“Baju apa yang kamu pakai Putri Harper?” pekikan itu membuatku menoleh, Chloe menatapku tajam.
“Ini gaun yang katamu suruh aku pakai, Chloe,” jawabku santai, aku menatap pantulan tubuhku di kaca. Betapa cantiknya aku memakai gaun merah dengan rambut pirang yang aku gulung hingga menampilkan leher jenjangku, anting bermata merah semakin membuatku tersenyum dan terakhir sarung tangan berwarna merah melapisi tanganku.
“Yang aku lihat, kamu tidak memakai gaun yang aku katakan Harper,” dia membalik tubuhku secara cepat hingga aku menatapnya. “Gaun yang aku bawa kemarin tidak ada belahan hingga menampilkan kaki jenjangmu.”
“Aku yang merobeknya,” jawabku dengan santai, tak perlu menunggu lama Chloe sudah memancarkan laser merah dari matanya seakan-akan bisa membunuhku dalam kedipan matanya yang berwarna cokelat itu.
“Lebih baik kau tidak perlu pergi jika –“
“Kenapa lama sekali?” suara bass itu membuat kami menoleh menatapnya, Chloe menatapku sekali lagi dan mendesah pasrah.
“Lebih baik Putri Harper tidak perlu ikut, Pangeran,” ujar Chloe dengan pelan.
“Kembali ke tempatmu, Chloe.”
Aku menundukkan kepalaku ketika Chloe meninggalkanku, dengan memberanikan diri aku menatapnya dengan polos. Oh kau pintar berakting, Harper!
Mata hijau itu menatapku dari bawah hingga atas, tak ada reaksi selama Enrique menilai penampilanku. Hingga akhirnya mata hijau itu menatapku dengan lurus, tak ada emosi dalam matanya. Sepertinya aku tidak perlu menemani Enrique, karena seketika rasa percaya diriku hilang karena tatapannya.
“Kau ingin bergabung dengan para bangsawan sialan itu?” tanyanya dengan pelan dan serak.
Aku menelan air liurku dengan susah payah, membalas tatapan Enrique dengan penuh percaya diri. “Dengan sialnya aku sudah bergabung menjadi bangsawan sialan karena kamu menikahiku, Pangeran.”
Dia membuang muka dan tak menatapku, aku sering mengatakan pada Enrique tentang bangsawan sialan. Bagaimana bencinya aku pada keturunan yang memiliki darah biru, bagaimana aku mengatai mereka dengan embel-embel sialan di belakangnya dan tentu saja Enrique tidak akan ambil pusing apapun yang aku katakan tapi selalu ia ingat dalam otaknya.
“Kau memang anak wanita itu dan semakin membuatmu terlihat anak jalang, Harper.” Seringai sinis ia tunjukan padaku, aku mengangkat sebelah alisku dengan sinis.
“Dan kamu menikahi anak jalang, sialan!” pekikku dengan kesal, bibir semanis madu itu memang bisa mematikan seperti racun tapi aku menyukainya.
Dia terkekeh yang semakin membuatku curiga, karena sangat jarang Enrique mau mengeluarkan wajah humoris di hadapanku. Biasanya wajah dingin, datar atau emosi ketika berhadapan denganku. Aku yakin, dia sudah diberi ramuan oleh salah satu pelayan dapur yang kasihan karena melihatku yang sengsara sejak menikah dengannya.
“Mulai saat ini, aku tunjukkan bagaimana kehidupanku, Putri Harper.” Aku merinding karena ia berbisik tepat di samping telingaku, aku bisa merasakan gigitan kecil di telingaku yang ia lakukan. Sekujur tubuhku tegang dan tiba-tiba tak bisa bergerak.
(((
Kini kakiku sudah menginjak ruangan luas yang diubah semakin mewah, dengan beberapa lampu menggantung dari kristal lalu beberapa dekorasi yang menakjubkan terlihat tidak seperti acara amal melainkan acara pernikahan seorang kepala tinggi di daerahku dahulu. Beberapa orang mulai menatapku dengan Enrique yang baru saja masuk, mereka menatapku dengan bingung karena di pinggangku melingkar sebuah tangan kokoh yang begitu posesif. Aku menoleh untuk menatap Enrique, tiba-tiba rasa percaya diriku turun sejatuh-jatuhnya karena tatapan bangsawan itu.
