Renjana berdiri di balik tiang peron, hujan menetes dari atap kolonial, dan ia tidak mengawasi perempuan bermap. Ia mengawasi Penjaga.
Sepanjang puluhan loop, Renjana selalu menganggap Penjaga sebagai pengawas pasif—duduk di sudutnya, menjual melati, menjaga loop tetap berputar dari kejauhan. Tapi sekarang, dengan mata yang tahu apa yang dicari, ia melihat sesuatu yang lain.
Pukul 07.33, perempuan nomor tujuh tiba di peron lewat pintu utara, map dokumen dipeluk di dada. Ia berjalan menuju gerai kopi. Dan Penjaga—perempuan tua berkebaya lusuh, keranjang melati di tangan—bangkit dari sudutnya. Sesuatu yang tak pernah Renjana lihat. Penjaga tak pernah meninggalkan sudutnya.
Penjaga berjalan, pelan, membungkuk seperti perempuan tua biasa, menyusuri peron. Jalannya tampak tak bertujuan, seperti orang tua yang sekadar meregangkan kaki. Tapi Renjana, yang kini mengawasi dengan saksama, melihat garis lurus di balik kelambanan itu: Penjaga bergerak menuju perempuan nomor tujuh.
Di gerai kopi, saat perempuan itu menerima cangkirnya, Penjaga lewat di sampingnya. Dekat. Terlalu dekat. Dan tangan keriput itu terangkat—sekejap, nyaris tak terlihat—dan menyentuh punggung perempuan nomor tujuh. Sentuhan ringan, seperti orang tua yang kehilangan keseimbangan dan menumpu sejenak. Perempuan itu bahkan tak menoleh.
Tapi Renjana melihatnya. Dan ia melihat sesuatu lagi: saat tangan Penjaga menyentuh punggung perempuan itu, melati di keranjangnya bergetar—kelopaknya menggigil, lalu sehelai gugur, layu sebelum menyentuh lantai.
Penjaga menyentuhnya. Setiap loop, Penjaga menyentuh perempuan nomor tujuh.
Renjana menahan napas. Ia teringat eksperimennya, teringat semua yang ia tahu tentang loop. Penjaga tidak pernah peduli pada penumpang lain—Renjana mencegah mereka naik, dan Penjaga tenang. Tapi Penjaga meninggalkan sudutnya, melintasi seluruh peron, untuk menyentuh satu orang. Hanya satu. Penumpang nomor tujuh.
Ini bukan kebetulan. Ini ritual. Penjaga punya target spesifik, dan ia menandainya—atau mengikatnya, atau melakukan sesuatu pada perempuan itu—di setiap putaran, untuk memastikan ia tetap di jalurnya menuju gerbong kedua, menuju kursi dekat jendela, menuju pukul 07.45.
Renjana mengikuti dengan mata saat perempuan nomor tujuh berjalan menuju jalur tiga, naik gerbong kedua, ketujuh, dan mengambil tempatnya dekat jendela. Penjaga kembali ke sudutnya, membungkuk, tenang lagi, seolah tak pernah beranjak. Tapi sekarang Renjana tahu. Topeng itu sudah terlepas, untuknya.
Perempuan itu duduk di kursinya, map dokumen di pangkuan, dan menatap keluar jendela. Untuk sesaat, lewat kaca berembun yang dialiri tetes hujan, matanya bertemu mata Renjana di seberang peron.
Wajah itu—muda, tegang, lelah—tak menyiratkan apa pun. Ia tak mengenal Renjana. Bagi perempuan itu, ini Selasa pertama dan satu-satunya. Tapi bagi Renjana, wajah di jendela itu kini punya arti yang baru dan mengerikan: inilah orang yang Penjaga lindungi mati-matian, orang yang harus padam agar loop berputar, orang yang map dokumennya menyimpan jawaban yang dibakar 07.45 ribuan kali.
Renjana memutuskan: cukup mengamati. Loop berikutnya, ia akan duduk di sebelahnya. Ia akan bicara. Ia akan tahu nama perempuan nomor tujuh, dan ia akan membaca dokumen itu sebelum cahaya putih membakarnya.
Tapi tepat saat pikiran itu mengkristal, sesuatu terjadi di balik kaca jendela. Perempuan itu, yang seharusnya tak ingat apa-apa, yang seharusnya cuma NPC dalam Selasa yang berulang—
—perempuan itu mengernyit, menatap Renjana lebih lama dari yang seharusnya, dan bibirnya bergerak membentuk satu kata tanpa suara, kata yang membuat seluruh dunia Renjana terhenti.
"Kamu?"
07.45.
Cahaya putih.