Dua tahun.
Bukan waktu yang panjang untuk menyembuhkan luka, tetapi cukup panjang untuk membuat seseorang pandai berpura-pura.
Elara Soebagio Matthews menatap layar monitornya dengan mata yang mulai perih. Pukul delapan malam. Lantai sebelas gedung kantornya sudah lengang. Yang tersisa hanya dengung pendingin ruangan dan satu lampu meja yang menyala di ruangannya. Deretan angka di spreadsheet itu sudah ia cocokkan tiga kali. Tetap saja ia mencocokkannya untuk yang keempat kali.
Bukan karena angkanya salah. Elara hanya belum ingin pulang.
Dua tahun lalu ia meninggalkan kantor lamanya dengan surat pengunduran diri yang ia ketik sendiri dalam keadaan jemari gemetar. Promosi yang dijanjikan atasannya batal begitu saja. Bukan karena kinerjanya jelek, melainkan karena selama tiga bulan berturut-turut ia datang ke kantor dengan mata sembap, salah memasukkan data, dan sekali waktu menangis di toilet sampai ketahuan office girl. Kabar tentang calon suaminya yang menghamili kakak kandungnya sendiri menyebar sampai ke pantry. Orang-orang berhenti bicara setiap kali ia lewat, lalu melanjutkan bisik-bisik begitu punggungnya membelakangi mereka.
Elara memilih pergi sebelum namanya benar-benar habis di sana.
Hampir setahun berikutnya ia menganggur. Ia membaca buku-buku tentang inner child, mengikuti kelas menggambar yang tak pernah ia tuntaskan, dan mendengarkan podcast tentang cara memaafkan yang tak satu pun berhasil. Baru setelah itu ia melamar kerja lagi, lalu diterima sebagai tax manager di sebuah perusahaan multinasional. Jabatan yang menurut hitungan teman-teman seangkatannya sudah terlambat beberapa tahun.
Elara tidak peduli. Baginya, pekerjaan adalah satu-satunya hal di dunia ini yang membalas persis sebesar apa yang ia berikan. Tidak seperti orang.
Ia punya aturan-aturan kecil yang tidak pernah ia tuliskan di mana pun, tetapi ia patuhi lebih tertib daripada peraturan perusahaan. Tidak pulang sebelum pukul delapan. Tidak membuka media sosial di luar keperluan kerja. Tidak menyimpan nomor laki-laki mana pun kecuali urusan kantor dan satu nomor adiknya. Tidak menonton film yang ada adegan lamarannya.
Aturan terakhir itu yang paling sering ia langgar. Dan setiap kali dilanggar, hasilnya selalu sama: ia bangun keesokan paginya dengan sarung bantal yang lembap dan mata yang harus dikompres sendok dingin sebelum berangkat kerja.
Ponsel di samping keyboard-nya bergetar. Layarnya menyala. Mama.
Elara mengembuskan napas panjang sebelum menggeser tombol hijau. "Iya, Ma."
"Kamu di mana?"
"Kantor."
"Jam segini masih di kantor?" Suara Mama meninggi. "Kamu itu perempuan, El. Kalau ada apa-apa di jalan gimana?"
"Ada satpam, ada CCTV, ada Google Maps, Ma."
"Ngeyel." Terdengar helaan napas di seberang sana. "Sabtu besok kamu pulang."
Elara berhenti mengetik. "Ada apa?"
"Papa mau ketemu kamu. Sekalian barang-barang kamu yang masih numpuk di kamar itu dibereskan. Mama capek ngeliatnya."
"Kirim pakai ekspedisi aja, Ma. Ongkirnya aku yang bayar."
"Elara." Nada itu berubah. Nada yang sejak kecil ia tahu artinya tidak ada ruang untuk menawar. "Dua tahun kamu nggak menginjak rumah ini. Tante-tantemu nanya terus kamu ke mana. Mama capek bikin alasan."
