Malam itu, Istana Musim Semi terasa seperti pulau terpencil yang terperangkap dalam kabut tebal. Lampu-lampu minyak berkedip redup di lorong-lorong panjang, menyisakan bayangan yang menjalar seperti ular, melingkupi setiap sudut dengan misteri dan ketakutan. Udara terasa berat, seolah seluruh istana menahan napas menunggu sesuatu yang tak terduga.
Alerina berjalan pelan menyusuri koridor batu, langkahnya terhenti sejenak saat melewati lukisan-lukisan para pendahulu yang diam membeku di dinding. Sorot matanya yang tajam menatap satu per satu, mencari kekuatan dari kisah-kisah masa lalu yang terpajang di sana.
Di dalam hatinya, badai rasa bertempur — antara ketakutan akan pengkhianatan yang terus membayangi dan keyakinan bahwa ia harus berdiri teguh demi masa depan. Namun, semakin malam semakin dalam, bayang-bayang itu terasa semakin berat.
Sebuah ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Cael masuk tanpa suara, wajahnya tertutup bayang-bayang. “Ada kabar buruk,” katanya singkat.
Alerina menatapnya, mengangguk. “Ceritakan.”
Cael duduk di kursi, meletakkan gulungan surat di meja. “Sekelompok pengawal yang selama ini kita curigai ternyata benar-benar berkhianat. Mereka bersekongkol dengan Lysandrel untuk melumpuhkan pertahanan kita saat rapat dewan minggu depan.”
Kepalan tangan Alerina mengepal, nadinya berdetak cepat. “Berapa banyak?”
“Lima orang. Mereka sudah mengatur jadwal giliran pengawasan, memastikan ada celah di malam rapat.”
Diam menyelimuti sejenak. Kemudian Alerina bangkit, matanya berkilat seperti api.
“Kita tidak bisa membiarkan mereka merusak rencana dari dalam. Segera informasikan ke sekutu terdekat dan perkuat penjagaan. Aku ingin semua orang yang masuk ke ruang rapat diperiksa secara ketat.”
Cael mengangguk. “Sudah kuberi tahu para pengawal setia. Mereka akan menjaga dari bayang-bayang.”
Di luar jendela, hujan mulai turun, menetes lembut di daun-daun taman yang menguning. Suara tetesan air seolah menjadi irama pengingat bahwa malam ini bukan malam biasa — ada pertarungan besar yang akan menentukan arah kerajaan.
Keesokan harinya, ketegangan di istana meningkat. Ruang rapat dipenuhi oleh aura waspada, dengan para bangsawan muda yang mencoba menyembunyikan kecemasan di balik wajah datar mereka. Alerina masuk dengan kepala tegak, tapi hatinya berdetak tak henti.
Lysandrel duduk di ujung meja, senyumnya tipis dan penuh arti. Namun hari ini, Alerina tidak gentar. Ia membawa bukti-bukti kecil yang diam-diam dikumpulkan para sekutu — bukti pengkhianatan para pengawal yang kini sudah hampir runtuh.
Ketika pertemuan dimulai, Alerina membuka dengan suara yang tegas dan berwibawa, “Kerajaan kita berdiri di atas fondasi kepercayaan. Namun sekarang, fondasi itu sedang digoyahkan dari dalam.”
Sorot matanya menyapu seluruh ruangan, menantang siapapun yang berani menatapnya balik.
“Ada pengkhianat yang bersekongkol dengan pihak luar, berusaha melemahkan kita saat kita harus bersatu. Aku memiliki bukti dan saksi. Mereka bukan hanya ancaman bagi rencana kita, tapi juga bagi masa depan kerajaan.”
Ruangan menjadi hening, lalu suara gaduh mulai muncul dari sudut-sudut. Lysandrel mengangkat tangan, berusaha meredam, tapi aura kekuasaan Alerina sudah merasuk ke setiap orang di sana.
Dewan muda terbelah. Ada yang diam, ada yang mulai mempertanyakan loyalitas mereka sendiri. Namun Alerina tahu, kebenaran kadang menyakitkan, tapi itu jalan satu-satunya menuju perubahan.
Setelah pertemuan berakhir, beberapa pengawal yang diduga pengkhianat ditangkap dan dipindahkan ke sel rahasia. Istana yang megah itu seolah menyimpan napasnya dalam keheningan yang tidak biasa.
Malam tiba kembali, dan kali ini angin membawa aroma hujan yang segar, membasahi halaman istana yang penuh tanda tanya. Di ruang pribadinya, Alerina menatap lilin yang mulai meredup.
Cael berdiri di sampingnya, berkata lembut, “Kau sudah lakukan yang terbaik.”
Alerina tersenyum tipis, namun matanya masih penuh api. “Ini baru permulaan. Pertarungan kita belum selesai.”
Ia tahu betul, bayang-bayang pengkhianatan mungkin sudah terungkap, tapi perang untuk hati dan pikiran kerajaan baru saja dimulai. Dan ia siap menghadapinya — dengan segala risiko, dan dengan nyala api yang tak akan pernah padam.
---