Apa arti kebebasan menurut kalian?
Di mataku, kebebasan seperti permata yang hanya ditemukan di dalam inti bumi. Sulit, mahal dan tentu saja sangat berharga. Bagiku kebebasan adalah melakukan apapun yang aku inginkan, mengeluarkan segala pendapat yang aku miliki dan tentu berhak memutuskan apapun yang kupilih. Itulah sebuah kebebasan yang sangat ingin aku dapati sejak aku menginjak umur delapan belas tahun, tapi yang aku rasakan saat ini adalah seperti di dalam penjara.
Aku tidak dibolehkan keluar ketika matahari tenggelam, aku harus bangun ketika matahari terbit, tak ada pesta malam apalagi gaun indah yang seksi untuk kupakai. Bahkan, pakaian yang aku gunakan selalu diatur oleh penjahit dari keluarga istana. Membosankan.
Tapi hari ini, aku melakukan sesuatu yang sangat tabu namun sangat ingin kulakukan. Berteriak di lorong rumah atau menghancurkan dapur adalah hal pertama yang terlintas dalam pikiranku, aku ingin semua orang tahu jika aku seorang gadis normal dengan jiwa bebas yang terkukung dalam laknatnya istana megah ini. Ketika matahari mulai mengeluarkan sinarnya dan menyinari kamarku tanpa penghalang selain gorden tipis berwarna putih, aku mulai melakukannya.
Aku melempar selimut tebal dengan asal, aku berdiri di atas ranjangku yang super empuk. Satu... dua... tiga... dan aku mulai berloncatan di atas kasurku hingga tanganku menyentuh langit kelambu yang cukup tebal berwarna emas. Aku menoleh karena hari ini musim panas telah tiba, tak ada lagi alat penghangat ruangan yang biasa dipakai atau tirai tebal yang sekarang aku tarik dengan kasar. Sebentar lagi waktunya para pelayan datang, aku yakin dia tidak akan banyak berkomentar banyak kecuali yang masuk melihatku adalah...
“Harper! What are you doing?” aku menoleh dan melihat wanita setengah baya menatapku dengan wajah kesalnya yang terdapat freckles di bagian hidung dan pipinya. Aku berhenti melompat dan menundukkan kepala, berpura-pura merasa bersalah karena menghancurkan kamarku. Tapi ini kamarku kan?! Bukankah aku bebas melakukan apapun? Ah aku baru ingat bahwa kebebasan adalah hal terharam dalam hidupku.
“Hmm...” aku bingung harus beralasan apa dengannya, aku berpikir sejenak untuk mencari alasan. “Ah, aku sedang mencoba...apakah kasur ini masih layak aku pakai atau tidak? Tapi sepertinya masih layak, Chloe.”
Chloe menghampiriku dengan kedua tangannya berada di pinggang, langkahnya dengan cepat berdiri di depanku. Tanpa menunggu lama, ia langsung menarik telingaku hingga keluar kamarku. Ugh! Dia memang pengasuhku.
“Kamu benar-benar nakal, Harper, aku akan adukan kamu kepada Pangeran.” Chole sama sekali tak mempedulikan rintihanku, dia terus mencoba menarikku turun dari ranjang tanpa melepas tangannya dari telingaku yang rasanya seperti mau putus karenanya.
“Pangeran? Bahkan dia tidak peduli dengan keberadaanku.” Gumamku dengan sebal namun merintih sakit karena Chole tidak juga melepas tangannya dari telingaku hingga di lorong.
“Lepaskan, Chloe!” suara bass mengaum di lorong, aku terkejut mendengar suaranya yang bahkan hampir tak kuingat dan perih karena Chole seakan hilang karena kehadiran orang tersebut. Sekarang pria itu berdiri di sampingku, wajahnya yang terpahat indah begitu tajam menatap Chloe. “Apa yang sudah ia lakukan hingga kamu memperlakukan anak ini seperti itu?”
