"Buburrr! Bubur ayam anget!"
Renjana membuka mata. Plafon retak. Selasa, 06.00.
Tapi ia tidak panik, dan ia tidak lupa. Ia ingat. Kursi kosong, lalu Dharma datang. Dua ponsel, dua pesan identik. Dharma tidak mengirimnya. Pikiran itu menggantung di benaknya seperti batu di tepi jurang.
Ia meraih ponselnya, jemarinya nyaris enggan menyentuh layar. Ada notifikasi. Sama seperti loop sebelumnya—pesan dari nomor tak dikenal, terkirim 06.00 tepat. Penjaga berbohong. Rabu bukan kiamat... bertanda D.
Renjana menghela napas. Setidaknya itu konsisten. Pesan itu bertahan, menembus reset, persis seperti yang ia duga.
Lalu layar bergetar lagi di tangannya.
Notifikasi kedua. Renjana terduduk tegak, jantungnya melonjak. Dalam ratusan loop, ponselnya tak pernah menunjukkan apa pun. Lalu satu pesan muncul di loop terakhir. Sekarang—dua. Ia membuka yang baru dengan tangan yang mendadak dingin.
"Dharma juga berbohong. Bukan dia yang mengirim pesan pertama. Bukan juga Penjaga. Kalau kamu mau tahu siapa yang menahanmu di Selasa, jangan dengarkan suara yang menyuruhmu memilih. Dengarkan suara yang tidak punya kepentingan apa-apa. Datang ke ruang kontrol di sayap utara stasiun. Pintu hijau, di belakang loket lama. 07.20."
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada D. Hanya pesan, telanjang, tanpa nama.
Renjana menatap layar lama-lama. Dua pesan. Satu bertanda D, mengaku dari Dharma—tapi Dharma sendiri menyangkalnya. Satu tanpa tanda, mengaku bukan dari Dharma maupun Penjaga. Kalau pesan kedua benar, maka ada pihak ketiga di dalam loop ini. Pihak ketiga yang cukup kuat untuk menembus pukul nol. Pihak ketiga yang sudah dua loop berturut-turut berbicara langsung kepadanya.
Penjaga. Dharma. Dan—seseorang lagi.
Renjana bangkit, mondar-mandir di kamar sempit itu, pikirannya berlomba. Sepanjang ini ia mengira loop ini punya dua kutub: Penjaga yang ingin loop berputar, Dharma yang ingin loop pecah. Dua suara yang berperang di kepalanya, dua versi kebenaran. Tapi kalau ada suara ketiga—suara yang mengaku tak punya kepentingan—maka peta yang ia bayangkan salah sejak awal.
Ia teringat kata-kata Dharma di gerbong: apa pun yang bisa mengirim teks menembus pukul nol itu lebih kuat dari Penjaga, lebih kuat dari kita semua.
"Siapa kamu," gumam Renjana pada layar ponselnya, "yang bisa bicara saat semua orang lupa?"
Ia mengenakan kemeja biru pudar yang sama, lebih cepat dari biasanya. Pesan kedua menyebut ruang kontrol, sayap utara, pintu hijau, 07.20. Itu lebih awal dari pertemuan dengan Penjaga, lebih awal dari ledakan. Ada waktu. Kalau ia bergegas, ia bisa sampai sebelum loop reset, bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang ada di balik pintu hijau itu.
Tapi sesuatu menahannya. Kalau dua suara bisa berbohong—Penjaga klaim kiamat, Dharma klaim kebebasan—lalu kenapa suara ketiga tidak? "Dengarkan suara yang tidak punya kepentingan apa-apa," tulis pesan itu. Tapi siapa di dalam loop ini yang benar-benar tak punya kepentingan? Setiap suara yang menembus pukul nol pasti punya alasan untuk bicara.
Renjana menatap bayangannya di cermin retak—wajah yang semakin tirus, rambut yang semakin kelabu. Ia tak tahu siapa yang harus dipercaya. Tapi ia tahu satu hal: pihak ketiga ini, siapa pun dia, memberinya tempat. Pintu hijau. Sayap utara. Itu bukan janji. Itu petunjuk yang bisa ia verifikasi.
Untuk pertama kalinya, seseorang tidak menyuruhnya memilih. Seseorang menyuruhnya melihat.
Renjana mengambil ponselnya, menyimpan kedua pesan di kepalanya, dan melangkah keluar menuju pagi Selasa yang sama. Ada pemain ketiga di papan catur ini. Dan ia berniat mencari tahu wajahnya.