Seorang gadis bernama Dewi shinta, berusia tujuh belas taun yang kini tengah duduk dibangku kelas dua SMA, nampak cemas setelah dia melirik jam yang melekat pada pergelangan tangannya. Ya sekarang menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit tapi dia masih berada di perjalanan menuju sekolah.
"Duh bang bentar lagi udah mau bel nih" Kata dia kepada seorang lelaki berusia dua puluh dua taun yang duduk di sebelahnya, namanya Tito.
"Iya shin sabar ini lagi macet,kayaknya ada pohon tumbang deh di depan gegara ujan kemarin" Katanya kepada adik satu-satunya itu.
Sudah pasti telat lagi ini mah, mana belum ngerjain PR lagi, Batin shinta seraya melirik kanan kiri.
Setelah lima belas menit terjebak kemacetan akhirnya shinta sampai juga di depan sekolah, ia buru-buru keluar dari mobil dan berlari menuju sekolah.
Disana dia melihat beberapa siswa-siswi yang kelihatannya telat juga masuk sekolah. Setidaknya shinta tidak sendirian, tapi banyak teman juga yang telat.
"Haduh kamu lagi kamu lagi yang telat" Kata pak Surya guru BP di sekolah shinta.
"Iya Pak maaf, tadi macet di jalan ada pohon tumbang" Jawab shinta seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Alasan, sekarang kamu gabung sama temen-temen yang lain lari lapangan sebanyak 20 kali" Kata pak surya.
Shinta menaruh tasnya dipinggir lapangan lalu ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain.
"Kalo gini tiap hari gue gak usah susah-susah buat diet" Kata shinta berdecak kesal.
Saat bel istirahat pun tiba, shinta yang moodnya sudah hancur daritadi pagi meletakkan kepalanya di atas meja lalu memejamkan matanya.
"Shin kantin yuk" Kata via sahabat shinta sekaligus teman sebangkunya. Mereka sudah bersahabat sejak masih dibangku SMP. Shinta yang memang sudah malas untuk ngapa-ngapain hanya membuka matanya sebentar dan melihat sahabatnya yang kini ada di hadapannya, bukannya beranjak dia malah menutup matanya kembali.
"Enggak vi males gue" Katanya dengan mata terpejam.
"ih ayok shin, masa lu tega sih ngebiarin gue sendirian ke kantin"
"Sama Reni kan bisa" Jawab shinta lalu merubah posisinya menghadap ke tembok.
"Gak mau, shinta ih, pokoknya ayok. Entar gue bilangin ke mama lu nih kalo lu gak mau gue ajak makan, entar kalo maagh lu kambuh gimana" Kata via.
shinta mengangkat kepalanya, lalu menatap via yang saat ini tengah merengek seperti anak kecil.
"Yaudah ayok" Kata shinta, via tersenyum sumringah lalu menarik tangan shinta.
Di kantin dia melihat sudah banyak sekali zombie-zombie yang tengah kelaparan.
"Lu duduk sini aja ya, gue pesenin takutnya nanti ada yang nempatin" Kata via kepada shinta, shinta hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
Shinta melirik kanan kiri, semuanya terlihat seperti hari biasanya, tidak ada yang berubah dan tidak ada yang spesial untuk hari ini.
Dia menghela nafas panjang ketika melihat tiga gadis yang berpenampilan agak seksi tengah menuju ke arahnya, Ya mereka adalah kakak kelas yang terkenal suka membully adek kelas yang lemah. Mereka dikenal dengan nama geng kecentil, sesuai dengan nama gengnya mereka memang sangat lah centil dan genit.
"Halo shinta" Sapa amel ketua geng dengan senyum yang sedikit mengejek, shinta hanya melirik sebentar lalu mengalihkan pandangannya lagi ke depan.Shinta terlihat tidak takut kepada mereka dan karena itu lah yang membuat amel dan kedua temannya ingin sekali memberi shinta pelajaran.
"Hei gue ngomong sama lu" Kata amel dengan nada yang sedikit ditinggikan, namun lagi-lagi shinta tidak menghiraukannya.
Beberapa saat kemudian via datang membawa dua piring nasi goreng dan juga dua gelas es jeruk, sama halnya dengan shinta, via juga hanya melirik amel sebentar lalu mengalihkan pandangannya kepada shinta.
