Langit di atas Istana Musim Semi tampak kelabu, seolah menahan hujan yang enggan turun. Udara mengandung aroma tanah basah dan kayu terbakar, meninggalkan kesan yang tak bisa dijelaskan — seakan ada sesuatu yang telah hangus namun belum selesai.
Pagi itu, berita menyebar seperti api dalam jerami kering: sebuah pos kecil di perbatasan selatan diserang tengah malam. Bukan hanya dibakar, tetapi dijarah dan ditinggalkan dalam reruntuhan. Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, tapi semua mata langsung mengarah pada Lysandrel.
Di ruang strategi, Alerina berdiri di depan peta besar, jari-jarinya bergerak cepat mengikuti jalur logistik. Di sekitarnya, para penasihat dan komandan berdiri dalam lingkaran sunyi.
“Pos itu adalah kunci cadangan logistik jika jalur utama diblokade,” gumamnya. “Ini bukan serangan acak. Ini pesan.”
Cael melangkah mendekat, wajahnya tegang. “Pesan yang berbunyi: ‘kami tahu gerakanmu.’”
Alerina menatap semua yang hadir. “Kita harus mulai memperhitungkan bahwa mereka memiliki mata-mata di antara para pekerja lapangan, bukan hanya di dalam istana. Jaringan mereka lebih luas dari yang kita kira.”
Lady Miriane, yang duduk sedikit lebih jauh, bersuara pelan, “Dan jika kita terus berlari dalam gelap, kita akan jatuh dalam perangkap yang sama lagi dan lagi.”
“Tidak kali ini,” jawab Alerina. “Kita akan ubah permainan. Kita beri mereka umpan.”
Semua kepala menoleh.
Dengan tenang, Alerina menjelaskan rencananya: membuat seolah mereka akan mengirim pasokan penting ke barat, membiarkan informasi itu bocor ke tangan musuh. Tapi jalur sebenarnya akan disamarkan — dikawal oleh pasukan khusus dan lewat rute yang bahkan Cael sendiri tidak tahu sebelumnya.
“Kita akan menang bukan karena kekuatan,” katanya, “tapi karena kita tahu kapan harus diam, dan kapan harus bertindak.”
Hari itu, roda-roda mulai bergerak. Gerobak-gerobak palsu disiapkan. Surat-surat dengan isi palsu sengaja dibiarkan terbaca. Agen-agen bayangan mulai menyebarkan desas-desus di pasar, di antara para pekerja pengangkut dan penjaga gudang. Suasana menjadi semakin tegang, tapi juga penuh antisipasi.
Sementara itu, Alerina meluangkan waktu untuk mengunjungi reruntuhan pos yang diserang. Bersama beberapa pengawal, ia berdiri di antara puing-puing hangus, melihat arang dan sisa-sisa pelana yang terbakar. Di tanah, ia menemukan sebuah benda kecil: liontin tembaga dengan simbol keluarga bangsawan minor yang selama ini dikenal netral.
“Ada tangan-tangan lain di balik ini,” gumamnya. “Ini bukan hanya Lysandrel.”
Cael memungut liontin itu dan menatapnya dalam. “Ini bisa berarti dua hal: mereka dipaksa... atau mereka telah memilih.”
Alerina tak menjawab. Dalam pikirannya, segala kemungkinan bercampur. Tapi ia tahu satu hal: langkah ke depan akan lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.
Malamnya, ia menulis surat rahasia untuk dikirim pada seorang teman lama — seorang anak laki-laki yang dulu pernah ia selamatkan dari kemiskinan, yang kini hidup di antara kelompok pelaut bayangan di selatan. Orang yang tidak terikat istana, tapi memiliki jaringan yang bisa menyentuh tempat-tempat yang bahkan para bangsawan tak mampu jangkau.
“Waktu kita tak banyak,” tulis Alerina, “dan aku butuh mata yang bisa melihat lebih dari yang terlihat.”
Setelah surat itu dikirim, ia berdiri di jendela kamarnya, menatap bulan yang separuh tertutup awan. Di balik semua luka dan kelelahan, ada sesuatu dalam dirinya yang terus menyala. Bukan amarah... tapi tanggung jawab.
Karena api yang membakar bukan hanya untuk menghancurkan — tapi juga untuk menerangi.
Dan dari abu yang berserakan di tanah, ia tahu: jejaknya belum selesai ditulis.
---