Penjaga berdiri di ujung gang, dan melati di keranjangnya terus menghitam, satu per satu, seperti bara yang padam.
"Jangan naik kereta itu," ulangnya. Suaranya tak lagi dingin seperti besi; kini ada sesuatu yang lebih tua di dalamnya, sesuatu yang nyaris menyerupai permohonan. "Aku sudah menjaga ini lebih lama dari yang bisa kamu bayangkan, Nak. Aku tahu apa yang ada di balik 07.45. Kamu tidak."
Renjana menatap perempuan tua itu. Tubuhnya ingin patuh—ada bagian dirinya yang ketakutan, yang ingin mundur dan menjalani satu Selasa lagi yang aman dan tak berubah. Tapi tubuh yang sama itu juga lelah. Lelah oleh setiap loop. Lelah oleh setiap kematian yang ia bayar dengan lingkaran hitam di bawah matanya, dengan rambut yang memutih sebelum waktunya.
"Kalau Ibu benar," kata Renjana, suaranya tenang meski jantungnya bertalu, "kenapa Ibu takut aku melihat sendiri?"
Penjaga terdiam. Untuk sepersekian detik, topeng tua di wajahnya retak, dan Renjana melihat sesuatu yang tak ia duga: keraguan. Lalu hilang.
"Karena ada hal-hal yang tak bisa dibatalkan sekali dilihat," kata Penjaga. "Sekali Rabu datang, Selasa hilang. Tak ada putaran lagi. Tak ada perbaikan. Kamu mempertaruhkan segalanya pada kata-kata seorang laki-laki yang sudah kehilangan akal sehatnya karena ribuan loop."
"Dan Ibu memintaku mempertaruhkan segalanya pada kata-kata seseorang yang membuat ratusan orang mati berulang kali." Renjana melangkah maju, satu langkah. "Aku capek diberi tahu apa yang harus aku percaya. Aku mau lihat sendiri."
Ia melangkah lagi. Dan lagi. Penjaga tidak menyingkir, jadi Renjana berjalan menyamping, menyusur dinding lembap gang, melewati perempuan tua itu sedekat satu hela napas. Ia menahan diri menunggu tangan keriput itu mencengkeram lengannya, menahannya, melemparkannya kembali ke loop. Tapi tangan itu tak datang. Penjaga hanya berdiri, dan melati terakhir di keranjangnya layu menjadi abu.
"Kamu akan menyesal," bisik Penjaga di belakangnya. "Kalau kamu masih bisa menyesal setelah ini."
Renjana tidak menoleh. Ia mulai berlari.
Hujan rintik membasahi wajahnya saat ia menyusuri jalan yang sudah ia hafal lebih baik daripada garis tangannya sendiri. Anak SD dengan bola merah—ia tidak berhenti kali ini. Pemuda berjaket kulit, penjual koran, ibu menggendong anak—semua pemandangan yang sama, semua wajah yang akan ia tinggalkan menuju entah apa. 07.32 di jam tangannya. Ia berlari lebih cepat.
Stasiun Kota Lawang menjulang di hadapannya, bata merahnya gelap oleh hujan. Renjana menerobos pintu timur, menabrak bahu seseorang, tak peduli. Peron jalur tiga. Kereta menuju Tanah Abang sudah merapat, pintunya terbuka, perutnya menelan penumpang. 07.37. Tiga menit lebih awal dari yang diminta pesan itu. Cukup.
Ia melompat ke dalam gerbong kedua.
Sesak. Bau keringat dan parfum murah, persis seperti yang ia ingat dari loop-loop saat ia mencari ransel. Ia menyusuri lorong sempit, menyibak orang-orang, matanya terkunci ke ujung gerbong. Kursi terakhir. Gerbong kedua, kursi terakhir, 07.40. Di situ Dharma akan menunggunya dengan bukti yang menjanjikan kebebasan.
Renjana sampai di ujung. Tangannya berpegang pada sandaran kursi, dadanya naik turun.
Kursi terakhir kosong.
Tak ada Dharma. Tak ada jaket abu-abu, tak ada wajah tirus dengan bekas luka di pelipis. Hanya bangku kayu kosong, dan di bawahnya—Renjana menunduk, jantungnya melonjak—tidak ada ransel hitam. Belum ada. Hanya lantai gerbong yang basah jejak sepatu.
Ia menatap jam di dinding gerbong. 07.38.
Dua menit lagi.
Renjana berdiri di tengah lorong yang berdesakan, dikelilingi orang-orang yang tak tahu mereka sedang menumpang sebuah jam yang berdetak menuju ledakan, dan di kursi yang seharusnya berisi jawaban, hanya ada ruang kosong yang menatap balik ke arahnya.