Edgar merasa otak Alessa sudah agak tergeser sedikit setelah jatuh dari tempat tidur tadi. Tentang Orangtua Alessa, pria itu sudah mengirimkan pesan palsu ke nomor Orangtuanya lewat ponsel Alessa yang lama mengatakan bahwa Alessa baik-baik saja.
Bahkan Edgar selalu membalas setiap pesan yang masuk di ponsel wanita itu, jika Orangtuanya mengirim pesan. Dan beruntung sejauh ini kedua Orangtua Alessa tidak menaruh rasa curiga bahwa bukan anaknya yang membalas pesan.
Dan tentang ruangan itu. Itu adalah ruang rahasia yang terhubung dengan dunia para vampire, semacam portal.
Kini belum saatnya Alessa tau tentang pintu itu. Ia akan membawa Alessa pada saatnya tiba nanti.
Edgar kembali masuk ke kamar yang di tempati Alessa. Ini yang ke tiga kali ia masuk kesana, dan ternyata Alessa tertidur dengan cara yang sangat kaku seluruh badannya tegap bak orang sedang baris-berbaris.
Mungkin itu efek dari badan yang baru jatuh dari tempat tidur. Sungguh menggelikankan.
***
"Awshh badanku. Aww sakitnya! Jam berapa ini?" Alessa menoleh ke atas nakas dengan susah payah. "Oh baru jam 8 ya, hah jam 8, apa?" refleks Alessa bangun dan lagi-lagi ia memekik kesakitan karena pergerakan yang terlalu cepat. "Awwww badan ku..."
Karena teriakan wanita itu yang begitu kencang. Salah satu pelayan pun datang menghampiri. "Nona apa kau di dalam?"
"Siapa. Emely ya?" tanya Alessa setengah berteriak, agar terdengar sampai keluar ruangan.
"Iya Nona, apa Nona baik-baik saja?" tanya Emely dari balik pintu.
"Masuk Emely. Tolong bantu aku!" perintah Alessa.
Pintu terbuka dan Emely menghampiri Alessa. "Apa yang terjadi Nona?"
"Jam berapa ini?"
"Jam 8 malam Nona."
"Astaga, ternyata benar sudah jam 8 malam!" seru Alessa panik. Emely menatapnya kebingungan.
"Sekarang cepat kau bantu aku bangun!"
Emely mengangguk dan membantu Alessa untuk bangun. "Duh, sakitnya!" rengek Alessa.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Nona?" tanya Emely dengan penasaran.
"Aku jatuh dari kasur." terang Alessa.
"Hah, bagaimana bisa?" mulut pelayan itu menganga tidak percaya.
"Ya bisa saja." jawabnya disela ringisannya.
"Bisakah kau membantuku turun ke bawah, aku ingin makan!" tambah Alessa.
"Bisa saja Nona. Atau Nona mau saya saja yang membawakannya ke sini? sepertinya Nona sulit untuk berjalan." tawar Emely.
"Tidak perlu aku ingin ke bawah saja."
"Baik, Nona." Emely memapah Alessa menuju tangga.
"Si nyamuk besar di mana?" tanya Alessa yang membuat Emely ke bingungan.
"Siapa yang Nona maksud?" tanya Emely dengan kening berkerut.
"Si Edgar maksudku."
"Oh, Tuan sedang ada urusan katanya tadi."
Setelah sampai di lantai dua Emely dan Alessa kembali menuruni anak tangga, tepat saat anak tangga yang terakhir, Alessa berkata. "Apa sebaiknya kita naik lift saja Emely. Pinggangku sudah sangat sakit. Sedari tadi aku merasa kita tidak sampai-sampai?"
"Benar juga ya, mari Nona kita kembali ke atas naik lift!"
Mereka berdua pun kembali naik ke lantai dua mencari lift. Padahal satu undakan tangga saja lagi mereka sampai ke lantai dasar. Sepertinya otak Alessa memang sudah sangat tergeser.
Saat sudah di depan lift. "Nona liftnya tidak bisa digunakan, sepertinya lift ini rusak."
"Hah rusak. Tidak mungkin. Coba kau cek lagi!"
"Benar Nona, lift ini sepertinya macet."
"Oh, astaga, ya sudah kita pakai tangga saja!"
"Baik, Nona."
Dan mereka kembali menuruni tangga sampai ke lantai dasar. "Emely di mana ruang makannya? Aku lupa."