Elara memijat pangkal hidungnya. Di kaca jendela, wajahnya sendiri memantul samar, bertumpuk dengan lampu-lampu jalan di bawah sana.
"Sabtu, ya," pungkas Mama tanpa menunggu jawaban. "Pagi. Jangan siang-siang."
Sambungan diputus. Elara menatap layar ponselnya yang meredup, lalu meletakkannya telungkup di atas meja.
Dasar nggak sopan. Ternyata Arby menurun dari siapa, ia jadi tahu.
***
Rumah kontrakan Elara berada di sebuah gang di daerah Tebet. Dua kamar, satu kamar mandi, dan dapur yang lebih pantas disebut lorong. Cat temboknya sudah mengelupas di beberapa titik dan pemiliknya tidak berniat memperbaiki. Elara pun tidak menuntut. Sewanya murah, itu yang penting.
Bukan karena ia tidak mampu menyewa apartemen bulanan. Gajinya cukup. Elara hanya sedang berhemat, menumpuk angka di tabungan dan portofolio investasinya sedikit demi sedikit, supaya suatu hari nanti ia bisa hidup tanpa perlu meminta pada siapa pun. Termasuk pada ayahnya.
Terutama pada ayahnya.
Belum sempat ia melepas sepatu, pintu depan diketuk dengan gaya yang cuma dimiliki satu orang di dunia ini. Tiga kali cepat, lalu satu kali keras.
"Mbak! Buka! Martabaknya keburu dingin!"
Elara membuka pintu. Arby berdiri di sana dengan helm terselip di ketiak dan kantong plastik berminyak di tangan kanan. Adiknya itu langsung menerobos masuk tanpa dipersilakan, meletakkan kotak martabak di meja, kemudian menjatuhkan diri di sofa butut satu-satunya.
"Manis apa telur?" tanya Elara.
"Dua-duanya. Aku ini adik yang baik."
"Kamu ini adik yang boros."
Arby nyengir sambil membuka kotaknya. Uap hangat mengepul. "Mbak udah ditelepon Mama?"
"Baru tadi." Elara menyeret kursi plastik dan duduk berhadapan dengan adiknya. "Kamu tahu Papa mau ngomong apa?"
Kunyahan Arby melambat. Itu saja sudah cukup menjadi jawaban.
"By."
"Aku nggak dengar detailnya," kata Arby akhirnya. Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Tapi Sabtu Tira ke rumah. Bawa anaknya."
Sesuatu di dalam dada Elara mengencang, seperti ada tangan yang meremas dari dalam. Ia menunduk, memandangi potongan martabak di depannya yang mendadak kehilangan seluruh aromanya.
Anak itu lahir empat belas bulan lalu. Elara tahu tanggalnya karena Arby keceplosan, bukan karena ada yang memberitahunya secara resmi. Ia juga tidak datang di pernikahan mereka. Undangannya dikirim ke kontrakan, dicetak di atas kertas tebal warna gading, dengan nama Tira dan Beno berdampingan dalam huruf sambung keemasan. Elara membukanya, membacanya sampai habis, lalu memasukkannya ke tempat sampah dapur bersama kulit bawang dan bungkus mi instan. Malam itu ia tidak menangis sama sekali. Justru itu yang membuatnya takut pada dirinya sendiri.
"Mbak nggak usah datang," lanjut Arby cepat. "Biar aku yang bilang ke Mama. Aku bilang aja Mbak ada kerjaan kantor."
"Sabtu, By. Nggak ada orang kerja Sabtu."
"Ya, dibilang lembur. Emangnya Mama ngerti?"
Elara tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kamu jangan bohong terus buat aku."
"Aku bohong buat Mbak dari kelas tiga SD," balas Arby enteng. "Waktu Mbak mecahin vas kesayangan Mama dan aku yang kena cubit. Sekarang baru mau protes?"
Tawa kecil lolos dari mulut Elara. Untuk sesaat rumah petak itu terasa lebih hangat.
Hanya untuk sesaat.
"Aku datang," kata Elara kemudian.
