Saat ini Kesya Dirga sedang berada di dalam kamarnya, Dirga tersenyum dengan lebarnya saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Setelah kejadian tadi Dirga tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum. seperti saat ini dia menatap istrinya yang menatap dirinya dengan tatapan bingung.
“Kamu kenapa?” Tanya Kesya dengan kening yang mengkerut.
Dirga menepuk kasur, yang sebelahnya masih kosong, “sini.” Kesya berjalan ke arahnya, lalu duduk di sebelah suaminya.
Tangan kekar Dirga mengangkat tubuh mungil itu, membawa Kesya ke atas pangkuanya. Melingkarkan tanganya pada pinggang ramping istrinya.
“Ada apa?” Tangan Kesya terulur untuk menyentuh rahang tegas milik suaminya. Mata Dirga terpejam saat merasakan usapan lembut di rahangnya. Saat usapanya berhenti Dirga membuka matanya kembali menatap mata gadis itu.
Dirga mulai menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. dia melumat habis bibir manis milik istrinya itu. Di rasa mereka akan kehabisan oksigen, Dirga melepas pangutan bibir mereka.
“I love you.” Ucap Kesya lalu tersenyum.
“love you too, baby.” Balas Dirga.
****
Reno membuka pintu rumah melangkah masuk dengan santai. Suasana terlihat tenang sunyi, mungkin semua orang sudah tertidur.
Namun...
Langkah Reno berhenti ketika menemukan tubuh seseorang yang sangat dia kenal.
Bella.
Dia adalah ibu dari Reno kesya, “Baru pulang? Kamu habis dari rumah adikmu?” Tanya bella dengan nada penuh intimidasi.
Reno memutar bolanya matanya malas.
“Bukan urusan mamah.” Ujarnya datar.
Bella berdecak. Wanita itu menghembuskan napas panjang.
“Apa kamu masih ada perasaan denganya? Mamah mohon jangan ganggu rumah tangga mereka, adikmu sudah bahagia bersama Dirga.” Ucap Bella dengan serius.
Reno berdecak malas, dia kembali melanjutkan langkahnya namun saat melewati Bella tiba-tiba lengan pria itu itu di cekal oleh ibunya.
“Kalau kamu berani ganggu mereka, mamah akan menjauhkanmu denganya. Bahkan kamu tidak akan bisa bertemu denganya lagi selamanya.” Ucap Bella dengan nada penuh penekanan. Setelah itu Bella melenggang pergi meninggalkan Reno.
Reno terdiam. Hingga beberapa detik, kemudian Reno menghembuskan napas panjangnya. Dengan wajah lelah, Reno melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
****
Keesokan harinya
Hari ini Dirga kembali bekerja, sebenarnya dia masih ingin bersama istrinya. Namun sekertarisnya menelfonya kalau ada rapat penting yang harus di hadirinya.
“Dirga.” Kesya memanggil Dirga yang tengah bersiap-siap di kamarnya. Terlihat suaminya telah rapi dengan kemeja putih celana bahanya. Rambut Dirga terlihat rapi wangi, karena Kesya bisa mencium sendiri aroma rambut tubuh Dirga.
“Ayo kita sarapan dahulu.” Ajak Kesya dengan lembut.
Dirga lalu berjalan keluar sambil menggenggam tangan mungil istrinya menuju meja makan. “Bukan kamu kan yang masak?” Tanya Dirga.
Kesya menggelengkan kepalanya. “Bukan, bibik yang masak kok.” Sebenarnya dia juga ikut bantu di dapur, namun dia tidak akan bilang ke Dirga. kalau dia bilang yang ada suaminya akan mengamuk. Kesya tidak ingin membuat keributan di pagi hari.
Dirga duduk di kursi meja makan dengan kesya di sebelahnya. Kesya mulai mengambil piring meletakanya di depan Dirga. kemudian dia mengisi piring Dirga dengan nasi goreng yang sudah di sediakan di situ. Setelah itu barulah kesya menyendokkan nasi ke piringnya. Mereka menyelesaikan makanannya dengan tenang.
Setelah selesai makan, Dirga pamit pada istrinya untuk berangkat kerja. sebelum Dirga pergi, Kesya tak lupa mencium punggung tangan suaminya sedangkan Dirga mencium lembut kening istrinya.
Setelah suaminya pergi, Kesya bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya, dia sudah kangen dengan mereka.
