Hujan turun perlahan di luar jendela kafe. Lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan, seperti dunia yang berhenti di tengah waktu. Nara duduk di pojok favoritnya, tangan menutup cangkir kopi hangat, tapi hatinya kaku. Ia tahu seseorang akan datang—dan ketika pintu kafe terbuka, suara bel berdenting, seluruh tubuhnya menegang.
Arka berdiri di ambang pintu. Rambutnya basah, jaket lembap menempel di bahu, tapi matanya tetap sama: hangat, lembut, penuh penyesalan. “Nara…” suaranya terdengar pelan, tapi cukup menusuk hati.
Nara menatap Arka tanpa berkedip. Hatinya berdebar, tapi ia menunduk sejenak, menahan diri untuk tidak tersenyum. Ego-nya berbicara terlebih dahulu. Ia sudah terlalu lama menunggu, terlalu lama terluka. Ia tidak bisa begitu saja menerima Arka kembali tanpa membayar rasa sakit yang dulu ia rasakan.
“Kenapa kau di sini?” suaranya terdengar dingin, meski jantungnya nyaris meledak.
Arka melangkah mendekat, tapi Nara menggeser sedikit tubuhnya menjauh. “Aku… aku kembali karena aku tidak pernah berhenti memikirkanmu,” katanya lembut, mencoba menembus pertahanan Nara.
Nara menarik napas panjang, menatap mata Arka, dan untuk pertama kalinya, ia mengangkat dinding ego-nya. “Kau pergi begitu saja dulu. Tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan maaf yang benar. Dan sekarang… kau muncul di sini, seolah tidak terjadi apa-apa?” Suaranya bergetar, tapi ia menahan air mata.
Arka menunduk, menyesal. “Aku tahu. Aku salah. Aku terlalu takut untuk menghadapi semuanya saat itu. Tapi aku kembali, karena aku ingin memperbaikinya. Aku ingin kau tahu… hatiku tetap milikmu.”
Nara menelan ludah, mencoba menguatkan diri. Bagian hatinya ingin melompat ke pelukan Arka, merasakan kehangatan yang dulu selalu ia rindukan. Tapi ego dan rasa sakit yang lama tertanam mendorongnya menjauh. Ia menatap ke arah lain, menghindari tatapannya, seperti memberi pesan: aku terluka, aku tidak mau lagi mudah percaya.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu begitu saja,” kata Nara akhirnya, suara pelan tapi tegas. “Aku sudah belajar untuk menjaga hatiku. Aku tidak mau lagi terluka karena seseorang yang pergi tanpa alasan.”
Arka tersenyum tipis, sedih, tapi tidak menyerah. Ia mencondongkan tubuh, menjaga jarak agar Nara tidak merasa terpojok. “Aku mengerti. Aku tidak minta kau langsung memaafkan aku. Aku hanya minta kesempatan untuk menjelaskan, untuk membuktikan bahwa aku benar-benar kembali, dan bukan sekadar kata-kata.”
Nara meneguk kopinya, merasakan panas kopi yang menyelimuti tangan, tapi tidak cukup untuk menghangatkan hatinya. Tarik-tali ini terasa menyakitkan, pikirnya. Setiap langkah Arka mendekat, setiap kata manis yang keluar dari bibirnya, memicu campuran rindu dan marah di dalam dirinya.
“Jadi… apa yang membuatmu kembali sekarang? Kenapa bukan beberapa bulan yang lalu, atau tahun lalu?” Nara menatapnya dengan sorot mata tajam, ingin tahu kebenaran di balik kehadiran Arka yang tiba-tiba ini.
Arka menghela napas panjang. “Karena aku sadar, waktu yang terbuang tidak bisa diulang. Aku tidak ingin kau kehilangan kesempatan untuk bahagia… bahkan jika itu berarti aku harus berjuang keras untuk membuktikan padamu bahwa aku layak kembali.”
Nara menggeleng pelan, mencoba menahan diri. Hatiku ingin percaya, tapi ego tidak membiarkan aku menyerah begitu saja. “Aku tidak ingin bermain-main dengan perasaanku lagi, Arka. Aku sudah belajar menyendiri, belajar bertahan. Aku tidak mau kau pergi lagi.”
Arka menatapnya, matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum lembut. “Aku tidak akan pergi. Aku berjanji. Tapi aku tidak akan memaksa. Aku ingin kau memutuskan sendiri… apakah kau mau memberiku kesempatan, atau tetap menjaga jarak.”
Suasana hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar di luar. Nara menunduk, mencoba menenangkan diri. Bagian hatinya ingin memeluk Arka, menangis, dan berkata bahwa ia juga merindukannya. Tapi ego dan rasa sakit yang membekas membuatnya tetap diam.
“Kalau aku terlalu mudah percaya, mungkin aku akan terluka lagi,” bisiknya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Arka hanya mengangguk. Ia mengerti. Dan di sana, di tengah hujan, kopi, dan lampu kafe yang temaram, mereka duduk berdua—saling menatap, saling merasakan, tapi tetap menjaga jarak karena luka lama dan ego yang saling tarik-menarik.
Nara menyadari satu hal: cinta bukan hanya soal perasaan hangat dan tawa, tapi juga tentang kesabaran, tentang tarik-tali antara hati dan ego, tentang belajar mempercayai lagi setelah terluka. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi malam itu, tapi satu hal pasti—rasa rindu yang ia simpan begitu lama kini berhadapan langsung dengan kenyataan.
