Angin berhembus perlahan menerbangkan anak rambutnya yang tertutup hijab. Sesekali, ia menyesap kopi hitamnya perlahan sambil memandangi riuh jalanan yang tak ada hentinya, meskipun ditengah hujan Kembali, gadis itu menyesap kopi hitamnya sambil merapatkan jaket hitam yang ia kenakan. Hujan mulai turun. Dinginnya AC serta dinginnya hujan sukses membuat bibirnya sedikit bergetar. Sebenarnya, ia sudah terbiasa dengan hawa dingin, tapi kali ini terasa berbeda. Semua orang di kafe itu tengah bersenda gurau, tertawa, melemparkan lelucon satu sama lain. Sedangkan dia justru bergelut dan berdebat dengan otak, hati dan jiwanya. Ia sadar, perbedaan pandangan dari otak dan hatinya akan lebih sukar disatukan daripada dengan jiwanya yang tengah mengambang bimbang. Ia masih bisa menolak dan melawan pandangan orang lain. Tapi, ia tak bisa menolak dan melawan perdebatan dalam dirinya. Ia mulai menarik napas dalam. Menghentikan mereka memang tak semudah melerai pertengkaran antar-manusia. Lebih membutuhkan tenaga, tekad yang kuat, dan tidak boleh memihak salah satu diantara ketiganya. Tak terasa, hujan semakin deras. Orang-orang di dalam kafe juga terdengar semakin ramai karena tak mau kalah oleh suara hujan yang kencang namun menenangkan. Ia memandang ke sekitar kafe sekilas, berjaga-jaga apabila ada seseorang yang mengenalnya. Ia bersyukur, tak ada satupun orang yang ia kenal bertandang kemari. Dengan begitu, ia tak perlu berpura-pura seolah ia baik-baik saja di depan mereka. Ia menyesap sisa kopinya lalu berjalan keluar karena ia sudah mendapat apa yang ia butuhkan dan ia sudah memutuskan sesuatu yang telah ia perdebatkan selama 3 jam. Keluar dari zona aman.