Butuh tiga loop lagi sebelum Renjana berani bicara dengan benar.
Loop pertama ia hanya duduk di sampingnya, menghafal segalanya: cara perempuan itu memegang map seperti melindungi sesuatu yang rapuh, jam tangan plastik murah di pergelangannya yang menunjuk waktu mati, kuku yang digigiti. Loop kedua ia membaca tulisan pudar di sampul map: STA. KOTA LAWANG — ARSIP. Dan di bawahnya, lebih kecil: PROYEK P.N.
P.N. Renjana mengulang dua huruf itu sampai reset, sampai mereka tertanam.
Loop ketiga, ia bicara.
"Map itu," kata Renjana, menunjuk dengan dagu. Kereta belum berangkat; jam baru 07.32. "Soal stasiun?"
Perempuan itu melirik tasnya, lalu Renjana, dengan kewaspadaan halus orang yang sering ditanya hal yang tak ingin ia jawab. "Riset," katanya pendek.
"Wartawan?"
"Dulu." Senyum tipis, getir. "Sekarang... cuma orang yang tidak bisa berhenti menggali sesuatu yang sudah ditimbun semua orang." Ia menyesuaikan pegangannya pada map. "Kenapa tanya?"
Renjana sudah menyiapkan kebohongan di sembilan loop terakhir, tapi saat tiba waktunya, ia memilih sesuatu yang lebih dekat dengan jujur. "Saya juga merasa ada yang salah dengan stasiun ini. Dengan hari ini." Ia menahan diri untuk tidak menatap jam menara. "Seperti... terus terulang."
Perempuan itu menatapnya lebih lama kali ini. Bukan curiga. Sesuatu yang lain. Pengenalan samar, mungkin, seperti mendengar lagu yang pernah dikenal dalam mimpi.
"Maya," katanya tiba-tiba, mengulurkan tangan. "Kalau kita akan bicara aneh-aneh, setidaknya saling kenal nama."
"Renjana."
Tangannya hangat. Riil. Dan dalam tujuh menit tangan itu akan jadi abu, lalu terlahir kembali jam enam pagi tanpa pernah ingat pernah menjabat tangan Renjana.
"Maya," ulang Renjana, mengunci nama itu untuk dibawa menembus reset. "Apa yang kau gali soal stasiun?"
Maya ragu. Lalu, seperti orang yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu sendirian, ia membuka karet yang mengikat mapnya. Kertas-kertas menyembul—fotokopi pudar, foto hitam-putih bangunan stasiun di masa lalu, denah teknik dengan garis-garis tangan, dan satu lembar dengan kop resmi yang separuh terbakar di sudutnya, seolah sudah pernah lolos dari api.
"Ada proyek lama di sini," kata Maya, suaranya turun. "Tahun-tahun sebelum stasiun ini jadi stasiun penumpang biasa. Sesuatu yang dibangun di ruang bawah, di balik ruang kontrol. Semua dokumennya dihapus dari arsip resmi—tapi tidak semua. Aku menemukan sisanya. Namanya..." Ia menunjuk lembar berkop terbakar.
Renjana mencondong. Tinta pudar, tapi terbaca:
PROYEK PUKUL NOL.
Dingin menjalar dari ubun-ubun ke ujung jarinya. Pukul Nol. Kata yang ia tulis sendiri di buku tulis lusuh berloop-loop lalu untuk menamai reset. Kata yang ia kira ia ciptakan. Ternyata sudah ada di sini, di stasiun ini, sebelum ia pernah datang.
"Apa itu Pukul Nol?" tanyanya, dan suaranya nyaris tak keluar.
Maya membuka mulut.
Jam menara berdentang. 07.45 datang lebih cepat dari yang seharusnya—atau mungkin Renjana hanya tak ingin ia datang. Cahaya putih membanjir dari arah kursi ujung, dari ransel hitam yang selalu ada, dan kata-kata Maya menguap bersama tubuhnya, bersama map dokumennya, bersama jawaban yang nyaris ia ucapkan.
"Buburrr! Bubur ayam anget!"
06.00.
Renjana membuka mata. Plafon retak. Dan tiga kata baru berdiri di kepalanya, kokoh menembus reset:
Maya. Proyek Pukul Nol.
Ia tersenyum di kegelapan kosnya, senyum tipis dan lelah dan keras kepala. Penjaga menyembunyikannya selama ini. Dharma kehilangannya dalam kabut penuaan. Tapi Renjana sekarang punya nama, dan punya sebuah proyek, dan punya seorang perempuan bernama Maya yang menggali kebenaran yang sama dengannya—hanya saja ia harus menggalinya lagi setiap pagi, dari nol, selamanya.
Kecuali Renjana yang mengingat untuknya.