Dan di pojok kafe itu, di tengah hujan yang menetes pelan, Nara belajar bahwa cinta terkadang menyakitkan bukan karena kehilangan, tapi karena perjuangan antara hati dan ego.
Hujan di luar semakin deras, menetes di kaca kafe, menciptakan ritme yang serupa dengan detak jantung Nara. Setiap tetes seakan menegaskan: dunia mereka tak pernah sama tanpa Arka, tapi ego-nya masih menahan hatinya.
Arka duduk diam, memperhatikan Nara dari seberang meja. Ia ingin menjangkau, ingin memeluk, ingin mengatakan semua kata yang menumpuk di hatinya selama ini. Tapi ia tahu, terlalu cepat bisa membuat Nara menutup diri lagi. Maka ia menunggu.
Nara menatap cangkir kopinya, perlahan memutar sedotan di permukaan kopi. Setiap aroma hangat yang naik seolah memanggil memori yang tak pernah pergi—tawa Arka yang dulu selalu membuatnya tertawa sampai perutnya pegal, pelukan hangat di balkon apartemen kecil mereka ketika hujan turun deras, suara lembut Arka di telinganya saat malam sunyi, dan kata-kata yang ia simpan rapat karena takut terluka lagi.
“Aku masih ingat…” Nara akhirnya bersuara, suaranya pelan, penuh getar. “Aku masih ingat malam terakhir kita bersama sebelum kau pergi. Hujan deras di luar, dan kau bilang… kau ingin aku bahagia, meski tanpa dirimu.”
Arka menunduk, matanya berkaca-kaca. “Aku tahu itu tidak cukup. Aku tahu aku membuatmu terluka, lebih dari yang bisa kau katakan. Tapi aku tidak pernah berhenti memikirkanmu, Nara. Setiap hari, setiap jam, hatiku tetap menunggumu.”
Nara menatapnya, napasnya tersengal. Bagian hatinya ingin memeluk Arka, menangis, dan mengatakan betapa ia juga merindukan semua itu. Tapi ego dan rasa sakit yang lama tertanam menahannya. Ia menarik napas panjang, menegakkan punggung, dan berkata dengan nada dingin:
“Dan sekarang kau muncul… seolah-olah aku harus menyambutmu dengan senyum? Seolah-olah rasa sakit yang kau tinggalkan bisa hilang begitu saja?”
Arka menghela napas. Ia tahu Nara masih terluka. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tapi tetap menjaga jarak, mencoba menunjukkan keseriusannya tanpa memaksa. “Aku tidak minta kau tersenyum. Aku hanya ingin kau tahu, aku kembali untukmu, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan hati yang nyata.”
Nara memalingkan wajahnya, menahan air mata yang mengaburkan pandangannya. Tarik-tali ini menyakitkan, pikirnya. Ia ingin mempercayai Arka, ingin menyerah pada rindu yang menggelegak di d**a. Tapi luka lama dan egonya terus berbisik: jangan mudah percaya, jangan terluka lagi.
“Arka… aku takut,” bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara denting hujan dan bisik angin. “Aku takut kau pergi lagi. Aku takut… aku tidak cukup kuat untuk menahan sakit itu.”
Arka menatap matanya, lembut tapi tegas. Ia menjangkau, hanya satu tangan, dan meletakkannya di atas meja, dekat dengan tangan Nara, tapi tidak menyentuh. “Aku mengerti. Aku juga takut, Nara. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendiri. Aku ingin membuktikan bahwa aku berbeda sekarang.”
Kilasan memori muncul di benak Nara—malam ketika Arka pergi tiba-tiba, tanpa kata, meninggalkan kamar mereka yang kosong dan hatinya yang hancur. Ia ingat bagaimana ia menangis sendiri di balkon, menatap hujan, merasa dunia runtuh. Dan kini, Arka ada di depan matanya, nyata, basah oleh hujan, tapi tidak pergi.
Nara menarik napas panjang, hatinya berperang. Sebuah sisi kecil di dalamnya ingin menyerah pada kehangatan Arka, ingin memeluknya dan menangis. Tapi sisi lain—ego dan rasa sakit—menahannya: aku tidak bisa mudah percaya lagi, aku tidak mau terluka.
“Kalau aku menyerah sekarang, mungkin aku akan terluka lagi,” ucapnya akhirnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Arka tersenyum tipis, penuh pengertian. “Aku tahu. Dan aku akan menunggu. Aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu seberapa pun lama yang kau butuhkan. Tapi aku tetap di sini, Nara. Aku tidak akan pergi lagi.”
Hening. Hanya hujan yang terdengar, dan detak jantung Nara yang berdebar kencang. Ia menatap Arka, melihat ketulusan di matanya, merasakan hangatnya kehadiran yang lama dirindukan. Tarik-tali ini sakit, tapi juga membawa harapan.
Dan malam itu, di pojok kafe yang basah oleh hujan, Nara belajar bahwa mencintai berarti merasakan rindu, menahan ego, dan bersiap untuk membuka hati perlahan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tapi ia tahu satu hal: Arka kembali, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rindu yang menyakitkan itu mulai berubah menjadi kemungkinan.