Keheningan malam di apartemen lantai dua puluh dua terasa begitu menenangkan bagi Alya.
Jarum jam telah bergeser ke pukul delapan malam. Nanda sudah terlelap di kamarnya setelah seharian kelelahan mengikuti kompetisi robotika tingkat distrik.
Di area dapur bersih, Alya sedang berdiri membelakangi ruang tengah, menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi guratan kelopak bunga chamomile kering. Aroma menenangkan langsung menguar, memenuhi udara yang sejuk oleh embusan pendingin ruangan.
Selama satu bulan terakhir, ritme ini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang dinikmati Alya secara tidak sadar.
Batas kaku antara majikan dan pekerja paruh waktu perlahan mencair, bergeser menjadi zona nyaman yang hangat.
Raka tidak lagi menjadi sosok asing yang mengerikan. Pria berusia dua puluh enam tahun itu kini sering kali meluangkan waktu setelah pulang kantor untuk duduk di konter dapur, menyesap kopi atau teh buatan Alya, lalu mendengarkan gadis itu bercerita tentang aktivitas kampusnya.
Bagi Alya, hubungan ini terasa sangat pas—sebuah pertemanan dewasa yang tumbuh organik di antara aroma kafein dan tawa polos Nanda. Alya sama sekali tidak tahu bahwa di seberang samudra, takdirnya sedang dipertaruhkan.
Pintu ruang kerja Raka terbuka. Pria itu melangkah keluar dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku. Namun, langkah kakinya malam ini tidak se-mantap biasanya. Gurat wajahnya yang tegas tampak luar biasa tegang, dengan rahang yang mengancing rapat dan tatapan mata yang menyiratkan konflik batin yang teramat dahsyat.
Beberapa menit yang lalu, sebuah panggilan telepon internasional dari London telah meruntuhkan ketenangannya.
Suara bariton Aditya Permana, sang ayah, terngiang seperti vonis mutlak di kepalanya.
Ayahnya baru saja menyampaikan keputusan sepihak mengenai perjodohannya dengan Siska, putri dari Ferdiansyah, rekan bisnis terbesar keluarga mereka.
Dalam percakapan telepon itu, Raka tidak memberikan penolakan secara eksplisit.
Bukan karena ia menerima, melainkan karena ia menyadari realitas posisinya dengan sangat logis. Di usianya yang dua puluh enam tahun, posisinya sebagai direktur muda di Jakarta belumlah sepenuhnya absolut.
Seluruh aset operasional, saham utama, bahkan unit apartemen yang ia tinggali ini masih berada di bawah kendali hukum kepemilikan sang ayah.
Secara finansial dan struktural korporasi, sayapnya belum cukup kuat untuk mengepak sendiri jika ia memutuskan untuk memberontak secara frontal.
Di dunia bisnis mereka, pembangkangan yang terburu-buru tanpa fondasi yang kokoh sama saja dengan membunuh finansial, yang juga akan mengancam masa depan dan keamanan adiknya, Nanda.
Raka berjalan mendekati konter dapur, tempat Alya baru saja meletakkan cangkir teh chamomile hangat.
"Pak Raka? Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat sekali," tanyat Alya lembut, menyadari perubahan aura yang mendadak mendingin dari tubuh pria itu.
Raka menatap cangkir teh di hadapannya, lalu perlahan menatap manik mata Alya yang bening, penuh ketulusan tanpa kepura-puraan.
Dada Raka bergemuruh oleh rasa sesak yang luar biasa emosional. Di dalam hatinya, ia menolak keras perjodohan politik tersebut. Ia tidak menginginkan Siska, ataupun wanita mana pun yang disodorkan sebagai alat transaksi saham.
Di dalam ruang apartemen ini, bersama kesederhanaan Alya dan teh hangat buatannya, Raka baru saja menemukan definisi rumah yang sesungguhnya. Namun, dinding realitas kini berdiri tegak di hadapannya.
"Saya baik-baik saja. Hanya sedikit penat dengan urusan restrukturisasi di kantor," jawab Raka, berbohong demi menjaga ketenangan Alya.
Suaranya terdengar lebih berat dan parau dari biasanya.
Pria itu lantas menarik kursi bar dan duduk, tangannya memegang cangkir keramik tersebut, mencari kehangatan yang bisa meredakan badai di kepalanya.
Alya tersenyum kecil, mengangguk maklum. Sebagai mahasiswa yang biasa melihat pasien hewan yang stres, ia tahu kapan seseorang membutuhkan ruang dan kapan mereka membutuhkan pengalih perhatian.