Arby berhenti mengunyah. "Ngapain?"
"Ambil barang-barangku. Terus pulang."
"Mbak—"
"Aku bukan mau ketemu dia, By." Elara menatap adiknya lurus-lurus. "Aku cuma nggak mau kelihatan lari."
Arby memandanginya lama, lalu mengembuskan napas dan menyandarkan punggung ke sofa. Adiknya itu tidak lagi meledak-ledak seperti dua tahun lalu. Kemarahannya sudah berganti bentuk, mengendap menjadi sesuatu yang lebih dingin dan lebih sabar. Elara tidak yakin itu perkembangan yang bagus.
"Ya udah," gumam Arby. "Tapi aku ikut. Kalau Mbak mau pulang, tinggal kedip. Aku yang bikin ribut."
"Jangan bikin ribut."
"Aku bikin ribut yang sopan."
***
Sabtu pagi rumah itu tampak persis seperti dua tahun lalu. Pagar putih yang catnya baru diulang, pot-pot kamboja Mama yang berjajar rapi, dan bau kayu manis dari arah dapur yang selalu berhasil membuat Elara merasa berumur delapan tahun kembali.
Elara memarkir mobilnya di jalan, bukan di halaman. Ia sendiri tidak tahu kenapa.
"Ya ampun, kurusan kamu." Mama menyambutnya di ruang tamu, meraba lengan Elara seperti sedang menilai dagangan. "Kamu makan, nggak, sih, di kontrakan itu?"
"Makan, Ma."
"Duduk dulu. Mama bikinin teh."
"Aku langsung ke kamar aja—"
"Duduk, El."
Elara duduk. Di sofa yang sama. Menghadap arah yang sama. Dan tubuhnya, tanpa diminta, mengingat semuanya.
Mama kembali membawa nampan, tetapi bukan hanya teh yang dibawanya. Ada map plastik bening terselip di bawah cangkir. Elara sudah bisa menebak isinya bahkan sebelum map itu diletakkan.
"Ma, jangan."
"Kamu lihat dulu." Mama mengeluarkan tiga lembar kertas dan menyusunnya di meja seperti kartu remi. "Ini anaknya teman arisan Mama. Notaris. Rumahnya di Bintaro. Yang ini kerja di bank, dua tahun lebih tua dari kamu. Yang ini—"
"Ma."
"—yang ini duda, tapi anaknya cuma satu dan ikut ibunya."
"Mama." Elara meletakkan cangkirnya. "Aku nggak mau nikah."
"Umur kamu itu sudah kepala tiga, El."
"Terus?"
"Terus?" Mama mengulang dengan nada tak percaya. "Kamu mau tua sendirian di kontrakan itu?"
"Lebih baik tua sendirian daripada tua sama orang yang bikin aku pengin mati."
Wajah Mama memucat. Elara langsung menyesal, tetapi ia tidak menariknya kembali. Ia sudah terlalu lelah menelan hal-hal yang seharusnya keluar.
"Mama cuma nggak mau kamu sendirian," kata Mama pelan setelah lama terdiam. "Kamu pikir Mama nggak sakit lihat kalian jadi begini? Mama punya tiga anak, El. Tiga. Tapi kalau kalian dikumpulkan di satu ruangan, Mama malah nggak bisa napas."
Elara memandangi permukaan tehnya yang sudah tidak beruap lagi. Ia tidak punya jawaban yang tidak akan melukai siapa-siapa, jadi ia memilih diam.
Suara pagar yang digeser terdengar dari luar. Lalu roda stroller yang berderak di paving. Lalu suara perempuan yang tertawa kecil, suara yang selama dua tahun ini hanya muncul di dalam mimpi buruknya.
Elara berdiri terlalu cepat sampai teh di cangkirnya beriak.
"El," panggil Mama.
"Aku ke kamar."
Ia sudah setengah jalan menuju lorong ketika pintu terbuka. Elara tidak menoleh. Ia tahu betul apa yang akan dilihatnya kalau menoleh, dan ia tahu betul apa yang akan dilakukan tangannya.