“Tenangkan dirimu, Harper, tunjukkan pada mereka jika kau bukan anak jalang yang tidak memiliki tata krama.” Ia berbisik di telingaku, oh kenapa dia selalu berbisik yang selalu berakibat kepada tubuhku yang ingin menjamah tubuhnya sekarang juga.
Aku tersenyum dan menegakkan kepalaku, membuktikan pada bangsawan sialan yang sedang menatapku dengan sinis. Senyum manis dengan mata polos aku tampilkan, aku ingin mereka mengubah cara berpikir mereka yang kolot tentang rakyat jelata. Karena bagaimana pun juga, mereka hanya menikmati harta yang sebagian milik rakat jelata, dan dengan sombongnya mengakui itu miliknya. Enrique berbelok hingga aku ikut berbelok, rangkulan tangannya sama sekali tidak terlepas dari pinggangku.
“Selamat malam, Raja Marques.” Aku menoleh ketika Enrique mengucapkan itu, aku melihat pria yang sudah dipenuhi rambut putih dengan mahkota bertahta emas dan semacamnya bertengger di kepalanya. Aku tersenyum dan membungkukan tubuhku di hadapannya, mengikuti Enrique yang begitu hormat pada ayahnya.
“Kamu sangat cantik, Harper.” Pujinya yang membuatku tersenyum simpul.
“Anda juga terlihat semakin sehat, Raja Marques,” balasku dengan ramah dan sopan, aku akan bertahan hingga akhir acara. Aku janji.
“Sudah berulangkali aku bilang, panggil aku Ayahanda seperti Victoria.”
Aku mengangguk dengan ragu, karena bagaimana juga orang itu adalah raja yang harus dihormati sekalipun aku adalah menantunya. “Baiklah, Ayahanda.”
“Aku dan Harper ingin menyapa beberapa orang, kami permisi.” Enrique membungkukkan tubuhnya, dengan ragu aku mengikutinya yang kembali merangkul pinggangku.
Entah dibawa ke mana, sekarang aku berada di tengah-tengah sekelompok bangsawan yang sedang meminum red wine dengan gelas berleher tinggi di tangan mereka. Aku menatap dua pasangan di hadapanku, dua wanita itu terlihat akrab dan mulai membicarakan barang-barang branded yang siap meluncur bulan ini, sedangkan pasangannya sedang mengobrol asik dengan Enrique.
Perlahan aku menenggak minumanku, aku harus melakukannya dengan manis dan elegan seperti yang diajarkan Chloe sejak dulu. Rasanya begitu enak dan sedikit panas ketika masuk dalam tenggorokkanku, aku mengerutkan dahi ketika merasakan rasa aneh lagi. Sangat enak dan nagih. Aku sia mengambil cemilan namun tiba-tiba tarikan di pinggangku membuatku terkejut, kedua tanganku berada di dadanya yang bidang, tatapan hijau itu tak terbaca. Aku langsung berdiri tegak dan tersenyum padanya, ia tidak langsung membalas senyumanku dan menatap teman-temannya.
“Jadi dia yang sudah menjadi pilihan terakhirmu, Nicho?” tanya seorang pria berwajah Amerika Latin, dengan senyum menggoda Enrique. Aku baru tahu jika Enrique dipanggil Nicho oleh teman-temannya.
“Bagaimana bisa kamu mendapatkan wanita cantik dan sexy ini di saat kamu sibuk bersama dokumen kerajaan?” tanya salah satunya yang memiliki wajah Asia dengan matanya yang sipit.
“Kenalkan, dia Harper, istriku,” ujarnya yang membuatku menatapnya penuh kaget. “Mereka temanku semasa kami kuliah.”
“William Arthur.”
“Aaron Louis.”
“Harper Stellan.” Secara bergantian kami menjabat tangan.
Aku melirik sekilas ke arah Enrique yang memandang ke arah salah satu perempuan yang tadi kulihat dan kudengar membicarakan barang branded, tatapan Enrique aku yakin sedang murung dan mengatup rahangnya. Aku tidak mengerti mengapa tatapannya seperti itu, aku seperti melihat tatapan sakit hati yang dilayangkan mata hijau itu pada perempuan bangsawan itu.
“Bagaimana Enrique, Harper?” aku menoleh dan tersenyum bingung menatap Aaron, bagaimana apanya? Lihat saja sendiri, dia masih berdiri di hadapanmu. Jika Enrique sedang menatap perempuan lain di depan mataku dan mengabaikan aku yang sudah cantik menjadi perhatian para bangsawan.