Selesai berganti pakaian Kesya segera berangkat menuju rumah orang tuanya, tak lupa dia membawa pesanan mamanya saat dia di Belanda.
Setelah 30 menit menempuh perjalanan, mobil kesya berhenti tepat di depan gerbang rumah orang tuanya. Kesya buru-buru turun dari mobil langsung masuk ke dalam rumah. di sana sudah ada kedua orang tuanya bersama kakaknya. Terlihat kakaknya tengah menatapnya sambil tersenyum.
Kesya mulai melangkah ke arah kakinya, lalu memeluk kedua orang tuanya tak lupa juga dengan kakaknya. Kesya sudah melupakan kejadian yang tadi malam, dia akan bersikap seperti layaknya adik kakak.
“Mamah, ini pesananya.” Kesya menyerahkan paper bag ke arah mamahnya, kemudian duduk di sebelah kakaknya.
“Wahh, makasih sayang.” Bella mengambil paper bag itu, lalu meletakkanya di meja.
“bagaimana hubungan kamu dengan Dirga?” Tanya Ardi selaku papah dari Kesya.
“bagaimana apanya? tidak bagaimana-mana.” Ucap kesya.
“Aduh kamu ini bagaimana? Dirga romantis tidak?” Tanya Bella yang terlihat gemas dengan putrinya ini.
“Dirga romantis, baik, perhatian juga.” Ucap kesya sambil tersenyum-senyum, namun berbeda dengan yang di sebelahnya. Reno sangat tidak tertarik dengan pecakapan ini, dia lebih memilih diam sambil memainkan ponselnya.
Mereka akhirnya benrbincang-bincang sesekali tertawa, namun tidak dengan Reno. dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
****
Pukul tujuh malam, mobil Dirga berhenti tepat di depan rumahnya. Dengan keadaan lesu dia melangkah masuk ke dalam rumah.
Dirga membuka pintu rumahnya, di sana terlihat istrinya sedang menonton acara tv dengan piyama tidurnya.
Kesya melihat ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka, dia langsung berlari ke arah dirga memeluknya, begitu juga dengan dirga. dia membalas erat pelukan istrinya, setelah bekerja seharian yang membuat dia lelah. Pelukan hangat istrinya membuat rasa lelahnya hilang seketika.
Kesya melepaskan pelukanya, lalu berjinjjit mengecup bibir suaminya. “Kamu udah makan?” Tanya Kesya yang langsung mendapat gelengan dari suaminya.
Mereka berjalan memasuki rumah. “Ya sudah ayo kita makan, kamu mau makan dahulu atau mandi dahulu?” Tanya Kesya seraya melirik ke arah Dirga.
“Eumh..? aku mau mandi dahulu aja.”
“Oke, kalau begitu aku siapin makananya dahulu.” Kesya berjalan ke arah dapur, namun baru beberapa langkah dia mendengar suara teriakan dari suaminya.
“Inget kamu tidak boleh masak, sayang!!” Teriak Dirga sambil berjalan ke arah kamarnya.
Kesya menggelengkan kepalanya, suaminya itu melarang keras dirinya untuk menyentuh peralatan dapur. Namun kesya selalu melanggarnya, jika suaminya lagi tidak ada. dia akan diem-diem masak di dapur. Lagi pula selama ini dia tidak mengapa-mengapa atau pun terluka saat sedang memasak. Emang dasar suaminya aja yang lebay!.
Dirga keluar dari kamar setelah selesai bersih-bersih, dia langsung menuju ke meja makan di mana istrinya sedang menunggu dirinya.
“Ayo makan.” seperti biasa, Kesya menyendokan nasi untuk suaminya terlebih dahulu, setelah itu baru dirinya.
“Ga, ada seseorang yang mau aku kenalin ke kamu.” Ucap kesya di sela makan mereka.
“Siapa?” Tanya Dirga penasaran. Lalu Kesya menyuruh bik inah untuk memanggilkan orang tersebut.
Dirga melirik ke arah gadis yang baru saja di bawa oleh bik inah itu.
“ini Tasya, dia yang akan bantu bik Inah di sini.” Gadis yang dipanggil tasya itu mulai mendongakkan kepalanya langsung menatap ke arah Dirga dengan tatapan yang berbinar.
Tasya tersenyum manis ke arah Dirga. Dia terpana oleh ketampanan Dirga, jantungnya pun berdegup kencang. 'Aku rasa, aku jatuh cinta padanya.' batin Tasya.
****