dia, sekarang ketenangan hidup gue terancam, tapi jujur saja dengan adanya gangguan dari dia, pikiran gue bisa sedikit teralihkan dari 'dia' orang yang gue sayang dari dulu, cinta pertama gue.
dia cuma anggap gue sebagai kakak buat dia, dengan berat hati gue tersenyum dan juga mengatakan kalau gue juga anggap dia sebagai adik gue, sebenarnya begitu sakit, hanya saja, mungkin gue terlalu mencintainya, itu yang buat gue kuat, buat terus selalu tersenyum dan benar - benar menganggapnya sebagai seorang adik, agar dia ngerasa nyaman dan gak perlu menjauh dari gue.
sekarang umur gue udah jauh dari kata muda, 36 tahun, sudah tua bukan ? kalian tahu, karena umur gue yang sudah segitu orang tua gue terus mendesak gue supaya cepetan nikah.
.
Flashback on ~
"Rikho, mau sampai kapan kamu menyendiri ?" kata papa gue.
"belum ada yang cocok pa" jawab gue
"mau nyari yang seperti apa sayang ? banyak gadis yang dengan senang hati menjadi istrimu nak" ucap mama gue, yang ikut serta dalam rangka mendesak gue supaya buruan nikah.
"gak tertarik sama mereka ma".
jawaban gue sukses membuat mama gue murka, dan gue cuma bisa diam.
"kamu itu udah berumur 36 tahun, harusnya sudah punya 5 anak, adik kamu saja anaknya sudah berumur 8 tahun, dan Luna, orang yang kamu inginkan dari dulu, dia sudah punya dua anak dan yang pertama aja udah kelas 1 SMA, kamu masih nunggu apa lagi ? dia sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri, sekarang kamu juga harus membahagiakan diri kamu sendiri, atau mama akan mengatakan padanya kalau kamu masih sangat mencintainya dan kamu hanya berpura - pura menganggapnya sebagai adik, dan mama yakin, dia akan segera menjauhimu" teriaknya.
"_" gue gak bisa berkata apapun, gue kalah telak.
sedangkan papa hanya diam mendengarkan apa yang istrinya katakan.
"dan kamu, kenapa pasang foto anak sulung nya di profil WA kamu ? kamu mengatakan kalau kamu hanya iseng supaya tidak ada cewek agresif yang deketin kamu, biar kamu dikira sudah punya istri dan anak, itu alasan konyol, kenapa tidak memasang foto anak dari adik kamu sendiri ? alasannya karena kamu ingin anakmu laki - laki, sedangkan anak Winda adikmu adalah perempuan, kamu pikir mama bodoh, mungkin kamu bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan mamamu ini, mama yang melahirkan kamu, mama tahu betul seperti apa sifatmu, alasan sebenarnya itu karena Ray...."
gue segera menyela pembicaraan mama yang hampir membuka semuanya.
"cukup ma, Rikho ngerti Rikho salah, Rikho bakalan turutin semua kemauan mama, mama minta aku cepetan nikah kan ? aku bakalan nikah ma, kasih Rikho waktu paling lama setahun. Rikho janji, kalau Rikho belum juga nikah, mama boleh jodohin Rikho dengan siapapun yang mama mau, tapi Rikho mohon jangan katakan apapun padanya" kata gue sama mama, dengan terpaksa gue bakalan nurutin apapun kemauannya.
"ya sudah, mama pegang omonganmu" ucap mamaku mengakhiri pembicaraan kami saat itu.
~~ Flashbcak Off
Rikho Pov
kepala gue rasanya bener - bener sakit mikirin pernikahan yang bahkan belum gue pikirin, gimana mau nikah, calonnya aja belum ada, gue bahkan belum bisa lupain dia, bagaimana mungkin gue bisa deket sama orang lain, ah sial.... gue cuma bisa berputar - putar di bangku meja kerja gue di kantor kepolisian.
"loe kenapa sih Rikh ?" tanya Arlan yang duduk di meja kerja gue.
"pusing gue"
"pusing kenapa ?, mikirin Chyara ?"
"Chyara ?"
"iya, cewek SMA yang tadi pagi"
"ngaco, gak lah, gue lagi pusing, karena mama minta gue buat cepat - cepat nikah" jelas gue sama Arlan.
"ya udah sih, tinggal nikah aja"
"gampang banget tuh mulut ngomong, boro - boro nikah, pacar aja gue gak punya" kata gue.
"haduh Rikho elu itu ganteng, mau cewek kayak apa juga pasti gampang dapetinnya" ucap Arlan dengan entengnya.
"emang gue ganteng, elo baru nyadar ?"
"sialan lo, tapi kalah ganteng sama Danu haha.... buktinya dia yang bisa nikah sama Luna, dan Luna cinta mati sama dia"
"brengs*k lo, bukannya ngasih solusi malah nambahin puyeng kepala gue" umpat gue pada Arlan.
"santai bro, lo cuma butuh buka hati elo buat nerima yang lain" ucap Arlan.
gue berfikir sejenak mencerna kata - katanya, ada benarnya membuka hati buat orang lain, tapi itu rasanya sulit.
"cari orang yang bisa membantu elo buat bisa melupakan dia, cari yang benar - benar kuat berjuang bersama elo, biar elo bisa lepas dari bayang - bayang dia yang jadi masa lalu lo"
Arlan menjelaskan semuanya sama gue, dan gue pikir memang itu jalan yang gue punya.
"cari cewek yang benar - benar mampu buat bantu elo, artinya jangan cari cewek manja, atau cewek elegan yang berceceran di mana - mana, cari yang benar - benar suka sama elo, dan pastinya yang harus kuat narik elo dari masa lalu lo" tambahnya lagi.
"emang ada ya cewek kayak gitu ?" tanya gue penasaran.
"ada lah"
"siapa ?"
"Chyara"
"Chyara cewek ngegeragas yang tadi pagi ? ngaco loe !!" kata gue sembari gue timpuk Arlan pakai buku yang ada di meja gue.
"gue serius Rikho, dia itu kan terobsesi sama lo, gue yakin dia kandidat yang cocok, kita lihat usaha seperti apa yang akan di lakuin buat dapetin elo, dan menurut feeling gue, dia akan melakukan hal - hal yang tidak akan menyakiti siapa pun, gak kayak cewek - cewek manja yang pernah deketin elo pakai cara - cara menjijikan, lagian dia cantik kan ?" tanya Arlan dengan nada menggoda.
"lo pikir gue p*****l ?" teriak gue.
"gak apa - apa kali kalau sama yang jauh lebih muda, rasanya pasti manis, soalnya masih seger baru mateng" ucapnya lagi yang sukses membuat tangan gue meninju lengannya.
"berisik lo, mending elo cabut dari sini, sebelum gue tembak otak lo" usir gue.
"sialan lo, ya udah sih, gue juga mau kencan, bye"
"rese lo"
inilah kebiasaan gue sama sahabat gue yang satu ini, tidak pernah ada yang bisa gue tutupi dari nya, kita sudah bersahabat dari umur kita 5 tahun, waktu kita ketemu di taman kanak - kanak, hingga sekarang, bukanlah waktu yang sebentar, kita udah kayak saudara.
"Chyara, masa iya sama anak kecil"
gue acak - acak rambut gue karena frustasi.