Aku terbangun ketika matahari mulai menyinari tubuhku, tanganku meraba di sisi tubuhku mencari keberadaan Enrique yang semalam tertidur dan aku memeluknya. Tapi ketika tanganku tidak merasakan apapun nyawaku langsung terkumpul dan terbelalak kaget, sisi tempat tidur itu terlihat sangat rapi seakan tidak ada yang menempatinya. Padahal aku yakin, jika semalam aku melihat Enrique masuk dengan piyama berwarna abu-abu dan tertidur di kamarku karena pendingin ruangannya rusak. Aku bangkit dari kasur, tak peduli dengan pakaianku yang hanya memakai lingerie berwarna putih dari bahan satin keluar dari kamar.
“Kamu mau ke mana, Harper?” pertanyaan itu sontak membuatku menoleh, di sana aku melihat Chloe membawa bertumpuk pakaian dengan raut wajah bingung menatapku.
Aku menghampirinya dengan cepat, mungkin Chloe tahu. “Apa semalam aku tidur sendiri?”
Kedua alis Chloe menyatu, kedua matanya menyipit. “Iya, kamu selalu tidur sendiri.”
Aku menggeleng cepat, karena jelas-jelas semalam Enrique tertidur di kamarku. “Tidak, Chloe. Semalam Enrique tidur bersamaku, dia berada di sampingku.”
“Dan pagi ini kamu melihat dia di sampingmu tidak?” tanya Chloe yang membuatku merengut dengan kenyataan jika Enrique tidak berada di sampingku lagi. Aku tidak percaya, aku yakin jika Enrique keluar lebih dulu sebelum aku bangun dan sekarang ia sudah pergi bekerja.
Langkahku dengan cepat menuju kamar Enrique yang berada di sayap kiri rumah, aku mengabaikan teriakan Chloe yang mengutukku karena berlarian dengan menggunakan pakaian setipis ini di lorong istana. Aku ingin mendapatkan jawaban, aku ingin melihat jika Enrique tidak ada di kamarnya. Tatapan para penjaga begitu bingung menatapku, bahkan beberapa pelayan berhenti sejenak dari pekerjaan mereka untuk menatapku.
Aku sama sekali tidak peduli. Tapi langkahku berhenti ketika kamar Enrique berada tiga langkah dariku, aku mulai mengatur nafasku yang tak beraturan, merapalkan doa agar harapanku jika Enrique tidak ada di kamar terkabul. Penjaga yang berdiri di sisi pintu Enrique menatapku bingung, aku menatapnya tajam agar tidak menatapku seperti pria b******k yang melihat wanita telanjang. Bagaimanapun juga, aku ini istri dari Pangeran Enrique yang belum dijamah oleh pemiliknya.
“Ada apa Putri Harper ke sini?” tanyanya tanpa menoleh kepadaku.
“Cepat buka pintu ini, aku ingin melihat suamiku!” perintahku dengan kesal karena setiap pintu selalu berat jika aku buka, terutama pintu kamar Enrique yang mungkin berlapis-lapis keamanannya. Dengan patuh, penjaga itu membukakan pintu untukku.
Kamar bernuansa mewah dengan lantai marmer yang aku injak terasa dingin, kamar itu terbagi menjadi dua. Satu dikhususkan untuk bersantai dan segala macam keperluan Enrique dan kamar setelahnya khusus tempat Enrique beristirahat. Perlahan aku membuka pintu tempat peristirahatan Enrique yang begitu maskulin, tak ada bau-bau kerajaan seperti kamar yang aku gunakan, semua terlihat begitu modern dan stylist. Aku menoleh dan melihat ranjang yang ukurannya lebih besar dari kamarku, langkahku langsung mendekat.
Di sana Enrique tertidur pulas tanpa menggunakan kaus, dadanya yang bidang dengan ditumbuhi bulu-bulu kecil begitu menggoda di mataku. Pendingin ruangannya berfungsi dengan baik hingga menyejukkan kamar Enrique, seketika rasa kesalnya menghilang hanya melihat wajah Enrique yang tertidur lelap bagai bayi tak berdosa. Aku menghampirinya, menikmati pemandangan dunia yang tak pernah aku lihat. Ya, hanya dia pemandangan dunia yang pernah aku lihat.
Tanganku perlahan menyusuri tulang wajahnya, lalu menyentuh rambut tembaganya yang begitu lembut dan ringan di tanganku, hidungnya yang begitu mancung dan bibirnya yang sexy. Ciptaan Tuhan yang tidak boleh diingkari, Enrique Nicholas Macht yang begitu sempurna bak dewa yunani yang kembali lahir. Aku menatapnya dengan tersenyum jahil, jariku semakin turun hingga menyentuh dadanya yang bergerak teratur, detak jantungnya yang stabil hingga tanganku terun tepat di perutnya yang six pack. Oh Tuhan! Dia malaikat yang turun dari surga.
