~ Sebelum Kejadian di Bar ~
•
•
•
Langkah kakiku memecah kesunyian pagi, beriringan dengan desingan angin yang menerpa wajah. Matahari mulai merangkak naik, memancarkan sinarnya yang hangat. Tak ingin terlambat, karena dosen pagi ini killer yang terkenal dengan kedisiplinannya, aku pun mempercepat langkah.
Ryan Pratama, begitulah namaku. Lelaki berkulit sawo matang dengan tinggi 178 cm, yang katanya sih cukup tampan. Jiwa petualangku tak pernah puas hanya terkurung dalam empat dinding kamar. Aku lebih memilih menjelajahi keindahan alam Indonesia, mengabadikan setiap momen magis dalam lensa kameraku.
Sayangnya, impianku ini seringkali berbenturan dengan harapan orangtuaku yang menginginkan aku memiliki pekerjaan yang stabil. Di usia 21 tahun, aku akhirnya memutuskan untuk berkuliah, lebih tepatnya 'dipaksa' oleh orangtua. Meski begitu, aku penasaran apa yang akan kuterima di dunia perkuliahan ini.
Tahun ini, aku berusia 23 tahun dan masih menempuh semester 5 perkuliahan. Sambil melirik jam tangan di pergelangan kiri, aku menghela napas lega karena belum terlambat. Setelah itu, aku mengintip dari pintu kelas untuk memastikan dosen belum datang. Karena ruangan masih kosong, aku pun masuk dan mencari tempat duduk.
"Ryan!" sapa Rusman sambil melambai dari pojok belakang kelas. "Kok hari ini lo dateng lebih awal?."
Aku menuju ke arah Rusman yang sudah asyik bersandar di kursi belakang dekat jendela. Kursi kosong di sebelahnya langsung kududuki. Meskipun ada beberapa kursi kosong di depan, sebenarnya aku lebih suka duduk di tengah. Toh, duduk di depan atau belakang itu seperti 'zona merah' bagi dosen. Pasti jadi sasaran empuk kalau disuruh menjawab pertanyaan.
Pertama kalinya, aku memberanikan diri duduk di belakang. Deg-degan juga sih, takut ada apa-apa. 'Semoga hari ini lancar,' gumamku dalam hati. "Nggak mau gue ribut sama dosen tua itu."
Perkenalan dengan Rusman terjadi saat dia mengulang mata kuliah, dimana aku masih duduk di semester dua. Sejak saat itu, kami sering bertemu di kelas, terutama pada mata kuliah yang harus dia ulang. Sistem pengulangan mata kuliah di kampus kami memang cukup unik, banyak mahasiswa tingkat atas yang masih mengambil mata kuliah tingkat bawah untuk memperbaiki nilai perkuliahan.
Dengan tatapan tajam, Rusman menudingku. "Awas lo ya, kalau ngomong sembarangan. Ntar jodoh lo jadi nenek-nenek!" ancamnya sambil tertawa.
"Males banget!" gumamku sambil mengeluarkan buku dan pena dari tas. "Lo lupa, kan? Gue pernah dipermaluin habis-habisan sama si dosen itu. Baru telat dikit aja, dia udah ngomel kayak kebakaran jenggot. Kalau sampai gue enggak masuk, bisa-bisa dia seumur hidup ngingetin gue terus kangen sama gue."
Keringat menetes di dahi Rusman saat ia menunjuk-nunjuk layar ponselnya dihadapanku "ngaca, Ry! Udah punya suami Dr. Anita, masih aja berani-berani lo pede gila." Nada suaranya meninggi, "Bu Anita pasti jijik sama lo yang masih bau kencur."
Aku menepis tangannya kasar. "Tenang aja, kalau gue goda Bu Anita, dia pasti klepek-klepek," tantangku, senyum merekah di wajah. Namun, tatapan tajam Rusman membuat jiwa usilku muncul. "Bagaimana kalau lo juga gue goda? Pasti lo langsung nyerah," lanjutku, sengaja memancing amarahnya. Ekspresi jijik tergambar jelas di wajahnya, membuatku tertawa terbahak-bahak.
Seketika, kelas yang tadinya riuh berubah menjadi sunyi senyap. Langkah kaki tegas mendekat, menandakan kehadiran sang dosen. Para anggota kelompok presentasi tampak tegang, menunggu kedatangan dosen. Aku, yang tak perlu khawatir, justru merasa tenang. Namun, jika giliranku yang maju presentasi, mungkin ceritanya akan berbeda.
"Selamat pagi, semua," sapa Bu Anita, memecah keheningan.
Suara 'selamat pagi, Bu' memenuhi ruangan. Bu Anita tersenyum, "Hari ini kita akan membahas materi yang sangat menarik. Kelompok mana yang sudah siap untuk berbagi hasil diskusinya?" Suasana kelas seketika menjadi tegang, namun dipenuhi rasa antusias.
