“Na, ayok bangun!! Hari ini kan kelulusan kamu masa belum bangun sih?! Terlihat seorang wanita paruh baya sedang menggoyangkan tubuh seorang putri yang masih setia menempel di kasurnya.
“Iya Bu, dikit lagi semalam begadang soalnya.” Sang putri yang dipanggi Na tadi akhirnya menjawab juga.
“Begadang kenapa sih? Gak bisa tidur lagi?”
“Iya Bu. Trus juga kan Na lagi absen sholat jadi yaudah bablas aja”
Setelahnya Nirina bangkit dari pembaringan menuju kamar mandi yang ada di bagian belakang rumahnya.
Nirina seorang gadis remaja bernama lengkap Nirina Alfatunnisa yang tahun ini akan lulus Sekolah Menengah Atas. Dia adalah anak tunggal dari pasangan Mawar dan Aditya. Bapaknya telah lama meninggal sejak Nirina masih duduk di kelas lima sekolah dasar.
Hari ini adalah hari terakhirnya di Sekolah. Setelah tiga tahun menempuh pendidikan di SMA akhirnya tiba saatnya dia akan meninggalkan sekolah itu. Usai melakukan ritual mandinya gadis itu bergegas berganti pakaian yang memang telah disediakan untuk wisuda kelulusan SMA.
Nirina berangkat ke sekolah menaiki angkot yang biasa dia dan teman-temannya gunakan menuju sekolahnya. Di Sekolah dia memiliki sahabat yang bernama Inara Sofia biasa dipanggil Sofie. Mereka bersahabat sejak masa orientasi siswa berlangsung. Demi melanjutkan hidup, ibunya berjualan gado-gado di depan rumah mereka.
Kala itu mereka berada di kelompok yang sama sehingga sering mengerjakan tugas bersama-sama. Hingga saat ini kebersamaan mereka masih terjalin hingga tiga tahun lamanya.
Tiba di Sekolah, Nirina kemudian menuju Aula tempat diadakannya wisuda sekaligus perpisahan hari ini. Di sana dia melihat Sofie sudah duduk di tempatnya, di sampingnya terlihat satu kursi kosong yang dia duga disediakan Sofie untuknya. Gegas langkahnya berayun dengan cepat kea rah Sofie.
“Sofie, tumben banget cepat datang”
“Eh, kamu udah sampai Na?”
“Belum, ini hanya khodamku saja”
“Huss, jangan ngawur kamu”
“Ya habisnya pertanyaannya kok gitu”
“Yasudah ayok duduk, aku udah ngambilin tempat buat kamu”
“Thanks Sofie”
Acara kemudian dimulai yang di awali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Himne Guru dan Mars SMA mereka. Acaranya berlangsung khidmat hingga tiba pada acara puncak yang menampilkan para siswa yang bernyanyi maupun menari.
Acara dinikmati bukan hanya bagi siswa kelas tiga akan tetapi seluruh penduduk sekolah SMA itu. Nirina dan Sofie memilih keluar Aula menemui kedua orangtua mereka untuk berfoto bersama. Setelahnya Mawar dan kedua orang tua Sofie memilih pulang duluan dan mengizinkan anak-anak mereka menikmati masa-masa terakhir mereka di Sekolah itu.
“Setelah ini kamu mau melanjutkan ke mana Na?” kini mereka berada di bawah pohon rindang dekat aula sambil menimati es teh yang ada di genggaman masing-masing.
“Sepertinya aku tidak akan melanjutkan Sof, ibu gak punya biaya”
“Yah sayang sekali Na, kamu kan mahasiswa berprestasi masa gak ada beasiswa sih” sofie menyayangkan keputusan sahabatnya itu. Dia tahu sahabatnya itu sangat ingin melanjutkan ke perguruan tinggi namun dia juga sangat tahu apa yang jadi kendala gadis itu.
“Iya, kan kamu tahu sendiri beasiswa yang selama ini jadi harapanku ternyata tidak meloloskanku”
“Trus rencana kamu setelah ini apa Na?”
“Hemm, sepertinya aku akan belajar lagi di Pesantren yang ada di kampong sebelah, di sana juga aku akan bantu-bantu di dapur Dalem. Jadi selalin belajar aku juga bisa dapat gaji dari bantu-bantu itu Sof”. Sofie yang mendengar penuturan temannya turut merasakan kesedihan sahabatnya. Rasanya ingin membantu namun dia sendiri juga masih berharap sama orangtua.
“Ya sudah semoga kita dikasih yang terbaik pada jalan kita masing-masing ya Na, jangan saling melupakan”.
Setelahnya obrolan mereka mengalir begitu saja. Mereka juga menyempatkan diri berfoto dengan teman-teman sekelasnya hingga sore hari mereka semua menuju rumah masing-masing.
*#*#*
Usai melaksanakan sholat Isya, Nirina dan ibunya memilih duduk-duduk di teras rumah mereka. Mereka mengobrol di temani dua gelas the hangat yang ada di hadapan masing-masing. Di meja yang menjadi perantara ibu dan anak itu juga tersedia beberapa kudapan demi menemani obrolan mereka malam ini.
“Na, kamu udah memutuskan untuk lanjut di mana?” ibunya memulai percakapan di malam itu.