Semakin turun hingga tanganku hampir menyentuh miliknya yang selalu aku inginkan, bahkan melihatnya marah selalu berhasil meningkatkan gairahku. Namun tiba-tiba tanganku terhempas, aku menoleh dan melihat mata hijau itu menatapku dengan tajam. Aku tersenyum tanpa dosa, seakan aku tidak melakukan apa pun pada tubuhnya yang sejak tadi aku nikmati sebagai sarapan yang begitu lezat. Ah... bahkan aku melupakan kekesalan karena bermimpi jika Enrique tidur di sampingku semalam, mimpi sialan yang membuatku beruntung pagi ini.
“Apa yang kamu lakukan, Harper?” oh aku bosan dengan pertanyaan itu, setiap orang selalu bertanya apa yang aku lakukan. Sebenarnya mereka ingin tahu atau hanya sekedar iseng?
“Memandang sarapanku pagi ini,” jawabku dengan santai, mataku melirik ke miliknya tanpa merasa canggung. Tak perlu kuingatkan lagi bukan?
Dia bangkit dari tidurnya, lalu menatapku dengan tajam. Mata hijau itu memandangku dari atas hingga bawah, aku hanya menggerakkan tubuhku dengan pelan dan memandang kelain arah, kedua tanganku berpegangan di balik tubuh. Aku tidak yakin, setelah ini aku mendarat di tempat tidurnya yang nyaman itu.
“Kau keluar dari kamarmu dengan memakai pakaian seperti ini?” tanyanya dengan dingin, ia berdecak jijik.
Aku mengangguk. “Iya, karena semalam aku ingat kamu tidur di sampingku karena pendingin di kamarmu rusak.”
Dia berdiri menjulang di depanku, kepalanya menunduk. “Dan kamu lihat aku ada di sini terbangun karena tindakanmu,” jawabnya dengan berbisik.
“Tindakanku yang mana?” tanyaku dengan mataku yang memandangnya polos.
Tiba-tiba dia memegang kedua sisi tubuhku dengan cengkaraman yang kuat, mendorongku untuk duduk di pinggir ranjangnya hingga mataku tepat di dadanya yang bidang. Dengan cepat daguku diangkat olehnya, ia menatapku dengan tajam. Meskipun matanya mengeluarkan laser yang bisa meleburkanku, tetap aku tersenyum dan merasa tidak salah dengan tindakanku.
“Bahkan kamu tidak memakai bra, Harper.” Aku melenguh ketika tangannya meremas dadaku sebelah kanan, namun matanya itu tetap memandangku tanpa ekspresi.
Oh sepertinya dia mulai berani menyentuhku, baiklah Pangeran Enrique yang tak berperi kewanitaan akan aku buat kamu memohon padaku. “Dan masalah buat kamu apa?”
Dia berdecak kesal dan membuang mukanya, aku menyeringai karena melihat kelakuannya yang begitu lucu. “Masalahnya? Banyak penjaga laki-laki yang melihatmu berlari tanpa pakaian.”
“Aku memakai ini kok,” jawabku menyentuh pakaian tidurku.
Pandangannya begitu meremehkanku. “Purcuma saja kau dididik dan besar di asrama, nyatanya kau tetap memiliki darah jalang di tubuhmu.”
Ugh! Bibir bergetah itu selalu memikat hatiku, aku suka jika bibir itu mulai merendahkanku. Karena aku akan buktikan, jika aku tidak serendah pikirannya. Aku lebih dari jalan, Enrique!
“Jika aku jalang, kenapa kamu tidak meniduriku sejak kita menikah, ha? Kenapa kamu menikahiku, padahal di luar sana banyak perempuan baik dan berkepribadian santun ingin kau menikahinya?” aku berteriak di depan wajahnya.
Dia menatapku tajam, selalu seperti itu jika aku marah di depannya, seakan-akan aku akan terintimidasi dan mengalah untuknya. “Karena kau aib yang membuat Queen Elle murka!”
Aku mendengus, tertawa sinis. “Dari seribu alasan yang kamu miliki, kamu selalu bilang jika aku aib untuk kerajaanmu. Serendah itu kamu memandangku, asal kamu tahu ya Pangeran Enrique...” aku menangkup wajahnya agar menatapku. “Kamu tanpa rakyat sepertiku, tidak akan menjadi raja atau pangeran. Kita itu saling membutuhkan, raja butuh rakyat dan rakyat butuh raja. Sama seperti kamu.”
Tanpa menunggu lama, aku langsung beranjak dari hadapannya. Membungkukkan tubuhku untuk sedikit sopan pada Pangeran Enrique yang terhormat. Namun tiba-tiba, tanganku dicekal hingga aku berada dalam pelukkannya. Hidungku mencium aroma maskulin yang memabukkan dari tubuh Enrique, aku tidak yakin ini nyata atau hanya imajinasiku yang akhir-akhir ini terlalu liar. Tapi aku merasakan jika tangannya meremas bokongku, aku mendengus karena dia tidak pernah lembut.
“Mulutmu semakin tajam, Harper. Dan kau selalu membuatku marah,” bisiknya dengan begitu pelan.