Alina seorang gadis dengan kebutuhan ekonomi yang pas-pasan. Hidup dengan kedua orang tua dan satu adik perempuannya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Paras cantik yang di miliki Alina membuat sedikit kemudahan dalam hidup nya setidak dalam hal mencari pekerjaan. Seperti sekarang ini iya bekerja di sebuah Cafe milik teman nya sediri yang bernama Lisna teman dari masa abu-abu hingga mereka kuliah saat ini.
Lisna adalah seorang putri dari pengusaha yang cukup diperhitungkan di kota ini. Tak hayal iya sudah menjadi pengusaha muda yang lumayan di perhitungkan.
"Hay Alina." Sapanya ketika melihat Alina yang sekarang melamun dengan tangan yang memangku wajah nya di meja dengan mata yang memandang ke arah luar.
"Hay." Sapanya lesu.
"Kau kenapa ??" Kata Lisna.
"Tidak apa-apa" Jawab nya enggan. Iya merasa tidak enak hati dengan Lisna. Sahabat nya itu sering sekali menjadi beban hidup nya untuk itu sekarang iya malu bercerita dengan Lisna karena sudah pasti dia adalah garda terdepan membatunya.
"Bohong, Cerita padaku sekarang." Kata nya memaksa. "Apa kau perlu uang ?? Berapa ?? katakan padaku ?" Kata nya dengan senyum di wajah nya.
"Tidak, Kali ini berhentilah mensubsidi uang mu untuk keluarga ku. Aku harus bayar dengan apa dengan ginjal ku ?"
"Ha ha ha ha " Kedua nya tertawa bersama.
"Kau ini lucu sekali sih." Kata nya tak henti tertawa." Lalu sekarang Apa ?? aku tak mu kau jadi males-malesan kerja seperti sekarang ini ??"
"Ahh, Maafkan aku Lis." Alina ingin berjak dari kursi tersebut namun di tahan oleh Lisna.
"Aku hanya bercanda." Tuturnya. "Kau mudah sekali tersinggungnya. Duduklah."
"Kali ini kau yang kenapa ??" Tanya Alina. Iya tau sekarang pasti perempuan itu juga memiliki masalah nya.
"Tentang Laki-laki lagi. Kali ini yang mana lagi ??" Tuduh Alina.
"Jasson." Ucap nya malas.
"Pengusaha itu. Kenapa ?? bukan kah kemaren kau bilang dia baik. Dia berbeda. Dia gagah dan Di...a"
"Hentikan Alina. Aku benci mendengar nya." Ucap nya marah muka nya begitu kesal iya sangat membenci penilaian nya pada Jasson kemaren. Nyata nya laki-laki itu begitu buruk dan menjijikan.
"Kau seperti nya patah hati sekali dengan nya." Tebak Alina.
"Bagaimana dia bermain dengan sekretaris nya itu di ruangan kerja nya. Mengingat itu rasa nya aku ingin sekali mencekik laki-laki itu."
"Apa kau sudah pernah tidur dengan nya." Tanya Alina.
"Tidak. sanggah Lisna."
"Aku tau kau berdusta." Alina memukul tangan lisna bertubi-tubi.
"Hey kau mau aku pecat. Hentikan, Ini sakit Alina."
Lisna dan Alina. Lisna adalah Playgirls sedari SMU bahkan iya kehilangan keperawanan nya sejak duduk di semester kedua kuliah dengan laki-laki yang bernama Arjuna. Alina tidak tau pasti mengapa mereka perpisah Lisna tidak pernah bercerita gamblang perihal itu pada Alina. Dan Alina bukan tipe sahabat pemaksa yang seoalah harus mengetahui semua yang terjadi pada sahabat nya itu. Bertolak belakang dengan Lisna. Alina malah tidak pernah berpacaran dengan seorang laki-laki manapun meskipun beberapa laki-laki berusaha mendekati nya karena wajah cantiknya meskipun tanpa polosen bedak di wajah nya. Kesibukan nya mencari uang dan bertahan hidup membuat nya seringkali memyingkirkan beberapa kepentingan nya untuk saat ini termasuk dalam masalah percintaan. Ardian adalah salah satu laki-laki yang Lisna kenalkan padanya seorang Fotografer dan Anak dari pengusaha berlian itu tak pernah lelah mengejar nya. Namun sering sekali Alina tolak dengan terang-terangan.