"Wah, ada tamu, ya?" Suara Tira mengalun ringan, sengaja dibuat ringan. "Mobil siapa itu di depan?"
Elara menghentikan langkahnya. Satu detik. Dua detik.
Lalu ia berbalik.
Tira berdiri di ambang pintu dengan anaknya di gendongan. Perempuan itu lebih berisi sekarang. Rambutnya dipotong sebahu. Dan seringai itu, seringai yang sama, hanya disamarkan sedikit lebih rapi oleh riasan yang lebih mahal.
"Mobilku," jawab Elara datar.
"Oh." Tira memiringkan kepala. "Kupikir kamu masih naik ojek online."
"Kupikir kamu masih bisa malu."
Hening. Di belakangnya, Elara mendengar Mama menahan napas.
Kemudian Tira tertawa pelan, memindahkan anaknya ke pinggul sebelah, dan berjalan masuk melewati Elara begitu saja, seolah adiknya itu tak lebih dari perabot yang menghalangi jalan.
"Beno lagi parkir," kata Tira pada Mama, riang. "Ma, nanti sekalian bahas syukuran bulan depan, ya."
Elara masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu berdiri diam menghadap tembok sampai jemarinya berhenti gemetar.
Kamar itu tidak berubah sedikit pun. Sprei bermotif daun yang dipilihnya waktu kuliah, meja belajar yang catnya sudah kusam, dan lemari yang pintunya harus diangkat sedikit kalau mau ditutup rapat. Di kolong tempat tidur ada satu kardus yang tidak berani ia sentuh selama dua tahun.
Elara menariknya keluar. Di dalamnya ada map berisi kuitansi wedding organizer, contoh undangan yang belum sempat dicetak, dan kotak beludru kecil berisi sepasang cincin yang tidak pernah dipakai siapa pun.
Ia menutup kardus itu kembali, menyorongkannya ke sudut, lalu mengemasi barang-barangnya yang lain ke dalam dua kardus kosong yang dibawanya dari kontrakan. Kardus yang satu itu ia tinggalkan di sana. Bukan karena ia belum sanggup membuangnya, dalihnya pada diri sendiri, melainkan karena bagasi mobilnya tidak muat.
Setengah jam kemudian ia keluar sambil memeluk dua kardus. Papa berdiri di ruang tengah, baru pulang entah dari mana, masih menggenggam gulungan berkas proyek rumah sakit yang sedang dikerjakan perusahaannya. Lelaki itu membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu.
"Aku buru-buru, Pa," potong Elara.
Papa mengatupkan mulutnya kembali.
Arby menyusul sampai ke mobil, membantu memasukkan kardus ke bagasi. "Mbak nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa."
"Mbak bohong."
"Iya," aku Elara sambil membanting pintu bagasi. "Aku bohong."
***
Di dalam mobil, Elara duduk cukup lama tanpa menyalakan mesin. Jalanan kompleks sepi. Seorang bapak mencuci motor di depan rumah nomor dua belas. Semuanya normal. Hanya isi kepalanya yang tidak.
Ia meraih ponsel, lalu menekan satu nama.
"Halo, Cantik!" sahut Nita di seberang, berisik oleh suara televisi.
"Nit, rumah lo masih ada kamar kosong?"
"Ada. Kenapa? Digusur?"
"Gue mau numpang nginep. Semalam aja."
Terdengar suara Nita mengecilkan volume televisi. Ketika ia bicara lagi, nadanya sudah berubah. "Abis dari rumah bokap lo, ya?"
Elara tidak menjawab.
"Ke sini," kata Nita. "Sekarang. Gue masakin. Cibubur macet dikit, sabar aja."
Elara menyalakan mesin. Di kaca spion, rumah berpagar putih itu mengecil pelan-pelan, lalu hilang di tikungan.
Ia sudah lama berhenti menyebut tempat itu rumah.