Aku menatap nanar langit-langit kamar, ada perasaan legah di hati karena sudah tiba di rumah orang tua,di rumah masa kecilku, tempat dimana Aku bertumbuh, kini Aku kembali dengan membawa cucu yang lucu untuk Mama dan Papa, namun fikiran masih bercabang karena sudah jauh melangkah, melangkah meninggalkan jejak-jejak keresahan sementara cintaku masih tertinggal disana.
Iya ... Aku pergi untuk ketiga kalinya setelah berkali-kali luluh namun dipatahkan dengan problem yang sama. Sudah sering Aku berdiskusi bersama suami, namun darinya tidak ada jalan keluar yang tepat atau membuat hati ku menjadi merasa nyaman bahkan saranku pun hanya angin lalu.
***
"Mbak Nis ,ayo makan dulu,"
Lamunanku seketika buyar tatkalah Mama mengetuk pintu kamar.
Rengekkan putriku memecahkan suasana ketika ia mulai terjaga dari tidur pulasnya akibat perjalanan yang cukup jauh.
"Masyaallah cucu cantikku sudah bangun,"
ucap Mama sembari mendekap cucu pertamanya ini.
Disusul kemunculan Adik-adik yang sedari tadi menanti-nanti, Kubiarkan mereka melepas rindu gelak tawa pun mencairkan suasana, Aku bergegas ke ruang tengah dimana makanan khas ala kampung telah disajikan, disana ada adik yang lain yang sudah menunggu untuk makan bersama,
"Makan yang banyak mbak biar gemuk," ujar adikku yang paling bungsu.
Aku melempar senyum,
Memang tubuhku yang sekarang jauh lebih kurus dibanding sebelum waktu menikah, terbayang kembali waktu masa bersama dengan suami disana, padahal suami selalu memanjakan ku dengan makanan yang enak, mengajakku keluar jalan-jalan bersama anak, bahkan ketika ia pulang kerumah dari tempat ia bekerja sering kali membawa buah tangan meski itu jajanan cilok, seblak ataupun bubur kacang ijo namun tetap tidak membuat berat badanku naik.
"Mbak,kok Mas Akil tidak ikut," tanya adikku.
"Mas Akil masih ada kerjaan dek, yang belum bisa di tinggal," jawabku.
"Mbak, sudah tiga kali loh pulang kampung tanpa dampingan suami, apa dia tidak kasihan sama istrinya pulang ke kampung dengan menenteng anak kecil sendirian?"
jelas terlihat kekecewaan di raut wajah mungil adik bungsuku.
"Insyaallah Mas akan menyusul kalau sudah tidak begitu repot dikerjaan!" jawabku menenangkan.
Begitupun dengan raut wajah Papa terlihat jelas ada rasa kekecewaan melihat putri sulungnya ini kembali tanpa dampingan seorang suami, namun Aku paham Papa tidak ingin banyak berkata-kata agar tidak menyinggung perasaanku meski dibenaknya ada banyak ingin dipertanyakan.
Yang penting sekarang Aku merasa aman dan nyaman kembali ke rumah orangtua dan berkumpul dengan ke tiga adik-adikku.
***
"Assalamualaikum,sudah sampai sayang?" notifikasi muncul dari layar handphone ku, pesan w******p itu kubuka,tampak beberapa pesan dan panggilan darinya namun tak terjawab sebab handphone ku nonaktifkan saat pesawat akan lepas landas menuju kampung halaman.
Bergegas kuhubungi dengan panggilan video call, tersambung ...
Perjalanan bus yang ditumpanginya menjadi latar belakang dalam tangkapan layar, suamiku masih dalam perjalanan pulang ke kota tujuan selepas mengantarkan diri ku ke bandara subuh tadi.
Sebenarnya Aku kasihan dengannya tapi lebih kasihan diriku lagi jika terus bertahan disana.
Keputusanku untuk pulang kampung benar-benar sudah bulat, setelah banyak mencernah perjalanan rumah tanggaku yang rasanya bahkan belum bisa terbentuk.
***
"Tenang kan saja dulu hati dan fikiranmu disini, rawat dirimu kembali bahkan mama melihatmu tadi seperti bukan Nisa nya Mama yang dulu."
Sebegitu drastisnya kah perubahan pada fisikku bahkan pada mentalku.
