Damar Atmaja—ayah Sekar—pergi di usia tujuh puluh delapan.
Sang guru sejarah, yang dulu menjatuhkan cangkir kopinya saat melihat putri tiga tahunnya menggambar istana Majapahit. Yang membaca 800 tahun surat keluarga untuk memahami anaknya. Yang membawa Sekar ke Trowulan dan Tol Cawang supaya dia bisa berdamai dengan masa lalunya.
Dia pergi dengan tenang, di rumah Solo, di tidur, dengan Laras di sampingnya dan Sekar memegang tangannya.
Sekar tidak hancur seperti kebanyakan orang hancur kehilangan orangtua. Dia sudah menyaksikan begitu banyak kematian—di tiga hidup, di ingatan ratusan leluhur yang dia dengar. Dia tahu sesuatu yang sedikit orang tahu: kematian bukan akhir, hanya pergantian ruangan.
Tapi dia tetap menangis. Karena kehilangan tetap kehilangan, sebanyak apa pun yang kau pahami.
"Bapak," bisiknya di tepi tempat tidur. "Terima kasih. Buat percaya aku waktu aku tiga tahun dan ngomong soal kotak besi. Buat nggak takut sama aku. Buat bawa aku ke Trowulan, ke Tol Cawang, biar aku bisa mulai hidupku sendiri."
Damar, di saat-saat terakhirnya, masih sempat tersenyum.
"Sekar. Anakku. Atau—siapa pun kau, lintas tiga hidup. Bapak bangga. Kau pulang untuk hidup utuh, dan kau menjalaninya. Lebih indah dari yang Bapak bayangkan."
"Bapak..."
"Bapak pergi sekarang, Sekar. Tapi Bapak nggak hilang. Kau lebih tahu itu dari siapa pun. Bapak akan ada di jendela kepalamu, kalau kau butuh. Bersama Cahaya, Adi, semua leluhur."
Sekar menggenggam tangan ayahnya. "Iya, Bapak. Aku akan dengerin Bapak di sana."
"Tapi jangan terlalu sering, Sekar." Damar tersenyum lemah, mengulang nasihat yang Sekar sendiri pegang. "Hidup di masa kini. Cintai yang hidup. Bapak cuma tamu sekarang—tamu yang sayang sama kau."
Damar menutup mata, dan pergi—pelan, seperti senja yang turun.
Pemakaman di Solo. Sekar memimpin doa, tenang, dengan kedamaian seseorang yang tahu kematian bukan akhir.
Malam itu, dia membuka jendela kepalanya, sekali, dan mendengar suara baru di antara para leluhur—suara ayahnya, sudah hangat, sudah tenang.
*"Sekar. Bapak sampai. Cahaya dan Adi menyambut Bapak. Jangan khawatir. Sekarang—tutup jendelanya. Pergi peluk Bunda-mu. Dia yang masih hidup. Dia yang butuh kau sekarang."*
Sekar menutup jendelanya, dan pergi memeluk Laras—ibunya, yang baru saja menjadi janda.
(bersambung...)