"Gimana cara nya aku mendepatkan uang 20 juta. "Tutur nya
Alina sedang memerlukan uang tersebut untuk pengobatan sang Ayah. Penyakit struk yang baru saja menyerang sang Ayah 2 hari ini membuat Ayah nya tak mampu untuk berjalan. Hingga iya memerlukan uang untuk terapi sang Ayah.
"Permisi Nona."
"Nona."
"Hallo"
"Iya Tuan." Lisna menyenggol Alina.
Alina sadar. Iya merasa begitu bersalah pada Lisna.
"Saya mau pesan American Ice Chocolate. Dua mba ?"
"Baik." Tutur Lisna sopan.
"Kau ini kenapa sih." Tanya pada Alina ketika pelanggan itu sudah berjalan meninggalkan mereka untuk duduk di sebuah kursi dekat dengan Kaca tersebut.
"Maafkan aku Lisna."
"Sudah ayolah bikin kan sekarang sebelum orang itu mengamuk. Seperti nya mereka orang penting. Muka laki-laki itu tidak asing untuk ku Alina."
"Kau selalu saja seperti itu jika melihat laki-laki ganteng."
"Dia ganteng ?? Tuben sekali kau memuji pria. Baik lah kali ini aku mengalah dia untuk mu saja." Lisna tersenyum.
"Berhentilah mengejek ku." Ketus Alina.
Alina mengantarkan pesanan kepada mereka. Namun Alina hanya menunduk tidak ingin bersitatap dengan laki-laki itu.
Delon Alatas Rumi. Dan sang Asisten Kevin Aliando. Siapapun yang tidak kenal dengan mereka di pelosok dunia ini jelas di pastikan iya adalah orang yang tak di perhitungkan oleh Dunia. Kasta dan kedudukan mereka jelas di bawah kedua pria ini. Itulah sorot mata Delon saat menatap perempuan itu. Melihat nya dengan santai memberikan minum pada Delon sudah jelas jika sang wanita ini berasal dari kasta terbawah dunia.
"Selamat menikmati." Alina membungkuk kan tubuh nya dengan sopan dengan senyum yang begitu indah.
"Cih." Delon memiringkan bibir nya. "Kalau kau tau aku bisa kejang-kejang kau ?"
"Kau mau aku memberitahunya." Ucap Kevin. Bos nya itu terlalu sensitif dan haus perlakuan istimewa nyata nya tidak semua orang memgetahui diri nya untuk itulah beberapa orang bahkan sangat biasa saja bertemu dengan nya apalagi tanpa bodygurd.
"Untuk apa lupakan saja. Kita nikamati saja minumannya. Jika tidak enak akan aku tutup Cafe ini" Ujar nya merasa kesal.
"Barang kali kau mau berkenalan. Dia cantik dan Imut."
"Uhuk.. Uhuk."
"Maafkan aku Tuan." Kevin mengambilkan tissu.
"Lain kali bicaralah dengan benar atau ku cekik lehermu." Delon merasa begitu kesal dengan Kevin saat ini pria itu kehilangan kendali dalam sikap nya.
"Maafkan saya tuan."
Sedang Lisna dan Alina dari tadi memperhatikan kedua laki-laki itu. Lisna begitu mengingat-ngingat namun sia-sia iya sedari tadi tidak bisa mengingat siapa sosok pria yang menurutnya tak asing itu.
"Kenapa sepi sekali ya Lis.? Cafe mu hari ini hanya dikunjungi 20 orang."
"Sepertinya ulah kau ? kau selalu saja menolak laki-laki yang menggoda mu dan bersikap begitu terang-terangan menolak nya hingga menyebabkan mereka enggan untuk kemari."
"Kau menyalahkan ku. Menyebalkan !!"
"Memang itu. Kau harus bertanggung jawab."
"Cih. Harga diriku tidak semurah American Ice Chocolate Lisna Rayahartati." Kesal Alina.
Selamat Membaca Reader Anaya Ini judul pertama ku. Semoga kalian senantiasa mengikuti Karya ku dan mensuportku.
Tangkyu loveyouall