"Dimana, ya?" Emely menepuk dahinya dengan keras mengapa ia bisa lupa juga.
"Ruang makannya ada di lantai dua Nona. Saya lupa," ujar Emely dengan nada rendah. Tingkat kekesalan Alessa sekarang sudah mencapai puncaknya. Jika saja ia bisa mengeluarkan asap lewat telinga mungkin sudah dilakukannya sekarang.
"Astaga Emely. Mengapa kau bisa lupa!" geram Alessa. Padahal dirinya sendiri juga tidak mengingatnya.
"Maklum Nona, saya pelayan baru di sini," Emely menunduk karena takut. Mansion Edgar benar-benar menyusahkan.
"Baiklah kita ke atas lagi sekarang!" ujar Alessa dengan kesal.
Mereka kembali menaiki tangga dengan susah payah dan harus melewati beberapa belokan. 'Mengapa mencari ruang makan sangat susah seperti mencari jarum ditumpukan jerami' batin Alessa.
"Nona mau makan apa?" tanya Emely. Setelah melakukan perjalanan yang cukup menguras emosi itu.
"Makan apa saja yang bisa membuatku kenyang."
Setelah mengambilkan semua lauk-pauk. Alessa memakannya dengan lahap. Naik turun tangga berkali-kali, membuat rasa laparnya bertambah sepuluh tingkat.
Setelah menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja, Alessa kembali memanggil Emely. "Emely, Emely!" panggil Alessa.
"Ada apa, Nona?"
"Aku tak bisa bergerak. Aku kekenyangan!" keluhnya.
Emely kebingungan. "Lalu bagaimana, Nona?" tanya Emely.
"Kau temani aku disini, sampai rasa kenyangnya hilang!" ucap Alessa sembari menempelkan wajah di atas meja makan yang dingin.
Sedangkan Emely duduk rapi di samping Alessa. Satu jam ... Dua jam ... Waktu berlaru sampai keduanya tertidur di meja makan.
***
"Alessa kau dimana?" teriak Edgar ke segala penjuru ruangan.
'Mungkin di kamar nya' batin Edgar. Ia pun menaiki lift untuk sampai ke lantai tiga. Saat membuka pintu kamar Alessa, ternyata Alessa tidak ada di kamarnya.
Alessa tidak ada di lantai tiga. Edgar pun memutuskan ke lantai dua. Tempat pertama yang di tuju Edgar adalah ruang makan. Karena ia tahu bahwa Alessa penggila makanan.
Ternyata benar ia melihat Alessa sedang tertidur di meja makan bersama seorang pelayan, yang Edgar pun tidak tahu namanya.
Edgar menepuk pelan pipi Alessa. "Alessa bangun!"
Alessa bergerak dengan tidak nyaman. "Hm...," gumamnya.
"Bangun Alessa!" Edgar kembali menepuk pipi Alessa dengan pelan.
Alessa menguap "hoammm ... Dimana aku?" tanyanya sembari meneliti ruangan di sekitar.
"Mengapa tidur di sini?" tanya Edgar.
"Ketiduran," jawab Alessa dengan polos, ia menoleh ke samping dan ternyata Emely belum bangun.
"Nyamuk Besar punggungku sakit!" keluh Alessa kepada Edgar. Edgar mengernyit namun detik kemudian ia memaklumi, anggap saja panggilan sayang.
"Mari ku bantu ke kamar!"
"Jangan membawaku ala-ala karung beras lagi," gerutu Alessa. Edgar tersenyum. "Bisakah kau sedikit romantis seperti tokoh pria di tipi-tipi atau tokoh novel?"
Edgar mengernyit. Apa? Tipi? Pipi kali ya.
Edgar menggendong Alessa dengan ala bridal style. Alessa tersenyum semringah. "Eh, tunggu dulu. Bangunkan Emely dulu!"
"Siapa, Emely?"
"Itu pelayanmu."
"Tidak perlu ia bisa bangun sendiri."
Setelah itu Edgar membawa Alessa menuju lift. "Edgar liftnya rusak. Kita tidak bisa menggunakannya.
"Liftnya tidak rusak Alessa." Edgar menghela napas, lelah jika sudah harus berdebat dengan Alessa.
Ternyata benar liftnya memang tidak rusak. Alessa hanya bisa melongo dengan tampang cengo.
'Dasar Emely!' batin Alessa dalam hati.