“Na udah mutusin gak bakal lanjut sekolah Bu. Na mau masuk pesantren aja sekalian memperdalam ilmu agama”.
Gadis itu berkata penuh keyakinan. Dia berusaha menetralkan suaranya agar terlihat baik-baik saja. Semua orang juga tahu, Nirina sangat ingin melanjutkan cita-citanya untuk menjadi seorang perawat. Namun melihat kondisi sekarang dia merasa egois jika memaksakan diri.
Sang ibu yang berprofesi sebagai penjual gado-gado hanya mampu menghasilkan uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Selama ini Nirina sekolah hanya dengan mengandalkan beasiswanya. Namun tanpa sepengetahuannya ibunya sudah menyisihkan sedikit demi sedikit untuk kelanjutan pendidikannya.
“Loh kok gitu Na, ibu gak masalah kalo kamu mau lanjut, ibu juga punya tabungan Na”
“Gak Bu, Na gak mau ngerepotin ibu lagi. Nanti di sana Na juga bantu-bantu di Dalem jadi bisa dapat gaji dari situ. Gajinya akan Na tabung, Insya Allah suatu saat cukup buat lanjut kuliah.” Na berusaha meyakinkan sang ibu.
“Tapi Na ibu ingin kamu kuliah dan jadi orang yang berhasil Nak”
“Gak papa Bu, Insya Allah Nirina akan berusaha untuk bisa mewujudkan impian kita suatu hari nanti. Kali ini Na mohon restu ibu untuk membiarkanku belajar di Pesantren dulu”
“Hemm baikah kalo itu maumu Na” Ibunya tidak lagi membantah keputusan anaknya. Dia memberikan kemerdekaan penuh untuk sang putri memilih jalan hidupnya. Dia hanya bisa berdoa agar apapun yang putrinya pilih mampu mengantarkannya menjadi wanita yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Toh, belajar di Pesantren juga bukan sesuatu yang salah, mungkin saja inilah awal bagi Niirina untuk menggapai yang dia inginkan.
Melihat ibunya yang terdiam, Nirina merasa bersalah tidak menuruti keinginan sang ibu. “Bu, bukannya Na mau membangkang sama ibu ataupun tidak menghargai ibu, namun sudah lama Na tanamkan jika ingin kuliah Na harus bisa membayar sendiri. Na tidak ingin ibu lebih capek lagi, Na ingin ibu sehat Bu. Tabungannya biarlah dipakai pada saat yang benar-benar dibutuhkan Bu. Na Mohon doa ibu dalam perjalanan hidup aku”.
Mendengar penuturan Putrinya sang ibupun mengangguk. Dengan mata berkaca-kaca dia merengkuh tubuh sang putri. Dia tahu Nirina sengaja menunda mimpinya demi melihatnya tidak terlalu bersusah payah. Dalam hati dia berdoa semoga Allah selalu menyertai perjalanan anaknya.
*#*#*
Sebulan setelah kelulusan, tiba saatnya bagi Nirina untuk masuk pesantren. Di sana dia mendapatkan kamar khusus abdi dalem yang berada di bagian belakang Pesantren. Oleh karena Nirina bukan santri resmi jadi dia di tempatkan di asrama tersebut.
Nirina tidak masalah dia di tempatkan di mana, baginya asal masih neduh dan tidur itu sudah cukup. Di sana dia berkenalan dengan para keluarga dalem dan tukang bantu-bantunya.
Ada Kiayi Musaddiq sebagai kepala Pesantren, Nyai Isnaeni istri dari Kiayi, Gus Azmi dan istrinya Ning Salma. Sebenarnya Kiayi Musaddiq masih memiliki putra satu lagi namun hari ini tidak bisa ikut bergabung dalam sesi perkenalan itu dikarenakan masih berada di Mesir untuk menempuh pendidikan S2-nya.
Pada bagian urusan dapur ada Bu Sumi sebagai kepala dapur, teh Intan, teh Sari dan beberapa orang lainnya. Semua orang menyambut Nirina dengan baik.
“Semoga betah yah Mbak Nirina” Ucap nyai Isna seraya mengenggam tangannya.
“Insya Allah nyai, saya mohon bimbingannya. Terima kasih sudah mau menerima saya di sini”
“Sama-sama”.
Nirina kemudian menyapa satu per satu keluarga dalem. Ketika berhadapan dengan Gus Azmi Nirina sedikit segan karena sedari tadi putra pertama Kiyai Musaddiq itu memasang wajah dinginnya. Gus Azmi hanya tampak hangat kepada keluarganya.
Nirina kemudian di antar oleh Ning Salma menuju dapur untuk diperkenalkan pada member dapur.
“Assalamu alaikum Nirina, selamat bergabung di sini, semoga nyaman dan betah ya”
“Insya Allah Bu Sumi”. Setelahnya Nirina di antar ke kamarnya. Di sana dia sekamar dengan teh Sari. Di sebelah kamar mereka adalah kamar teh Intan dan teh Indri. Sesampainya di kamar mereka Nirina kemudian memasukkan bajunya ke lemari yang telah di sediakan.
Nirina menghela Nafas panjang sambil meletakkan bajunya ke dalam lemari. “Bismillah”.
Bersambung