Bu Anita, sang mentor kewirausahaan di semester lima, dengan tegas memimpin jalannya perkuliahan. Saat ini, giliran kelompok enam yang unjuk gigi. Kelompokku sudah lebih dulu beraksi tiga minggu lalu. Jujur saja, presentasi di awal semester punya sensasi tersendiri. Saat itu, pikiran mahasiswa masih segar dan kritisme belum terlalu tajam. Tapi, begitu mendekati akhir semester, suasana berubah. Mahasiswa seperti berlomba-lomba mencari celah untuk meningkatkan nilai, dan pertanyaan-pertanyaan kritis pun bermunculan bak jamur di musim hujan.
Aku menoleh ke samping, berusaha menjaga suara agar tetap pelan. "Rus, fokus. Nanti kalau Bu Anita notice, kita bisa kena omel."
Rusman mengangguk, tapi matanya masih melirik ke arah Bu Anita. "Iya, Ry, tapi kan dia cantik banget, lihat noh mata Bu Anita kayak radar gitu, nyari mangsa."
"Siap-siap aja lo. Siapa tahu lo yang kena sasaran pertama."
"Pale lo, Ry!" cibirnya. Dia melotot, "jangan ngedoa yang aneh-aneh, ntar kejadian beneran."
Aku mengangkat tangan, "bercanda -" belum selesai aku bicara, suara Bu Anita langsung menggema di ruangan.
"Baju biru yang duduk di belakang, nomor dua pojok kanan, siapa nama kamu?" Suara Bu Anita memecah keheningan kelas. Jantungku berdetak kencang. Tapi, deskripsi Bu Anita itu... kok kayak aku banget?. Aku menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang memiliki ciri-ciri yang sama denganku.
"Saya, Bu," jawabku, sambil melirik teman sebangkuku. Rusman hanya mengangkat bahu dan tersenyum simpul. "Nama saya Ryan, Bu" aku berjalan ke depan kelas, berusaha sekuat tenaga untuk tidak gugup.
Bu Anita menatapku dengan penuh perhatian. "Saya lihat dari tadi kamu diskusi terus dengan temanmu. Coba jelaskan kembali apa yang sudah di paparkan oleh teman-temanmu yang di depan."
Kejujuran adalah segalanya dalam situasi seperti ini. "Saya tidak tahu, Bu," ucapku pelan. Berbohong hanya akan memperburuk keadaan. Aku memang belum sepenuhnya memahami materi yang tadi disampaikan. Lebih baik jujur daripada berpura-pura tahu.
"Kalau kamu tidak tahu, mengapa tidak bertanya saat materi sedang dijelaskan? Kita sedang dalam suasana belajar, bukan waktu untuk berdiskusi sendiri. Atau, kamu merasa lebih tahu dari saya?" tanya Bu Anita dengan nada yang lebih tegas.
Aku menunduk, "Tidak, Bu," jawabku pelan. Seandainya saja aku lebih fokus selama pelajaran.
"Kepada seluruh mahasiswa, saya ingin menekankan pentingnya sikap menghargai satu sama lain. Saat teman kalian sedang presentasi, berikan perhatian penuh. Hindari membuka diskusi baru di tempat duduk karena hal ini dapat mengganggu teman yang sedang berbicara. Mari kita ciptakan suasana belajar yang kondusif" nasihat Bu Anita pada semua mahasiswa yang ada di dalam kelas.
"Siapa nama kamu tadi?" tanyanya. Ah, sepertinya ingatan beliau sedang berlibur sebentar.
"Maaf, Bu, sepertinya saya kurang jelas tadi mengucapkan nama. Nama saya Ryan, Bu" jawabku.
"Saya sudah memperingatkanmu, Ryan. Jika kamu mengulangi perbuatanmu, kamu akan kehilangan kesempatan untuk belajar di kelas ini. Apakah kamu ingin itu terjadi?" ultimatum Bu Anita padaku.
"Maaf Bu" mengakui kesalahanku pada Bu Anita dengan meminta maaf agar terlihat lebih sopan pada dosen. "Tidak Bu" kataku untuk mengakhiri penderitaanku di depan kelas.
"Baiklah Ryan. Silakan duduk. Teman-teman yang lain, mari kita lanjutkan presentasinya" akhir Bu Anita menutup sesi ceramahnya.
Pandangan Rusman yang menahan tawa saat aku berjalan menuju tempat duduk membuatku kesal. Rasanya ingin sekali aku membalas perbuatannya yang sudah membuatku malu di depan kelas. Aku yakin, setelah kelas ini selesai, ia akan terus menggodaku.
Aku mengamati kelompok yang sedang presentasi dengan seksama. Degup jantungku masih terasa cepat. Ingatan akan kejadian tadi masih begitu jelas. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan harus mengulang mata kuliah ini. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku di sini.
*** To Be Continue ***