Angin dari pegunungan selatan membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Di kejauhan, ladang-ladang gandum bergoyang perlahan seperti lautan emas yang berbisik pada langit. Di tengah hamparan itu, berdiri sebuah rumah kayu sederhana — tempat pertemuan pertama Alerina dengan para penyuling angin dari Pegunungan Vareth.
Rumah itu tidak besar. Hanya satu ruangan, dengan lantai kayu yang berderit dan jendela yang terbuka lebar, membiarkan cahaya sore menari di antara debu. Tapi bagi Alerina, tempat itu terasa seperti aula ilmu — lebih jujur dan hidup dibanding ruang-ruang marmer istana.
Orang-orang di sana tak mengenakan pakaian bangsawan, tak membungkuk terlalu dalam, dan tak menyebutnya "Lady". Tapi mereka mendengarkan.
Dan Alerina bicara bukan seperti anak-anak. Ia bicara seperti seseorang yang tahu bahwa udara bisa diubah menjadi kekuatan, bahwa tekanan bisa disalurkan, dan bahwa sihir… bisa dijinakkan oleh logika.
“Kalian tidak butuh izin dewan bangsawan untuk membuat alat pengalir uap,” ucapnya sambil menggambar di tanah dengan batang kayu. Tangannya kotor, pakaiannya berdebu, tapi suaranya jelas. “Kalian hanya butuh jalur distribusi yang melindungi hak kalian. Dan aku bisa membuatnya.”
Para penyuling saling pandang. Ada tawa kecil, ragu, lalu satu suara dari perempuan tua di ujung meja: “Dan siapa yang akan melindungimu dari mereka, Nak?”
Alerina menatapnya, tenang.
“Aku tidak butuh perlindungan. Aku butuh kerja sama. Dan suara kalian, jika suatu hari aku diminta untuk diam.”
**
Berhari-hari Alerina berpindah dari satu desa ke desa lain, menulis, menggambar, mendengarkan. Terkadang ia duduk di bawah pohon, dikelilingi anak-anak yang penasaran dengan alat-alat kecilnya. Terkadang ia berbicara dengan para ibu, atau menemani para penempa memeriksa tekanan uap dari tabung logam.
Cael mengatur keamanannya diam-diam, menyebar pengawal tersembunyi agar kepergiannya tak diketahui istana. Setiap malam, mereka bertukar catatan: skema, jalur distribusi, sumber daya, dan nama-nama orang yang bisa dipercaya. Jaringan kecil pun mulai terbentuk — bukan dari rasa takut, tapi dari harapan.
Namun setibanya kembali di Istana Musim Semi, kenyataan menyerangnya seperti badai.
Ruangan eksperimen Alerina telah diobrak-abrik.
Bukan dihancurkan. Tapi dipreteli.
Botol-botol dikembalikan ke tempat semula, tapi isinya hilang. Kertas-kertas disusun rapi, tapi tanpa coretan penting. Rak-rak masih berdiri, tapi kosong. Seperti seseorang telah menyentuh segalanya… dan memastikan tidak ada yang benar-benar bisa digunakan lagi.
Langit di luar tampak mendung. Cahaya sore tertahan awan kelabu yang mengambang berat, seperti ikut menyesali apa yang telah terjadi.
Cael muncul tak lama kemudian, wajahnya gelap.
“Mereka menyentuh ruang pribadimu. Itu berarti mereka sudah menganggapmu ancaman.”
Alerina menghela napas, duduk di bangku rotan yang mulai goyah.
“Setidaknya mereka tidak membakarnya,” ucapnya lirih.
Cael menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Mereka tidak tahu satu hal.”
“Apa itu?”
“Aku punya salinan dari semua catatanmu.”
Mata Alerina membulat. “Kau menyimpan—”
“Di ruang rahasiaku di Paviliun Utara,” jawab Cael santai. “Kau terlalu ceroboh. Aku hanya… berjaga-jaga.”
Alerina menatapnya lama, lalu tersenyum — senyum kecil tapi penuh rasa syukur.
“Terima kasih.”
Sore itu, mereka duduk di atap paviliun, memandangi langit senja yang perlahan berubah warna. Hening, hanya suara burung-burung yang terbang pulang dan deru angin melewati taman kerajaan.
Alerina menulis ulang rencananya, kali ini dengan sandi lebih rumit. Di bawahnya, ia mencantumkan dua simbol: satu lambang bangsawan Eldevira, dan satu lambang naga bersayap — lambang rahasia keluarga Cael yang hanya diketahui segelintir orang.
“Kita mulai dari awal lagi?” tanya Cael.
Alerina mengangguk, helaan napasnya menggugurkan kegundahan.
“Dan kali ini,” ucapnya, suaranya tenang, “kita pastikan tak ada yang bisa membungkam ladang-ladang yang mulai bernyanyi.”
Karena ia percaya: jika suara rakyat bisa bersatu dengan ilmu, maka bahkan istana pun akan mendengar.
Bukan karena kekuasaan.
Tapi karena suara itu akan terlalu lantang untuk diabaikan.
---