"Kita hancurkan mesinnya," kata Dharma.
Kata-kata itu menggantung di udara kedai kopi seperti asap. Renjana menatapnya, menunggu kelanjutan, tapi Dharma hanya diam, membiarkan beratnya mengendap.
"Jam tua di ruang kontrol," lanjut Dharma. "Yang berhenti di 07.45, yang tidak ikut reset. Itu bukan jam biasa, Renjana. Itu wujud fisik mesin penahan waktu. Inti dari loop. Selama benda itu utuh, pukul nol akan terus kembali. Kita hancurkan jam itu, dan loop pecah. Selasa berakhir. Rabu datang."
Renjana merasakan jantungnya berdebar. "Dan Maya?"
Dharma menutup matanya sesaat. "Kalau kita hancurkan mesin saat Maya masih di kereta, di pusat ledakan, dia mati permanen. Loop pecah berarti tidak ada pagi berikutnya. Ledakan asli akhirnya berlaku."
"Jadi nggak bisa." Renjana menggeleng. "Kita nggak bisa bunuh dia—"
"Dengarkan dulu." Dharma mengangkat tangan. "Ada urutannya. Pertama, kita keluarkan Maya dari kereta—jauh dari pusat ledakan, ke luar stasiun, ke tempat aman. Lalu kita biarkan ledakan terjadi di gerbong yang kosong dari dia. Lalu, di detik setelah 07.45, sebelum mesin sempat mereset, kita hancurkan jam itu. Loop tidak akan punya kesempatan memutar ulang. Waktu maju. Rabu datang. Dan Maya—Maya hidup, di luar stasiun, di Rabu yang nyata."
Renjana memikirkannya. Di atas kertas, masuk akal. Tapi ada lubang yang menganga. "Penjaga nggak akan biarkan kita keluarkan Maya. Tiap loop dia maksa Maya tetap di kereta. Dan dia jaga ruang kontrol. Dua-duanya sekaligus, gimana?"
"Itu masalahnya." Dharma membuka matanya, dan ada sesuatu yang gelap di sana. "Kita tidak bisa melawan Penjaga dan menyelamatkan Maya dan menghancurkan mesin, semua dalam satu loop seratus lima menit. Mustahil. Kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kecuali kita hancurkan mesinnya kasar. Sekarang. Tanpa menunggu mengeluarkan Maya." Dharma menatapnya tajam. "Aku tahu cara mencapai ruang kontrol dalam tiga menit dari sini. Aku tahu cara menghancurkan jam itu—aku yang membangunnya, aku tahu di mana ia paling rapuh. Kalau kita lakukan sekarang, loop pecah hari ini. Selasa berakhir hari ini."
"Tapi Maya mati."
"Maya satu orang, Renjana." Suara Dharma rendah, mendesak. "Berapa orang yang mati setiap loop? Tiga ratus. Ribuan loop. Hitung sendiri kalau berani. Kita bicara ratusan ribu nyawa, terbakar lagi dan lagi, demi menahan satu kematian. Kalau kita pecahkan loop sekarang, ya, Maya mati—tapi seperti seharusnya, di hari aslinya. Dan semua orang lain bebas. Dunia maju. Penderitaan berhenti." Ia mencengkeram lengan Renjana, tangannya gemetar tapi kuat. "Itu bukan pembunuhan. Itu mengembalikan satu kematian yang sudah seharusnya terjadi, untuk membebaskan jutaan."
Renjana menarik lengannya, mundur. Sesuatu di dadanya memberontak. "Itu pengkhianatan, Dharma. Kita janji ke Penjaga kita cari cara melepas Maya tanpa kehilangan dia."
"Kamu janji. Aku tidak." Dharma menatapnya tanpa berkedip. "Renjana, aku sekarat. Tubuhku tidak akan bertahan banyak loop lagi. Aku tidak punya kemewahan mencari jalan sempurna yang mungkin tidak ada. Aku membangun mesin ini. Aku yang menjebak semua orang di Selasa ini. Aku ingin menghancurkannya sebelum aku mati, walaupun harganya nyawa Maya. Itu tanggung jawabku."
"Itu bukan keputusanmu sendiri." Renjana berdiri, kursinya menggesek lantai. "Maya orang. Bukan variabel. Dan dia anak Penjaga. Kalau kita lakukan caramu, kita nggak lebih baik dari Penjaga—kita cuma milih nyawa siapa yang layak diselamatkan."
Dharma menatapnya lama, dan amarahnya pelan-pelan surut, berganti kelelahan. "Kau masih percaya ada jalan ketiga. Jalan yang menyelamatkan semua orang."
"Iya."
"Aku dulu juga percaya." Dharma menyandar ke kursinya, tiba-tiba tampak sangat tua. "Ratusan loop yang lalu. Sebelum aku berhenti menghitung mayat." Ia menutup matanya. "Aku harap kau benar, Renjana. Sungguh. Tapi kalau kau salah, dan tubuhku habis sebelum kau menemukan jalan ketigamu, aku akan menghancurkan mesin itu dengan caraku. Dengan atau tanpa kau."
Jam menara berdentang di kejauhan. Mereka menatap satu sama lain, dua orang yang ingat segalanya, terbelah di antara satu nyawa dan jutaan.
"Buktikan aku salah," kata Renjana pelan. "Kasih aku satu loop. Aku coba jalan ketiga. Aku keluarkan Maya, aku tahan Penjaga, aku biarkan Rabu datang—tanpa hancurin mesin kasar. Kalau gagal—" Ia menelan ludah. "Kalau gagal, kita bicara lagi."
Dharma menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk.
"Satu loop," katanya. "Lalu kita lihat siapa yang benar soal hari Rabu."