Chloe langsung melepas tangannya dan menundukkan kepala singkat dan membalas tatapan hijau yang begitu tajam menatapnya, aku mengelus telingaku yang kembali perih dan mendengus kepada Chloe. Oh Tuhan! Apa tidak ada cadangan telinga yang bisa aku gunakan saat ini? Rasanya sakit sekali telingaku ini.
“Jika anda tidak percaya, silahkan anda pergi ke kamar Putri Harper,” kata Chloe seraya menatapku dari ekor matanya. Aku membuang muka dan menatap pria yang menatapku dalam diam, tatapan hijau itu begitu tajam menatapku.
Tanpa menunggu lama, aku langsung ditarik oleh pria itu menuju kamarku. Oh tidak! Ini berbahaya, dia pasti marah. Marah besar hingga aku tak bisa keluar dari kamar dalam sehari atau seminggu. Perlahan Chloe membukakan pintu kamarku, dia mempersilahkan kami untuk masuk dan menutup pintunya kembali hingga menyisakan aku dengan pria bermata hijau yang masih memegang tanganku.
Mata hijau itu berpendar menatap ke sekeliling kekacauan yang baru saja aku buat, jika ini perbuatannya mungkin bukan tatapan tajam yang sedang terpancar dari mata hijau itu melainkan pandangan puas dan bangga karena berhasil menghancurkannya, bersamaku dan berakhir terlelap tanpa sehelai benang ditubuh kami. Tapi nyatanya yang sekarang ada di hadapannya adalah kekacauan yang aku buat, aku siap menerima hukuman yang akan ia berikan, apapun itu. Meskipun besok pagi, aku akan kesulitan terbangun dari kasurku.
“Aku kira kamu lupa –”
“Apa yang kamu lakukan, Harper?!” dia menyela ucapanku dan mulai menggertakku, tangannya memegang kedua sisi tubuhku. Tatapannya begitu tajam, bagai belati yang siap menusukku hingga kehabisan darah.
Aku tersenyum manis tanpa merasa bersalah dan membalas tatapannya, aku menyentuh pipinya yang tirus dan menatap wajahnya yang tampan disusul salah satu tanganku yang lain mulai menangkup wajahnya dalam tanganku yang kecil. Tak ada raut wajah yang menyenangkan di wajahnya selain kemarahan yang sedang tertahan dalam otaknya, aku menatapnya penuh goda.
“Sekarang yang aku lakukan adalah...” aku mengecup bibir tipis miliknya tanpa diduga olehnya. “Menciummu.”
Dia langsung menghempaskan kedua tanganku, mendorongku dengan kasar hingga aku jatuh di atas kasur. Tatapan hijau itu tidak putus menatapku, tentu saja aku merasa senang karena telah menarik perhatiannya. Tanpa menunggu lama lagi, ia langsung melemparku dan berada di atasku dengan wajah datarnya. Jarinya mengelus rambutku dan diselipkan di belakang telingaku, tatapannya berubah seketika.
Aku langsung menarik wajahnya, mengecup bibirnya yang sering disebut bibir bergetah karena sangat pandai memikat hati. Dia tampak menikmati apa yang aku lakukan pada bibirnya, bahkan dia masih sempat-sempatnya menyeringai ketika aku menarik kepalanya agar semakin mendekat. Hingga aku lelah dan ingin menyudahi ciuman ini, tiba-tiba dia memegang wajahku.
Ini adalah ciuman pertama kami setelah dua tahun menjadi sepasang suami istri, bahkan ini pertama kali setelah pernikahan kami dia menyentuhku. Ini adalah ciuman yang dulu sangat aku inginkan, karena sekarang yang aku inginkan adalah kebebasan. Bebas melakukan apapun pada suamiku yang begitu tertutup tak pernah menyentuhku.
Aku, Harper Stellen Macht. Istri dari Enrique Nicholas Macht yang merupakan seorang bangsawan yang menjadi penerus kerajaan dengan sialnya menikah dengan seorang perempuan murahan. Aku adalah anak dari seorang p*****r yang menjadi jaminan dari wanita yang melanggar peraturan kerajaan, sebuah aib kerajaan yang akan diingat seluruh masyarakat.