Debur ombak yang bertengkar, membentuk irama sendu. Semilir angin, menggempas tubuh seorang wanita kepala tiga, yang sedang menimang senja. Ini adalah senja ke tiga puluh, setelah kepergian suami tercinta.
Raut yang dipaksakan rela masih tergambar jelas diwajahnya, air yang menggenang di matanya siap terjun kapan saja. Dia meraba bekas luka di pipi dan kening, mengaduh ketika tangannya menyentuh bibir yang masih membengkak. Luka itu adalah prasasti sang suami, yang diukir secara kejam ke sekujur tubuh sang istri. Betapa sakti hati perempuan, dia masih bisa menangisi kepergian seseorang yang telah banyak menyakiti. Ajaibnya segumpal cinta wanita, dia bisa menawarkan pahitnya samudra.
***
Sebulan yang lalu …
Para algojo yang disiapakan aparat pemerintah, sudah mendarat di tengah belantara hutan Sulawasi. Mereka mengenakan seragam lengkap dengan penutup wajah, serta senjata api yang siap untuk mengeksekusi.
Sesuai keputusan pengadilan terakhir, hari ini akan dilaksanakan hukuman mati, seorang kepala perampok yang paling ditakuti penjuru negeri. Sebuah helicopter mendarat di tengah kerumunan tim eksekusi yang sedang rapat kordinasi, dua orang pengawal membawa turun sosok yang ditutup kepalanya dengan kain hitam. Sembilan algojo bersenjata bersiaga di depan titik dimana sang narapidana berdiri.
“Saudara Andik, sebelum eksekusi mati dilaksanakan, adakah pesan terakhir yang ingin kau sampaikan,” kordinator tim eksekusi berdiri tepat di wajah Andik.
“Ada, Jendral,” Andik menjawabnya tanpa sedikitpun rasa gentar, meski dia sadar ini adalah detik-detik terakhir hidupnya.
“Silahkan katakan!”
“Saya ingin, pemerintah menjamin kehidupan anak dan istri saya, sampai anak saya sudah bisa bekerja.”
Jendral menimbang permintaan itu. “Baik, pemerintah siap menanggung biaya hidup anak istrimu, juga biaya sekolah anakmu sampai dia bisa bekerja.”
Di dalam penutup kepala, mata Andik menahan luka mengingat nasib anak dan istrinya sepeninggalnya, Andik juga mulai menyesali semua perbuatan yang menyeretnya sampai tengah belantara hutan ini, untuk menjalani eksekusi mati.
“Apa masih ada lagi, saudara Andik?”
“Tidak Jendral,” jawab Andik dengan suara yang dipaksa tetap tegas, meski hatinya luluh lantah
“Baiklah.” Tutup sang Jendaral.
Jendral lalu memberikan komando lewat isyarat kepada tim eksekusi. Sembilan algojo sudah pasang kuda-kuda, menggenggam senjata, mengarahkan monconya ke tubuh Andik, dan tinggal menunggu intruksi, untuk menarik platuknya.
***
Di dalam rumah yang terbuat dari anyaman bambu yang berdiri di tepian laut, seluruh tubuh istri Andika gemetar, jantungnya berdebar kencang, air matanya terus mengalir deras, menerima kenyataan bahwa hari ini suaminya akan dieksekusi mati.
Siapkah dia menyaksikan jasad Andika yang dibawa pulang sudah tak bernyawa, siapkah dirinya hidup tanpa Andika. Hanya ada pikiran buruk yang memenuhi ruang otaknya. Beberapa tetangga yang sudah hadir untuk bertakziah, mencoba membesarkan hatinya, namun sayang, kehilangan tetap hal yang menyakitkan.
Anak laki-laki Andika juga tidak kalah terpuruk, dia akan kehilangan ayah yang amat dia idolakan. Ayah yang pemberani, sangat kuat, dan tidak terkalahkan.
“Bagas harus kuat seperti ayah, masa anak laki-laki Andika cengeng gitu,” bujuk selah seorang tetangga yang bertakziah.
Bagas tidak sedikitpun mengindahkan bujukan itu, dia tetap menatap laut yang menyala keemasan, lewat lubang persegi di dinding bambu rumahnya yang menyerupai jandela.
Sayup-sayup terdengar suara ambulan, semua pelayat terjingkat, lalu keluar rumah, Bagas meloncat, secepat kilat berlari hendak mencegat ambulan itu. Semua orang gemetar ketika mobil ambulan sudah memasuki halaman.
Jerit tangisan para pelayat sudah tidak bisa ditahan, saat petugas ambulan membuka pitu, dan perlahan menurunkan jasad yang terbungkus kafan putih. Istri Andika langsung pingsan, melihat jenazah suaminya di masukan ke dalam rumahnya untuk disolatkan.
Para warga dibuat semakin tegang, melihat para gerombolan manusia kekar, tubuh penuh gambar, dan bertampang sangar datang. Grombolan itu semakin banyak semakin banyak, jika dihitung jumlah mereka mencapai ratusan. Mereka adalah anak buah Andika yang ingin ikut serta mengantarkan jenazah ketua mereka, untuk dimakamkan.
Setelah dishalatkan, jenazah Andika dipikul menuju kuburan, para warga dan kawanan perampok berebutan ingin ikut ambil bagian dalam memikul keranda. Sungguh ini adalah prosesi pemakaman teramai sepanjang sejarah desa ini.
Meskipun bagi banyak orang di negeri ini Andika adalah, biang keladi dari segala jenis perampokan, namun bagi sebagian kecil dia adalah pahlawan. Kepergian Andika
sangat menyakitkan bagi para warga dan anak buahnya, beberapa perampok yang berparas garang bahkan terlihat meneteskan air mata. Jika sudah seperti ini, mereka sama halnya dengan kita, sama-sama memiliki perasaan, sama-sama bisa merasakan perihnya kehilangan.
Matahari semakin tenggelam, saat jasad Andika memasuki liang lahat.
***