“Apa dia mengurungmu selama seminggu?” senyum jahil terukir di wajah William yang tampan, tentu saja kalah tampan dengan Enrique, suamiku. Tapi sepertinya aku tahu maksud pertanyaan mereka berdua, mereka begitu penasaran dengan Enrique dan tentu saja malam pertama kami.
Aku menyeringai. “Apa setiap pria selalu mengurung istrinya selama seminggu jika dua hari saja kami terus melakukannya?” tanyaku dengan santai dan tersenyum simpul, aku bisa merasakan tatapan Enrique kepadaku.
“Tidak berhenti?” tanya William dengan mata terkejut.
Aku mengangguk yakin dan mendekatkan wajahku kepada mereka. “Tidak berhenti sama sekali,” bisikku dengan penekanan di setiap kata hingga mereka tertawa, mereka menatapku bergantian dengan Enrique. Wajah penuh puas terukir di wajahku, aku menenggak sekali lagi red wine dalam genggamanku mengabaikan tatapan Enrique yang penasaran.
“Apa yang sudah kau katakan kepada mereka, Harper?” bisiknya di belakang tubuhku.
“Tapi kenapa kalian belum memiliki anak?” tanya seorang perempuan yang kini ikut bergabung pada kami, mereka kembali pada William dan Aaron dalam rangkulan pinggang penuh muslihat dari wajah pria itu.
Aku menarik lengan Enrique dan menatapnya dengan senang, perempuan yang sejak tadi di pandang Enrique akhirnya bergabung dan terpancing olehku. “Karena kami ingin menikmati masa berdua kami, aku yang menolak Enrique untuk program kehamilan. Karena aku yakin, kami masih membutuhkan waktu berdua dengan bermanja di ranjang.”
Sial! Aku sudah melanggar peraturan kerajaan untuk tidak memamerkan aktivitas kehidupan rumah tangga apalagi aktivitas yang hanya ada dalam mimpiku itu. Aku meringis sakit karena nyatanya, Enrique tidak pernah menyuruhku untuk hamil apalagi menyentuhku. Tapi ini demi pernikahanku, demi menjaga Enrique yang akan semakin dipandang rendah oleh bangsawan sialan itu.
“Kau harus melahirkan karena bagaimanapun juga akan keluar penerus tahta kerajaan keluarga Enrique,” dia terus menuntuku, hei siapa dia yang berani mengatur hidupku? Cukup Enrique dengan peraturan kerajaan saja yang bisa mengaturku.
“Aku masih dua puluh tahun, dan menopause tidak akan secepat itu mendatangiku.”
“Kalau kau mandul gimana?”
Aku menatapnya tajam, mulut para bangsawan sialan ini memang perlu aku sumpal dengan kotoran babi. Bahkan rakyat jelata tidak pernah mengatakan itu pada setiap perempuan, jadi sebenarnya yang bangsawan itu rakya jelata atau mereka berpura-pura bangsawan? Ketika aku siap menghabisi kedua perempuan itu, tiba-tiba Enrique menarik pinggangku dan menatap salah satu perempuan yang padahal sejak tadi ia tatapan dengan kesedihan.
“Kalian lebih rendah dari wanita mandul dengan ucapan kalian,” ujar Enrique dengan tegas. “Dan istriku ini sehat dan siap untuk aku buahi setiap detik, atau jika kalian penasaran, kalian bisa bawa istriku ini ke dokter terbaik di dunia untuk memeriksa bagaimana rahimnya.”
Setelah mengucapkan itu, Enrique menarikku pergi meninggalkan mereka. Aku hanya mengikuti langkahnya dengan bingung, karena jujur saja aku cukup terkejut dengan jawabannya yang di luar bayanganku. Enrique mengajakku keluar dari acara tersebut, kami berdiri dalam diam menunggu mobil yang sedang di ambil oleh petugas.
Mobil hitam dengan atap terbuka berhenti di hadapan kamu, Enrique langsung masuk ke dalam mobil tanpa membukakkan pintu untukku yang malah dibukakan oleh petugas yang tersenyum menatapku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa pada Enrique, dia hanya diam dengan mengatup rahangnya.
“Kenapa kamu membelaku?” tanyaku membuka suara, memecahkan keheningan yang ada.
Enrique menoleh menatapku dengan santai. “Karena mereka bangsawan sialan.”