Alya mengambil posisi berdiri di seberang konter, melipat tangannya dengan santai di atas meja marmer.
"Bapak terlalu banyak bekerja. Kadang, otak kita itu seperti sirkuit Lego milik Nanda. Jika dipaksa dipasang bagian yang rumit terus-menerus tanpa jeda, mereka bisa patah," ujar Alya dengan nada humor yang ringan, berusaha mencairkan ketegangan.
"Hari ini di kampus, ada seekor kucing liar yang masuk ke ruang anatomi saat praktikum. Dia melompat ke atas meja Profesor Gunawan dan menjatuhkan semua berkas ujian tengah semester. Anda harus melihat wajah Profesor, Pak. Beliau yang biasanya berwibawa langsung panik mengejar kucing itu dengan sapu."
Mendengar cerita Alya, sebuah senyuman tipis terbit di sudut bibir Raka. Sentuhan humor yang sederhana dan membumi itu selalu berhasil menarik Raka keluar dari kubangan stres dunia korporatnya. Namun, malam ini, senyuman itu terasa pahit di dadanya. Raka menatap cara Alya berbicara—bagaimana matanya berbinar, bagaimana tangannya bergerak membentuk ekspresi yang hidup.
Gadis ini tidak tahu apa-apa. Alya masih mengira bahwa hubungan mereka yang perlahan bergeser menjadi teman ngobrol yang nyaman ini adalah sesuatu yang aman.
Alya tidak tahu bahwa sebuah badai besar bernama status sosial dan ambisi orang tua sedang bergerak dari London untuk menghancurkan ruang kecil ini.
"Alya," panggil Raka pelan, memotong cerita gadis itu.
"Ya, Pak?" Alya mengerutkan dahi tipisnya, menangkap nada suara Raka yang sarat akan emosi yang tertahan.
Raka menatap cangkir tehnya lama, sebelum kembali menatap Alya dengan pandangan yang dalam, seolah sedang merekam setiap detail wajah gadis itu ke dalam ingatannya.
"Jika suatu saat... dunia di luar sana menuntut sesuatu yang tidak masuk akal dari kita, apakah kamu akan tetap memilih untuk bersikap rasional?"
Alya tertegun. Pertanyaan Raka terdengar begitu filosofis dan tidak biasa. Namun, sebagai seorang gadis yang sudah kenyang ditempa oleh pahitnya kemiskinan dan kehilangan orang tua, Alya menjawab dengan kedewasaan yang tenang.
"Hidup saya dari dulu digerakkan oleh rasionalitas, Pak Raka. Orang miskin seperti saya tidak punya kemewahan untuk hidup berdasarkan impulsif emosi atau drama. Jika kenyataan menuntut saya untuk mundur atau bertahan, saya akan menghitung mana yang paling logis untuk masa depan saya dan kuliah saya," tutur Alya mantap, meski ada sepercik rasa heran di hatinya.
Jawaban Alya yang sangat realistis itu menghantam d**a Raka seperti godam tak kasat mata.
Gadis itu benar. Alya adalah sosok yang logis. Dan justru karena itulah, Raka tahu ia tidak boleh bertindak bodoh sekarang.
Raka harus mengalah sementara dalam permainan orang tuanya. Ia harus membiarkan perjodohan ini berjalan di permukaan tanpa persetujuan eksplisit dari hatinya, sembari ia diam-diam membangun kekuatannya sendiri di dalam struktur perusahaan.
Raka perlu mengamankan sayapnya hingga cukup kuat untuk memutus tali kendali Aditya Permana secara mutlak.
"Kamu benar. Menjadi rasional adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup," ucap Raka dengan nada suara yang kembali mendingin, membentengi perasaannya sendiri. Pria itu menyesap teh chamomile-nya hingga tandas, lalu berdiri dari kursinya.
"Terima kasih untuk tehnya, Alya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Sebaiknya kamu bersiap untuk pulang."
"Baik, Pak Raka. Selamat istirahat," jawab Alya, segera merapikan tas ranselnya.
Saat Alya berjalan menuju lobi lift untuk pulang, Raka berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap bayangan gadis itu yang perlahan menghilang di balik pintu lift.
Di dalam keheningan apartemen yang kembali mencengkam, Raka mengepalkan tinjunya erat-erat di dalam saku celana. Pengorbanan emosional ini baru saja dimulai, dan ia harus memastikan bahwa ketika saatnya tiba, ia memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi apa yang berharga baginya—termasuk gadis sederhana yang baru saja melangkah keluar dari pintunya.