"Yuk makan shin" Kata via, shinta hanya mengangguk lalu mulai memakan nasi gorengnya.
"Tapi kok tiba-tiba hawanya jadi panas ya shin" Kata via sambil melirik amel sebentar dan mengibas-ngibaskan tangannya, ya saat ini via tengah menyindir amel yang duduk di samping shinta. Shinta hanya senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya itu.
"Ada setan kali ya shin, mangkanya jadi panas gini" Kata via, amel yang mendengar itu seketika wajahnya memerah menahan amarah.
"Maksud lu gue setan gitu" Kata amel sambil menggebrak meja yang membuat mereka berlima menjadi pusat perhatian satu kantin.
"Lu ya makin hari makin kurang ajar sama kakak kelas" Saut putri temannya amel, mendengar itu shinta langsung berdiri dan menatap tajam putri.
"Kak kalo lu mau dihargai sama orang lain seharusnya lu juga bisa menghargai orang lain, oh iya dan satu lagi kalian itu kakak kelas yang harus ngasih contoh baik kepada kita adek kelas. Kalo lu gini, kita juga bisa" Jawab shinta lalu mengajak via pergi dari kantin, namun baru beberapa langkah amel menarik pundak shinta lalu menamparnya. Shinta memegang pipinya yang nampak merah itu, emosinya sudah meluap dan tidak bisa ditahan lagi, shinta menampar balik amel. Amel yang tidak Terima pun menjambak rambut shinta sehingga terjadilah perkelahian antara shinta dan amel, mereka berdua sama-sama menjambak rambut satu sama lain dan saling mencaci maki.
"Kalian lagi" Teriak pak surya, amel dan shinta segera menghentikan perkelahian karena ada pak surya yang sekarang menatap tajam mereka berdua.
"Kalian ikut bapak ke ruang BP! "
Alhasil shinta dan amel mendapatkan hukuman membersihkan semua toilet di sekolah, entah itu toilet guru, toilet cewe atau cowok.
"Gara-gara lu" Kata amel memandang shinta sinis.
"Ya gara-gara lu lah, kan lu yang mulai duluan" Jawab shinta tak kalah sinis.
"Apa kalian mau berantem lagi, mau bapak tambah hukumannya" Kata pak surya yang ada dibelakang mereka. Shinta dan amel hanya terdiam lalu mulai membersihkan toilet.
"Udah nih bagian lu, gue mau cabut" Kata amel.
"Eh belum selesai ya, jangan pergi lu"
"Bodoamat" Jawab amel lalu pergi begitu saja meninggalkan shinta sendiri di toilet cowok, shinta yang melihat itu hanya berdecak kesal.
"Ngidam apa sih emaknya dulu bisa punya anak kek gitu" Kata shinta nenggerutu.
Saat membersihkan salah satu bilik di toilet, Tiba-tiba ada yang mengunci pintunya dari luar
"Eh buka" Kata shinta sambil menggedor-gedor pintu.
"Haha rasain lu, siapa suruh cari gara-gara sama gue" Kata seseorang dibalik sana, shinta tau suara siapa itu.
"Amel lu jangan main-main ya, gak lucu tau nggak" Jawab shinta dengan nada yang kesal, namun tidak ada sautan dari amel.
"Siapapun tolong buka pintunya" Teriak shinta tapi tidak ada satu orang pun yang mendengar. Shinta terdiam sebentar memikirkan cara untuk keluar dari toilet ini.
Akhirnya shinta pun memilih untuk memanjat namun setelah di atas dia tidak tau bagaimana caranya untuk turun, shinta pun meloncat tapi sialnya kakinya tergelincir hingga dia jatuh dan lututnya berdarah.
Seketika badannya lemas saat melihat darah yang mengalir di lututnya karena dari kecil shinta sudah phobia terhadap darah.
"Lu ngapain di sini" Shinta menoleh ke sumber suara dan melihat ada seorang cowok yang tingginya sekitar seratus delapan puluh cm, alisnya tebal dan kalo boleh jujur dia sangat ganteng.
"To tolong" Belum sempat melanjutkan perkataannya, shinta pun pingsan.