Senyuman yang awalnya begitu lebar karena melihat kedatangan sang Papi, lenyap begitu saja melihat dua orang yang tidak asing di matanya serta satu orang lainnya yang masih usia belia memasuki ruangannya. Otak cantiknya pun masih mencerna situasi yang terjadi setelah sang Papi menjelaskan tadi.
“Gue—gue—” Ralph terasa keluh untuk menjelaskan bahkan harus berulang kali menelan ludahnya karena gugup.
“PERGI!” jerit Ralin yang tak mau sakit hati lagi.
Mores segera memeluk putrinya itu supaya tenang. Terlihat sekali jika hati gadis itu masih menyimpan luka untuk laki-laki yang pernah menyakitinya sehingga saat bertemu reaksinya seperti ini.
“Ralin, tenang, oke?”
Wajah Ralin beralih menatap Papinya penuh kecewa, “Kenapa Papi bawa dia? Tolong bawa dia pergi, Pi ...”
“Ralin gak boleh gitu s