Hujan yang dibarengi dengan petir diluar sana tak hentinya menggetarkan bumi. Aku hanya duduk diam di kursi menatapi suasana malam di luar melalui jendela ruang tamu, menunggu siapapun datang. Anak usia lima tahun ini harus tinggal sendirian dirumah, entah kemana orangtuanya. Tidak kah mereka berpikir untuk ingin cepat sampai dirumah menemui anaknya. Mungkin anak lain seusianya kini tengah berkumpul bersama orangtuanya saling bercerita atau sekedar berdekapan ditemani s**u coklat hangat. Aku ingin merasakannya sekali saja, ucapku dalam hati.
Brakkk
Belum selesai aku dengan lamunanku itu terdengar suara pintu yang di dobrak oleh seseorang begitu hebatnya, sangat menakutkan. Suara petir pun tak kalah hebatnya ketika pintu terbuka. Derap langkah kaki bergesekan dengan lantai semen terasa berderit di telinga membuatku memutuskan bersembunyi dibawah tumpukan kardus disisi lemari. Suasana seperti rasanya tak asing lagi bagiku, tepatnya hampir setiap hari. Aku bahkan bisa menduga apa yang akan selanjutnya terjadi.
“Dasar wanita tak tahu malu, beraninya kamu memiliki laki-laki lain dibelakangku hah! Kamu pikir aku apa?", ucap seseorang sembari mengacungkan pisaunya dan menjambak seorang wanita.
“Lepasss sakitt! Apa bedanya dengan kamu pemabuk dan tukang judi! Bahkan aku tahu kamu pun main wanita diluar sana, masih tidak sadar diri!!”, ucap wanita itu dengan penuh marah dan kesakitan.
Plakkk
“Beraninya kamu menjawab suamimu ini!!”, suara tangis hingga jeritan, bentakan hingga hinaan, tamparan hingga pecahan kaca terdengar sangat nyaring.
Aku berteriak minta tolong, mengapa rasanya tidak ada yang mendengar teriakanku. Rasanya susana sangat dingin namun badanku terasa panas dengan keringat bercucuran. Huh, mimpi 15 tahun silam itu datang lagi. Sungguh tak hentinya mimpi itu selalu terulang ditiap malam aku tidur. Selalu merasa takut dan panik. Aku selalu terbangun dengan cara tak nyaman dan jantung berdegup kencang. Segelas air putih di nakas pun habis ku teguk untuk menenangkan pikiranku.
Keluarga ini sejak awal sudah hancur, tak ada yang dapat diperbaiki. Kala itu ayahku adalah pemabuk dan penjudi, selalu pulang dengan amarah dan suara lanturan. Ibuku? Bahkan dia jarang pulang kerumah sekedar menanyakan kabar anaknya, menghabiskan waktu bersama kekasih gelapnya diluar sana. Anak malang ini tak tahu bagaimana mulanya keluarga ini dibangun, oh mungkin lebih pantas disebut neraka. Tak ada yang ingin dilahirkan dari keluarga seperti ini, sama sekali tak ada kasih sayang, bahkan hanya sekedar sapaan pun tak ada. Sedari kecil aku selalu dirawat oleh nenekku, almarhuma nenekku. Beliau meninggalkanku sendiri saat usiaku 16 tahun. Aku kehilangan satu-satunya tempatku bernaung kala itu.
Aku tahu persis keadaanku, sangat egois apabila orang-orang memintaku harus semangat menjalani hidup. Apakah mereka tahu keadaan yang berbeda tak bisa dipaksa. Mungkin untuk maju kedepan aku bisa, namun aku tahu betul jalanku akan sangat lambat. Aku kalah telak, terlebih soal dukungan.