Ku fikir dengan menikah Aku membawa perubahan yang jauh lebih baik dari segi ekonomi juga mental, yang sedari dulu dihajar namun ternyata salah! semenjak Aku ditempatkan di pondok mertua bersama ipar-ipar.
"Tapi suami kamu mengizinkan kan?"
tanya Mama lagi.
Aku mengangguk, dengan harapan Mama tidak mencercahku dengan pertanyaan-pertanyaan lagi, karena kepalaku rasanya sangat sesak akibat mabuk perjalanan darat dan udara, namun mata enggan terpejam jika dalam perjalanan jauh,entah mengapa rasanya tidak tenang jika belum sampai tujuan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01:34 WITA
Aku duduk diteras untuk mengeringkan peluh, rasanya cuaca hari ini cukup panas, sementara anakku tidak henti-hentinya jadi bahan candaan dan kejailan om juga tantenya. Namun kembali terbesit perasaan bersalah sebab memisahkan putri kecilku dari Ayahnya, anak yang seharusnya memerlukan kasih sayang dari sosok Ayah. Fikiran ini terus bergelut berusaha untuk menurunkan ego tapi juga butuh pembelaan diri bahwa sebenarnya ini juga bukan kemauanku,kalau seandainya saja suami mau mendengarkanku, mungkin kita tidak akan tinggal memisah seperti ini,
"Assalamualaikum!"
Lamunan terpecah ketika adikku bersama suaminya datang, mereka sudah mengetahui kepulangan ku setelah di kabari oleh Mama pagi tadi, memang kepulanganku ini tanpa memberi tahu siapa-siapa kecuali Mama.
"Mas Akil mana Mbak?" tanya adik Iparku.
"Belum bisa ikut dek, tapi insyaallah akan menyusul kalau sudah tidak begitu repot dikerjaan nya," jelasku.
"Pasti ada apa-apa kan? biasanya Mbak kalau mau balik pasti mengabari dulu," pungkasnya lagi.
Adik Iparku ini terbilang cukup kepo, tapi kepeduliannya terhadap keluarga sangat besar, bahkan sangat tegas kalau soal membela keluarga, pantaslah jika adik perempuan ku yang dinikahinya sangat ia muliakan, kadang Aku berharap suamiku seharusnya banyak belajar darinya, meskipun usia jauh lebih muda namun cara berfikirnya sangat matang, dan berani untuk mandiri, tidak salah para warga memilihnya sebagai kepala Dusun.
Namun sayangnya mereka belum dikaruniai buah hati meski menikah sudah jalan dua tahun.
Dari sini pun Aku belajar bahwa setiap rumah tangga dihadapkn dengan problem-problem yang berbeda.
***
"Kenapa Nisa terlihat semakin kurus?"
Aku tidak sengaja mendengar perbincangan Papa Mama dari Bilik pintu kamar.
"Dia kan ada anak kecil, wajarlah jika tidurnya tidak teratur,kadang makan tidak teringat kalau sudah mengurus bayinya," ucap Mama berusaha menutupi.
Aku tahu kekhawatiran Papa, bahkan saat akan melepaskan ku dulu untuk meninggalkan kampung halaman,Papa nampak menyendiri di dapur dan menangis, seketika runtuh benteng ketegasannya seraya melepas kepergian putri sulungnya, dengan penuh doa dan harapan, bahwa dengan pernikahan itu putrinya akan bahagia.
Namun ternyata kebahagian itu tidak berlangsung lama, di dalam pondok itu Aku terkekang oleh aturan mertua dan ronrongan ipar-ipar. Aku sendiri pun tidak tahu salah ku apa, padahal Aku selalu mengikuti cara mereka, sering aku berdiskusi dengan suami menyatakan tentang ketidak nyamananku di dalam rumah itu. Tapi lagi dan lagi Akulah yang terus dituntut untuk memahami, menerima, bersabar dan banyak mengalah tanpa di berikan hak nya.
Jatuh bangun Aku membentuk kembali mental yang dipatahkan di dalam rumah itu, tanpa dipertanyakan keadaannya, bahagia kah ? betahkah? Hingga akhirnya Aku mengambil keputusan untuk pergi, lebih baik mengalah dari pada bertahan sementara orang yang ku harap jadi pelindung pun bahkan tidak berdaya kalau menyangkut keluarganya.